Cemooh Tetangga dan Cerita Kelam si Janda Muda

0
162
Ilustrasi. Sebagai seorang janda, Intan berusaha sekeras mungkin membesarkan anaknya seorang diri. (blanculamarkova0/Pixabay)

Jakarta, IP.News — Masih terbayang di benak Intan wajah-wajah ‘asem’ para tetangga yang melihatnya. Mata-mata itu memandang Intan seolah mencibir hanya karena statusnya sebagai seorang janda muda dengan satu anak.

Perceraian tak membuat hidup Intan–bukan nama sebenarnya–menjadi damai meski telah lepas dari kekerasan suami. Bisik tetangga tak lagi bisa terbendung.

“Rumah [pernah] didatangi ketua RT, nanyain suaminya ke mana? Terus aku cerita kalau aku sudah cerai. Aku inget banget mimik muka pak RT dan bu RT, langsung berubah asem,” ujar Intan, saat bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang janda pada CNNIndonesia.com, Rabu (23/6). Cibiran itu muncul saat Intan sedang menyusui si buah hati.

Sulit rasanya bagi Intan membayangkan hidup menjanda di usia muda, dengan seorang anak di pangkuan. Perempuan berambut pendek itu harus menelan status janda di usianya yang baru menginjak 22 tahun.

Kelam, adalah satu kata yang kiranya tepat mendeskripsikan masa lalu Intan. Tapi, baginya tak ada kata menyesal. Masa lalu biar lah berlalu, kita hidup melihat masa depan, sebagaimana tertulis dalam status WhatsApp-nya.

Usia Intan saat ini masih terbilang sangat muda. Tepat pada Agustus mendatang, Intan akan menginjak usia 28 tahun. Tapi, di usianya yang belia itu, Intan harus membesarkan Raden, si buah hati, dengan seorang diri.

“Mungkin orang melihat saya enggak punya cita-cita, tapi sebetulnya saya punya impian, hanya saja tak terwujud seperti orang kebanyakan,” kata Intan.

Menikah di Usia Muda

Ia menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki pilihan keluarga. Sang suami bisa dibilang adalah orang yang tak kekurangan dana, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga yang religius.

Sementara Intan harus rela tak melanjutkan bangku kuliah karena dana keluarganya tak cukup untuk membiayai, bahkan sang adik laki-laki keukeuh ingin kuliah.

Keputusan Intan dan keluarganya bisa dibilang bukan hal tepat. Ia yang menikah setelah lulus SMA tak mencicipi indahnya pernikahan dalam waktu lama.

Setahun pertama pernikahannya mungkin jadi satu-satunya hal manis saat itu. Namun setelahnya, tabiat kasar dan arogan sang suami begitu mengganggunya. Ia juga pernah mendapati sang suami bersama dengan perempuan lain.

Sang suami juga kerap melakukan kekerasan verbal pada Intan. Meski tak sampai memukul, setiap kata-kata yang pernah terlontar amat menyakiti hati.

“Aku pernah lupa masukin bekal makan siang buat dia di kantor karena aku juga sibuk banget pagi-pagi. Dia pulang ke rumah marah-marah sambil nunjuk-nunjuk, nyebut aku enggak becus jadi istri lah, enggak ngotak lah, sering banget dia hina aku,” kata Intan.

Empat tahun pernikahannya ia putuskan karena tak tahan menanggung amarah sang suami yang selalu dilampiaskan padanya.

Belum lagi, saat itu, ia didorong oleh banyak pihak untuk punya anak. Seolah-olah kelahiran anak bisa membuat sang suami kembali berbaik hati padanya.

“Orang-orang pada bilang, makanya punya anak biar suami tambah sayang,” ujar perempuan berkulit kuning langsat tersebut.

Sakit hati meski ditelan Intan mentah-mentah. Saat hamil anak pertamanya di usia 22 tahun, Intan mesti menerima kenyataan bahwa suaminya ‘bermain’ dengan perempuan lain.

“Aku langsung pergi ke rumah orang tua, aku cerita semuanya, aku minta cerai. Waktu itu aku hamil 7 bulan,” tuturnya.

Pahit Kehidupan Menjanda dengan Satu Anak

Menjanda bukan hal mudah, apalagi bagi Intan yang masih berusia muda. Usai mengurusi rumitnya administrasi perceraian di Indonesia, ia dihadapkan dengan kenyataan harus membesarkan anak sendirian.

Intan bahkan pernah dicap sebagai ‘wanita simpanan’ hanya karena membesarkan anak seorang diri. Beberapa orang juga menyebutnya ‘istri tak tahu diuntung’ karena memilih bercerai, padahal punya suami kaya raya.

Banyak stigma yang harus ditanggung Intan sendiri setelah bercerai. Di kalangan pemuda seusianya, Intan disebut sebagai ‘janda kembang’.

Setiap kali ia pergi keluar rumah dan berpapasan dengan laki-laki seumurannya, Intan selalu mendapat ‘cat calling’, siulan usil, ajakan menikah main-main, bahkan sampai ajakan berhubungan intim.

“Pernah aku ditanya sama orang ‘biasa dibayar berapa semalem?’ Saat itu aku marah, kesel, tapi sakit hati juga, aku jelasin panjang lebar kalau aku bukan perempuan kayak gitu, tapi mereka cuma ketawa-ketawa,” kata Intan sambil menghela napas.

Selain harus menanggung cemoohan masyarakat terhadap status jandanya, Intan juga harus kerja banting-tulang untuk membesarkan Raden.

Sang mantan suami memang memberikan dana untuk biaya hidup Raden, tapi ia tak mau bergantung dari uang tersebut.

Intan kembali membuka online shop miliknya yang sudah ia kelola sejak SMA. Bermula dari jualan pakaian wanita dan anak blackberry group saat masa sekolah, kemudian berpindah ke Instagram.

Usahanya sempat berhenti saat ia menikah. Pasalnya, tak ada waktu mengurus stok pakaian, mengunggah, dan melakukan pengiriman, karena ia harus mengurusi suami.

“Semuanya kayak mulai lagi dari awal, di usia aku yang 24 tahun itu, waktu aku lihat teman-teman lulus kuliah, kerja kantoran, aku udah punya anak satu dan start buka online shop lagi,” kata perempuan yang bermimpi jadi penyiar berita tersebut.

“Aku, tuh, kayak melewatkan masa muda karena menikah terlalu cepat,” ucapnya.

Kini Intan tak lagi memikirkan cemoohan orang-orang karena status jandanya. Intan juga sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari hasil berjualan pakaian wanita di Instagram dan e-commerce.

Ia bahkan berkecukupan membiayai Raden untuk masuk TK dan menyiapkan kebutuhan sekolahnya.

“Aku enggak mau lihat ke belakang lagi, aku lihat ke masa depan. Aku enggak mau lagi menyesali masa lalu. Aku dan anakku bisa bahagia meski aku seorang janda,” tuturnya.

Sumber : CNN Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here