Belajarlah dari Negeri Gajah Putih

0
1332
Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum
Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Ketika ramai impor beras di media sosial dan berita berita surat kabar, saya jadi ingat masa silam ketika berkunjung ke negeri Gajah Putih: Thailand. Tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan negeri sendiri, tatapi alangkah baiknya jika kita bisa belajar dari negeri yang memiliki komitmen tinggi ditinjau dari segi sifat agrarisnya dibanding negeri kita.

Pada 2009, kami Tim Dosen STIE Perbanas Surabaya, mengunjungi Universitas Rajabaht Bangkok. Ketika tiba di universitas terebut, tim rombongan diajak keliling kampus yang luas. Gedung-gedungnya besar dan berada di tempat yang berbeda lahannya. Yang mengesankan saat itu, adalah ilmu pertanian yang digalakkan dan dikembangkan di universitas itu.

Tim rombongan juga diajak ke area perah susu kambing khusus. Dalam area kampus, dilengkapi juga area tempat peliharaan kambing yang diteliti dan dikembangbiakkan. Mereka mengembangkan perah susu kambing.

Setelah itu, tim rombongan diajak mengunjungi industri makan dari beras yang dinamakan nasi Briyani yang dikemas dalam kertas.

Nasi Briyani, sering kita temui ketika dihidangkan di pesawat atau dijual di dalamnya, ketika kita perjalanan pulang dari Thailand. Di samping itu, universitas Rajabaht juga memproduksi air mineral botolan. Namanya juga diberi nama universitas tersebut dalam kemasannya.

Pada siang itu, tim rombongan diberi hidangan makanan nasi Briyani dengan minuman air mineral produksi mereka.

Dalam sebuah univeritas, lengkap ada binatang paiaran yang diteliti dan dikembangbiakkan. Ada pula produksi makanan nasih dan minuman kemasan. Kesemuanya dilakukan di dalam kampus.

Jadi, pertanian memang digalakkan sejak puluhan tahun lalu. Ilmu pertanian dan perkebunan tidak hanya dikelolah secara tradisional para petani desa, melainkan juga dikembangkan terus di perguruan tinggi.

Malam harinya, tim rombongan diajak makan malam di sebuah restoran. Malam itulah, saya sempatkan berdiskusi informal dengan perwakilan hubungan internasional Universitas Rajabaht, yaitu Prof. Boriboon Srimachai, Ph.D. Teman satu ini sampai sekarang masih menajalin hubungan baik lewat email maupun media sosial lain. Kami masih saling kontak.

Pada acara makan malam itu, saya ngobrol banyak dengan teman satu ini. Dia cerita bahwa, pertanian memang digalakkan. Bahkan eskpor tertinggi negeri Gajah itu menurut dia sat itu, adalah padi dan tanaman hasil pertanian lainnya. Lebih mencengangkan, dia cerita bahwa Thailand juga menekspor mobil. Banyak mobil Jepang yang diproduksi di negeri Gajah Putih itu sebagai finished goods.

Nilai uangnya justru paling tinggi ekspor mobil saat itu. Jadi, negeri Gajah Putih ini, meski memiliki industri mobil, mereka sejak awal tetap melindungi sumber alam dalam hal pertanian. Untuk lebih lengkapnya, esok harinya, tim rombognan dibawa ke tempat rekreasi. Yang mencengakan adalah semua sungai di Thailand itu diperdalam dan diperlebar sejak lama.

Muara sungainya dari laut sampai memanjang di wilayah pertanian. Air irigasinya mengalir sepanjang tahun. Itu sebabnya, tidak heran kalau negeri ini ekpor beras, termasuk ke Indonesia, negeri tercinta ini.

Padahal, kita negerinnya lebih luas dan lahannya lebih luas juga. Namun, soal pertanian, di negeri gajah sudah komitmen sejak tahun 1960-an. Komitment itu diikuti dengan ilmu teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi secara bersamaan.

Intinya, negeri Gajah Putih, yang tak pernah dijajah oleh bangsa mana pun itu, benar-benar kuat memegang budayanya, sebagai negeri agraris. Namun, mereka tetap terbuka, dengan kenyataannya saat itu, mengekpor mobil yang diproduksi di negeri tersebut.

Tidak tanggung dan tidak setengah-setengah. Sungainya juga menjadi wisata sepanjang aliran sungai. Tidak heran, kita bisa menikmati wisata pasar apungnya yang begitu ramai.

Sebaliknya, di negeri ini sungainya justru jadi malapetaka. Ketika hujan menjadi sumber kebanjiran. Ketika kering, lahan pertanian kekurangan air. Irigasi dan sungai-sungai di negeri kita sejak merdeka kurang diarahkan untuk kemakmuran bangsa seperti di Thailand. Sekarang kita mengimpor beras. Negeri Kepalang tanggung. Lupa kondisi alamnya, lupa cara memprioritaskannya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here