Covid-19: Sebuah Potret Watak Ndhableg

0
260
Dr. Djuwari, M.Hum
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Associate Professor at STIE Perbanas Surabaya

Pandemi virus corona (Covid-19) dunia dikelola dengan pandangan dan pikiran ndhableg. Siapa pun tahu sejak Desember, bahkan Nopember 2019, berita Covid-19 sudah melanda kota Wuhan, Cina. Namun saat itu, tidak semua bergerak menyiapkan tameng agar tidak menyebar ke negeri lain. Termasuk tidak adanya pencegahan cepat di negeri kita sendiri, Indonesia.

Saat itu pula, kita pun bersama rekan-rekan kerja masih asyik. Semua kantor pemerintah dan swasta pun masih bekerja seperti biasa. Berita yang ada di Wuhan seakan-akan tidak disangka bisa menyebar ke mana-mana. Berita pageblug virus Corona saat itu hanya dipandang penderitaan di kota itu saja. Itu sebabnya, semua transportasi dan penerbangan di mana-mana masih sibuk seperti biasa.

Dinamakan Covid-19, karena itu pada akhir 2019. Njeblosnya ramai global pada 2020. Sementara di negeri kita sendiri, kita menganggap hal biasa, saat itu. Masih di negeri kita, kontroversi bahaya virus gila ini belum diperhatikan secara serius. Kita semua tidak tahu dari mana asal virus ini. Bahkan publik dunia masih banyak berkontroversi.

Begitu ada berita ganasnya Covid-19 di Itali, baru ada berita-berita pandemi Covid-19. Bahasa Jawa ?Ndhableg’ alias tidak peduli sebenarnya tidak hanya orang awam saja. Coba amati! Saat itu, hampir semua level masyarakat, dari golongan apa saja masih tampak santai. Ini bisa dilihat dari pergerakan roda ekonomi. Bidang perdagangan pengiriman barang dari dari luar negri masih berjalan terus. Penerbangan dari luar negeri pun masih ramai seperti biasa di setiap kota.

Bali, Jakarta, Surabaya, dan di kota-kota bear lain, penerbangan masih berjalan terus. Dari sinilah, kita mendapat kesulitan mencari titik awal (pasien Zero) di setiap wilayah. Kesulitan itu karena perhitungan ndhableg setiap daerah secara nasional. Namun, ini bukan negeri kita saja. Hampir semua negeri di dunia sama memiliki sifat ndhableg seperti kita.

Di Amerika yang jauh pun sampai sekarang menjadi berita paling heboh. Presiden Donald Trump pun sampai kebingungan: antara lockdown atau bebas berkeliaran. Karena pemikiran seperti itu, Presiden Amerika pun menjadi sasaran publik di negerinya. Apalagi dengan gagasannya agar setiap penduduk disuntik dengan disinfectant. Ide kontroversial itu menjadi bahan tumpahan kemarahan masyarakat di sana.

Hitungan ndhableg akhirnya menjadi ciri khusus bangsa di dunia. Ada pula yang menghitung antara risiko kematian dan risiko resesi ekonomi dunia. Di setiap negara pun sudah nyata bahwa risiko ekonomi nasional pun makin parah dan makin nyata. Jika dihitung besarnya atau kadarnya risiko, maka jumlah kematian akibat Covid-19 dengan risiko ekonomi secara nasional, akan tampak lebih dahsyat risiko ekonominya dibanding risiko jumlah kematian akibat virus gila ini. Namun, dalam human rights, meskipun satu nyawa itu harus dibela.

Jika kita merenungkan apa yang disampaikan oleh Bill Gates pada 2015, di TED forum, dia sudah meprediksi bahwa senjata yang paling bahaya itu bukan Bom atom seperti perang dunia II. Melainkan, senjata biologis. Waktu presentasi pada 20015 itu, Bill Gates tidak menyebut nama virus itu. Tetapi, dia memprediksi senjata yang paling berbahaya itu senjata biologis.

Ternyata, senjata itu terjadi dan meledak ke seluruh dunia pada 2020. Intinya, ramalan dan prediksi Bill Gates itu nyata. Pada 2005 pun, Presiden Barrack Obama, sudah menyatakan akan ada bahaya senjata biologis. Setidaknya, dia menyatakan akan ada bahaya pandemik. Intinya, para negarawan dan usahawan di negeri Paman Sam sudah memiliki jangkauan perkiraan masa depan yang lebih jauh tentang pandemi ini.

Namun anehnya, perhitungan ndhableg manusia masih tetap ada. Meskipun mereka sudah memprediksi dan tahu akan ada bahaya pandemi saat itu, bangsanya juga masih terpotret adanya pikiran ndhableg. Setidaknya, bangsa di negeri maju pun masih memiliki hitungan ndhableg.

Apa lagi bangsa kita, Indoensia, yang beraneka ragam ini. Jelas tidak sehebat mereka di negeri Paman Sam. Itu sebabnya, hitungan ndhableg dalam menghadapi Covid-19 tampak nyata. Hampir di seluruh lapisan masyarakat tampak lambat dalam menghadapi Covid-19 ini. Potret watak ndhablegnya warga dunia. Ini sifat manusia dunia. Hanya negeri yang disiplin saja yang berisiko rendah.

Tidak ada jalan lain selain memikirkan bagaimana risiko ekonomi nasional ini bisa ditekan. Jika kondisi ekonomi nasional tidak bisa diprediksi sampai kapan ini berhenti, maka risesi ekonomi dunia akan menjadi hantu yang lebih mengerikan. Semoga ada jalan terang dan berhasil menghentikan pandemi gila ini agar ekonomi nasional dan dunia membaik seperti semula. Ndhablegnya jangan sampai kebablasan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here