Covid-19: Reduksi Diskriminasi dalam Pendidikan

0
227
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen STIE Perbanas Surabayauh

Setiap 2 Mei, selalu ada peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) di seluruh negeri. Covid-19 yang merebak di seuluruh dunia berdampak juga pada dunia pendidikan. Zaman dahulu, tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantoro dengan Taman Siswanya, merupakan tokoh pendidikan yang jadi panutan. Ing Ngarso sung tulodo, Ing Madya mangun karso, Tut wuri handayani.

Sebagai guru atau pendidik, kita selalu memberikan contoh atau model. Dalam hal ini, tugas guru selalu di depan memberikan corak perilaku dan gerak-gerik yang patut dicontoh anak didiknya. Namun, keberadan guru juga bisa sebagai pendorong (triger) bersama anak didiknya baik sebagai guru maupun teman belajar. Sekali-kali, guru juga memberikan kesempatan anak didik untuk bekerja mandiri, dan guru melihatnya dari belakang: pemberdaya.

Dalam peristiwa Covid-19 ini, guru dipaksa sebagai motivator jarak jauh. Sekolah dan belajar secara daring membutuhkan keahlian guru mengelola kelas. Proses pembelajarannya secara daring. Ada beberapa aplikasi internet. Yang paling banyak dipakai adalah Zoom, selain Google meet.

Proses pembelajaran senantiasa dari jarak jauh. Siswa di rumah. Guru juga di rumahnya sendiri. Proses pembelajaran secara daring ini terkesan mendadak. Artinya, tidak direncanakan jauh sebelumnya. Padahal, proses pembelajaran dan sistem pendidikan itu akan berjalan baik jika direncanakan secara matang.

Pada Oktober 2014, ada Asia Summit on Education di Singapore. Saat itu, pakar dunia dari berbagai benua hadir. Mereka memaparkan proses pendidikan, khususnya pembelajaran. Saat itu, baik di Singapore dan utamanya di Australia, sudah banyak penerapan MOOC (Massive Open Online Courses).

Program pendidikan ini bisa diikuti ribuan peserta didik. Mereka bisa belajar melalui MOOC ini. Namun, di negeri belum marak saat itu. Kalau sudah disiapkan infrastrukturnya dari awal, maka tidak akan terjadi diskriminasi infrastruktur atarpeserta didik.

Setelah ada wabah Covid-19 yang sangat mendadak, baru dunia pendidikan kelabakan. Gara-gara serangan virus edan ini, sekolah dan kampus mengubah diri. Serangan virus corona sangat dahsyat. Cepat dan begitu mewabah seluruh dunia. Awalnya, pandemi ini ditemukan di kota Wuhan, Cina. Kemudian, wabah ini menyebar sangat dahsyat di Itali, juga ke Amerika, dan Australia.

Ketika awal terjadi di kota Wuhan, beberapa negara termasuk Indonesia masih memandang sebagai pandemi di kota Wuhan saja.

Begitu marak berita khusus di Itali dengan korban, baru Indonesia mulai siap-siap proteksi. Di sinilah, awal dunia pendidikan di seluruh Indonesia mulai diliburkan. Ini termasuk di perguruan tinggi. Di kampus saya sendiri, kerja dari rumah (work from home) mulai 15 Maret, kami semua sudah kerja dari rumah.

Semua proses belajar mengajar (PBM) dikerjakan dari rumah. Siswa dan mahasiswa harus terus aktif belajar atau kuliah. PBM-nya sudah dilakukan dengan daring. Internet dan paketan sudah harus disiapkan oleh siswa dan mahasiswa, tidak peduli bagaimana caranya. Intinya, semua mendadak tanpa ada perencanaan yang matang. Yang penting dikerjakan. Jika berjalan lancar, maka dunia pendidikan di negeri ini hebat sekali. Kuliah dan pembelajaran secara daring tetap berjalan. Entah bagaimana hasilnya jika ada yang meneliti misalnya efektifitas pembelajaran masa Covid-19. Ini termasuk penelitian terkait diskriminasi pendidikan terkait infrastruktur dunia maya.

Dari sini, ada beberapa hal yang sangat penting diperhatikan. Perubahan itu ada yang pada tataran sekolah atau kampus. Ada juga pada tataran nasional kebijakan menteri. Pada tataran sekolah atau kampus juga terjadi. PBM secara daring. Adapun di tataran nasional, ada pembatalan proses evaluasi Ujian Nasional (unas).

Dulu, menghapus Unas itu susah sekali. Banyak pergolakan antara setuju dan tidak. Begitu digulirkan di publik pertama kali oleh Menteri Pendidikan Prof. Dr. Muhadjir Effendi, kontroversi bermunculan saat itu. Begitu ada wabah Copvid-19, Unas dibatalkan, dan ini sejarah dalam dunia pendidikan. Penghapusan Unas tanpa ada perlawanan.

Sejak awal, saya bersama beberapa pengamat pendidikan tidak setuju adanya Unas yang kurang efektif. Tujuan pembelajaran tidak terukur secara efektif karena apa yang terjadi di lapangan tidak selalu sama dengan alat ujinya. Antara harapan dan kenyataan. Kita kembali ke zaman Ki Hadjar Dewantoro.

Ki Hadjar Dewantro sudah memberikan pijakan filosofis pendidikan. Ing Ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Yang penting, apa pun dalam dunia pendidikan, guru atau dosen harus menjadi tiga model.

Contoh di depan, pendorong sebagai kawan, dan pemberdayaan dengan melihat anak didik dari belakang. Apa pun harus adil sebagai contoh untum semua peserta didik, sebagai pendorong, dan pemberdaya untuk semua peserta didik. Tidak ada diskriminasi termasuk infrastruktur fasilitas pendidikan.

Inti pendidikan itu menciptakan sumber daya insani yang mandiri. Dengan PBM secara daring, mudah-mudahan kemandirian itu tercipta lebih baik dibanding PBM konvensional. Namun, dari segi efektivitas, perlu adanya penelitian, misalnya terkait dengan kendala internet dan berbagai sarana pendidikan, ditinjau dari dua belah pihak.

Pihak pertama adalah pihak sekolah. Sudahkan antarguru atau antardosen memiliki sarana yang sama dalam hal teknologi pembelajaran? Begitu juga semua siswa atau mahaiswa. Sudahkah mereka memiliki infrastruktur yang standar sama sehingga PBM benar-benar menghasilkan otuput yang adil. Jika tidak, maka di sinilah terjadi diskriminasi PBM antarsiswa atau antar mahasiswa. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here