Butuh Semangat Keladi

0
666
Dr. Djuwari, M.Hum
Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Di ASEAN, khususnya, diawali dengan terpilihnya Presiden Rodrigo Duterte yang sudah berkepala tujuh usianya. Meskipun di Amerika Serikat, ada Bernie Sanders, yang berkepala tujuh tidak mampu memenangkan proses pilihan presiden di Amerika, kita justru dikejutkan dengan munculnya Mr. Mahathir Mohamad yang berkepala Sembilan usianya.

Ini membuktikan bahwa hidup itu yang penting semangat dan idealisme, bukan fisik dan umurnya. Dari dua fenomena di Filipina dan Malaysia itu, ada banyak pelajaran untuk semua bangsa khususnya di negeri ini. Bahwa, kita semua masih memiliki waktu yang banyak untuk tetap berprestasi.

Setiap orang memiliki hak untuk pantang mundur. Apapun yang kita cita-citakan, kita harus tetap maju dengan semangat dan berani. Namun, itu semua juga masih membutuhkan kerelaan generasi tua untuk memberikan kesempatan yang lebih muda. Yang muda diberi semangat. Yang tua tetap bersemangat, sampai kapan pun. Ada sinergi yang utuh. Yang tua menuntun yang muda. Yang muda diberi jalan ke tujuan seperti yang tua. Itulah, Mr. Mahathir Mohamad.

Sangat menarik sekali melihat negeri tetangga dengan kembalinya Mr. Mahathir Mohamad. Sebelumnya, kita juga dikejutkan terpilihnya Presiden Filipina, Mr. Rodrigo Duterte. Meski dia umurnya berkepala tujuh dibanding Mahathir Mohamad yang berkepala sembilan. Namun kedua tokoh ini telah menggebrak dunia perpolitikan, khususnya di ASEAN, karena usianya yang sudah uzur.

Ternyata, semangat hidup itu tidak ada batasnya selagi serta cita-citanya masih subur makmur. Dua tokoh itu akhirnya sedikit demi sedikit menghilhami tidak hanya para politikus saja tetapi juga para para pemimpin lainnya di negeri ini. Bahwa harapan dalam mencapai prestasi itu ternyata masih banyak. Sekarang gagal, nanti masih ada peluang. Pemimpin itu tidak harus di usia muda saja, melainkan juga usia tua. Yang penting adalah semangat dan gagasannya.

Magnet Mr. Mahathir Mohamad sangat kuat. Banyak kawula usia tua mulai berpikir dan bersemangat. Bagi saya, kita ambil positifnya. Berpikir positif itu lebih baik. Misalnya, dengan magnet Mahathir Mohamad, tidak hanya kaum tua saja yang bersemangat hidup. Kaum muda justru semakin tinggi semangat hidupnya. Intinya, masih banyak waktu untuk berkarya dan mencapai cita-cita setinggi tingginya.

Kalau usia muda belum mendapat kesempatan, maka kaum muda masih tetap bersemangat bahwa nanti pun masih banyak peluang. Justru dengan usia semakin tua, pengalaman hidup dan gagal semakin memberikan injeksi idealisme dan kreativitas.

Sama halnya dengan penulis, penyair, dan seniman lainnya. Semakin berumur semakin memiliki banyak talenta menulis. Tenaga dan pikiran serta imajinasinya semakin tinggi. Coba kita kenang misalnya penulis ulung Pramoedya Ananta Toer. Dia semakin tua waktu itu, dia semakin banyak menulis dan berbobot. Banyak penulis lama yang semakin berumur, imajinasinya semakin kuat dan masih tetap produktif.

Namun, kaum sesepuh seperti itu harus bisa mengilhami para kaum muda, sehingga mereka akan menjadi mesin pencetak pemimpin baru. Mereka harus bisa melahirkan pemimpin baru. Intinya, pemimpin boleh berusia tua, tetapi dia harus juga bisa memngkader pemimpin-pemimpin baru. Seperti halnya, Mahathir Mohamad. Ketika baru dilantik saja, dia berani mengangkat para menteri muda belia. Bisakah pemimpin usia tua di negeri ini nantinya berani memilih pemimpin-pemimpin baru di bawah levelnya untuk penerus bangsa? Ini yang menjadi pertanyaan untuk mereka.

Jika pemimpin usia tua tidak bisa membuahkan para pemimpin baru, maka itu tidak seperti Mahathir Mohammad. Sebab, kita boleh meniru negeri tetangga, tetapi juga kita meniru kebijakannya yang memberikan peluang anak muda. Magnet Mahathir Mohamad akan berpijar terus ke negeri sendiri namun pijarannya itu harus mewarnai wahana baru dengan memberi peluang kaum muda.

Tua Tua Keladi, yang penting semangat tetap tinggi. Imajinasi dan daya pikirnya masih dibutuhkan. Ini berarti bahwa, semua orang masih memiliki banyak peluang sampai kita berkepala tujuh sekali pun. Pikiran positif seperti itu akan berdampak positif pula jika kita memberikan makna yang positif juga. Namun, kaderisasi merupakan ciri pemimpin yang efektif. Jika tidak ada kader-kader baru, maka itu berarti pemimpin tidak efektif. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here