Anekdot Aplikasi BKD-LKD

0
199
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Artikel ini terdiri dari dua catatan anekdot pribadi. Maaf, saya awali dulu dengan anekdot di unit kerja saya. Kemudian, saya paparkan anekdot kedua tentang aplikasi BKD-LKD. Aplikasi baru LKD dan BKD sertifikasi dosen. LKD laporan Kinerja, BKD, laporan Beban Kinerja Dosen dalam rencana ke depan.

Saya mulai anekdot yang pertama. Ada paduan atau sinergi antara generasi X dan generasi milenial. Antara generasi X (saya, mungkin generasi baby boomer) dan generasi milenial (mahasiswi magang) di ruang kerja saya. Ini gambaran gabungan antara generasi X dan milenial.

Di ruang unit kerja saya, ada beberapa program. Salah satunya program sertifikasi kompetensi Bahasa Inggris. Ini wajib bagi semua mahasiswa. Jika mahasiswa belum memprogram, mereka tidak bisa memprogram skripsi. Intinya, tes kemampuan ini salah satu syarat menulis skripsi.

Pada tahun lalu, program ini diikuti hampir seribuan mahasiswa. Kelasnya dibagi menajdi 25 kelas. Masing-masing kelas berisi 30 mahasiswa. Ini agar mereka duduknya berjarak. Mereka tidak bisa saling mencontoh. Dengan 25 kelas, per kelasnya dijaga 2 orang pengawas. Itu sebabnya, saat itu butuh 25 ruangan kelas. Diotak-atik, akhirnya membutuhkan 20 ruangan dengan dua shift. Dua hari. Saat itu butuh minimal 30 orang pengawas satu ruangan dua orang pengawas. Dengan model jadwal horizontal, paralel. Karena dua shift, akhirnya butuh 30 orang. Ini dikerjakan hari libur Sabtu-Minggu.

Dalam Kaizen, perbaikan (improvement) itu berasal dari masalah (problem). Masalahnya, tidak sekadar cari tenaga SDM saja yang programnya hari Sabtu dan minggu. Persoalannya juga banyaknya ruangan, karena masih banyak unit lain yang membutuhkan ruangan pada saat yang sama. Tentunya, ini juga membutuhkan sumberdaya termasuk biaya.

Berawal dari program tersebut, maka unit saya mencarikan solusi. Yang menarik di sini, paduan generasi X dan generasi milenial. Saya berdiskusi terus secara intens dengan mahasiswi magang, generasi milenial ini. Bagaimana mempermudah program termasuk efisiensi. Misalnya, mengurangi kebutuhan tenaga pengawas atau sumber daya manusia. Hari libur Sabtu Minggu adalah hari libur keluarga, sehingga mencari tenaga tidak mudah.

Dari diskusi intens itu, akhirnya bisa hanya butuh 4 ruangan. Jadi, dibutuhkan 8 orang, setiap ruangan 2 orang. Terjadilah efisiensi yang sangat tinggi. Dari kebutuhan 30 orang tenaga, menjadi hanya 8 orang tenaga. Efisiensi 22 orang tenaga. Di samping itu, kita efisiensi ruangan. Tahun lalu, dibutuhkan 20 ruangan, tahun ini hanya 4 ruangan. Berarti sudah efisiensi sangat signifikan, yaitu 16 ruangan. Dengan model jadwal vertikal, ber-shift.

Dari sini, generasi X, memiliki ide-ide strategi. Adapun, generasi milenial, menangkapnya dengan cepat. Generasi milenial membuat program dengan kemampuan teknologinya. Jadilah, program paduan gagasan generasi X dan generasi milenial. Hitungan-hitungan format efisiensi dalam program di komputer rata-rata butuh 3o menitan. Ada beberapa simulasi program alternatif efisisensinya.

Sekarang anekdot kedua. Ini khusus semua hanya generasi X atau baby boomer juga. Jujur saja, generasi X cenderung lamban adaptasi dengan teknologi. Namun, ide-idenya sangat tinggi jika diimpelentasikan dengan teknologi. Tentunya, generasi milenial. Misalnya saja, generasi X tidak cepat beradaptasi dengan teknologi. Baru-baru ini, program aplikasi sertifikasi dosen menggunakan aplikasi baru. Laporan Kinerja Dosen (LKD) dan rencana Beban Kinerja Dosen (BKD), diberikan aplikasi baru.

Dalam proses pengisisan ini, banyak yang pelepotan. Ini termasuk saya sendiri. Ini juga terjadi di perguruan tinggi yang lain. Malam-malam saya dapat telepon dari seorang dosen di universitas di Jember. Bahkan subuh tadi, saat saya menulis artikel ini. Dia menelepon tentang bagaimana rumitnya mengisi LKD dan BKD dalam aplikasi baru itu. Yang paling akhir juga diceritakan oleh salah satu assesor saya. Bahwa beliau pun juga merasakan hal yang sama saat pengisisan LKD dan BKD. Saya sendiri pun sampai hari H-nya masih perbaikan dan revisi isian.

Peristiwa ini juga terjadi di kampus saya, hampir semua teman dalam grup WA, berdiskusi ramai tentang cara isian aplikasi tersebut. Yang paling heboh justru saya sendiri, di dalam WA group saya. Ini karena saya yang paling awal mencoba.

Adapun teman-teman lain, banyak yang belum mencobanya saat itu. Tetapi, minggu berikutnya, semua kawan sudah mencoba. Hebohnya hampir sama dengan kehebohan saya. Itulah generasi X atau baby boomer. Di mana saja, mereka ini lamban adaptasi aplikasi teknologi baru.

Namun, berdasarkan catatan anekdot di unit kerja saya, ada sinergi. Pertama, kekayaan pengalaman dan ide-ide generasi X dan milenial. Kedua, kecepatan adaptasi generasi milenial. Jika dipadukan, maka jadilah efisiensi yang begitu super dignifikan.

Intinya, ide apa pun di dunia pendidikan, termausk kementrian baru oleh Pak Nadiem makarim, boleh dan bagus. Namun, sinergi generasi sebelumnya akan idea dipadukan dengan ide-ide baru dan kecepatan generasi milenial. Jajaran Kemendikbudnas, baik yang sebelumnya maupun yang jauh ke depan, bisa disinergikan.  (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here