Bahasa High Context

0
886
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Bahasa High Context (BHC) sering dipakai dalam ranah politik. Bahasa ini sangat relevan jika dipakai untuk membahas hal sensitif. BHC adalah bahasa yang sangat erat dengan budaya. BHC juga sangat erat dengan nilai sosial. Bahkan, BHC sangat erat juga dengan kebiasaan atau tradisi. Intinya, BHC itu memiliki makna terkait dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya (Hall, E, 1976 dan Gumperz et al, 2008).

Beberapa tahun lalu, kita pernah membaca dan mendengar kata-kata ?Seperti Gasing.? Kita juga pernah membaca/ mendengar kata-kata ?Seperti Tarian Poco-poco.? Dua frasa tersebut, waktu itu merupakan refleksi suasana persaingan politik. Satu kubu mengomentari kondisi negeri tidak maju-maju: stagnan. Itu menurut penilaiannya. Kondisi itu, kemudian diibaratkan  “Seperti tarian poco-poco.”

Kita tahu tarian Poco-poco itu gerakannya maju mundur. Ini dipakai mengkritik saat itu kondisi negeri dianggap sama: tidak berubah. Tidak ada perkembangan. Kemudian, pihak yang dikritik membalas. Dia mengatakan,  ” Seperti Gasing”. Gasing adalah sejenis mainan anak-anak. Caranya, menggulung tali ke gasing. Kemudian, dilepas dengan menarik talinya dengan cepat. Maka, terjadilah gasing yang berputar-putar. Ini menggambarkan sebuah kebingungan.

Gasing yang berputar-putar dipakai menjelaskan tentang seseorang menawarkan produk gas dan minyak. Waktu itu, penawaran gas ke beberapa Negara. Namun, belum berhasil karena belum ada yang membelinya. Intinya, itu peristiwa ketika orang yang mengkiritik seperti Poco poco, saat berkuasa sebelumnya. Ganti kena balasan kritik  “Seperti Gasing.”

Nah, itulah BHC. Termasuk yang baca artikel saya ini bisa juga bingung. Ini khusus bagi yang tidak mengikuti suasana politik. Utamanya selama 15 tahun terakhir. BHC tentang  ” Tarian Poco-poco dan Gasing” itu sangat erat dengan politik dan ekonomi. Cara memahaminya harus dengan pengetahuan sosial politik. Agar dapat memahami BHC tersebut, kita harus selalu mengikuti perkembangan politik dan sosial ekonomi negeri.

Perkembangan bahasa sangat pesat saat ini. Banyak bahasa prokem. Banyak istilah. Banyak kata dan frasa bermunculan. Lebih dahsyat lagi, ketika menjelang Pilpres. Ada “Cebong ada Kampret.” Kalau dua kata itu, hampir semua rakyat paham. Itu sebabnya, BHC erat dengan kondisi negeri. BHC bagi orang asing akan sulit memahaminya. Orang yang tinggal di negeri lain akan merasa sulit memahaminya.

BHC sangat kental dengan kondisi masyarakat. BHC itu sudah dipelajari dalam ilmu bahasa: Linguistik. Ada dalam cabang ilmu Sociolinguistics. Bagi yang belajar ilmu ini, mereka paham apa itu BHC. Fungsinya, salah satunya, adalah cocok untuk menyampaikan informasi yang sensitif.

Ada konteks yang lebih kecil lagi. Kata atau frasa, bahkan kalimat, sangat erat dengan hubungan batin seseorang. Kata dan kalimat bisa bermakna jika ada hubungan batin. Hubungan ini akan baik jika dalam satu setting (tempat) yang sama. Tempat itu alami (sharing) bersama. Pesan atau maksud dapat disampaikan melalui BHC. Konteks psikologis sangat berperan dalam memahaminya.

Suatu hari, seorang Guru Besar Linguistics, menjelaskan contoh BHC ini di kelas. Dia bercerita tentang seorang Ibu dan anaknya. Ibu berada di lantai atas (rumahnya= baca setting). Adapun, anaknya, bernama Anton, di lantai bawah. Ibu berkata ?Anton, teleponnya berdering!? Lalu, anaknya, yang bernama Anton, menjawab,?Lagi Be?ol, Ma..!? Kemudian, Ibunya turun dan mengangkat telepon.

Cerita tersebut, menggambarkan bahwa. Kalimat ?Teleponnya berdering,? tidak ada hubungannya dengan kata-kata, ?Lagi Be?ol,? Namun, dalam konteks tersebut, Si Ibu dan Si Anak saling memahami maknanya: Nyambung. Telepon berdering itu maksudnya, Ibu memerintah anaknya untuk mengangkat telepon. Namun, anaknya, Si Anton, menjawab tidak bisa. Dia mengucapkan ujaran  “Lagi Beol Ma “.

Dari sini. Bahasa itu tidak hanya erat dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Bahasa juga berhubungan dengan batin antarpenggunanya. Bahasa High Context (BHC) sangat unik. Namun, akan berbahaya jika pembaca tidak paham kalau memahaminya secara harafiah. Jika itu terjadi, maka banyak yang salah persepsi (misperception). (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here