Demo Mahasiswa: Teori Gajah dan Pelanduk

0
546
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Demo mahasiswa, pada Kamis 26 September 2019, mengisahkan berbagai interpretasi. Khusus dalam dunia pendidikan, bervariasinya tanggapan itu benar-benar membingungkan para pelaku pendidik. Ini setelah ada pernyataan Menristekdikti, Prof. H. Mohamad Nasir, Drs., Ak., M.Si., Ph.D, sampai berbagai perguruan tinggi. Ini juga pada kalangan dosen baik antarperguruan tinggi maupun antarpendidik dalam perguruan tinggi yang sama.

Dunia perguruan tinggi?baik swasta (PTS) maupun negeri (PTN)—bisa disebut sebagai masyarakat ilmiah. Lebih jelas lagi, dosen bukan hanya pengajar tetapi juga pendidik. Secara pedagogis, seorang pendidik itu harus bisa memberikan komando atau instruksi yang jelas. Ini dalam arti, bahwa instruksi yang dibuat itu tidak ambigu. Apalagi, jika pendapat tentang demo mahasiswa itu ambigu di antara para pendidik.

Berkaitan dengan pendidik, kita tahu dalam dunia pedagogi, kita kenal istilah instructional. Kata sifat tersebut berasal dari kata kerja instruct (memerintah/ memberi petunjuk). Dalam bentukan kata benda, yaitu instruction. Oleh sebab itu, siapa saja yang pernah mengenyam pendidikan dalam ilmu keguruan, kita kenal instructional objectives (tujuan instruksional: tujuan pengajaran dalam pembelajaran). Jadi, buka teaching objective/ learning objective, tetapi instructional objective. Itu harus jelas? tidak boleh gamang dan ambigu?sehingga dapat dioperasionalkan dan dievaluasi.

Kemudian, dalam kehidupan sehar-hari, kita kenal pepatah ?Gajah Perang dengan Gajah, Pelanduk Mati di Tengah-tengah.? Dalam analogi itu (baca perang=perbedaan persepsi), jika ada perintah/ instruksi yang ambigu, maka siapa pun akan kebingungan. Jika di antara para pendidik saja memiliki persepsi yang berbeda, maka apa yang akan terjadi pada para pelanduk (baca= anak didik kita).

Demo mahasiswa Kamis 26 Spetmber tersebut sangat spontan. Kita sebagai pendidik, merasa kalang kabut. Spontanitas itu tidak hanya terjadi di sebuah PTS atau PTN saja. Melainkan, juga terjadi serentak. Demo mahasiswa tersebut begitu cepat. Seluruh negeri bergerak spontan dan di mana-mana. Siapa yang tidak kelabakan?

Semalam sebelum demo, bisa saja seorang anak (mahasiswa) tidak memiliki niat apa pun. Begitu dia mendapat informasi tengah malam (baca pesan WA dari teman-temannya), dia paginya mendadak sudah berubah? punya niat ikut demo. Begitu besar daya tarik spontanitas anak muda. Ini merupakan pelajaran para pendidik, mulai dari bawah sampai elite menteri.

Sayang sekali, hal-hal seperti demo tersbut tidak bisa diantisipasi jauh sebelumnya. Misalnya, satu bulan atau paling pendek minimal dua mingguan. Jika elite masyarakat ilmiah (seluruh PTS dan PTN) di Indonesia sigap jauh sebelumnya, maka tindakan dan persepsi bisa disatukan. Misalnya, dalam bentuk kebijakan. Lebih afdol lagi, jika persepsi kesatuan pandangan tersebut mulai diantisipasi oleh elite tertinggi yaitu Menteri: Menristeksikti.

Akan aneh jika setelah selesai demo, kemudian Menristekdikti memberikan pernyataan, bahwa Rektor perguruan tinggi mana pun akan ditindak tegas. Khusus bagi yang memberi izin secara resmi. Perlu diketahui, bahwa?sepengetahuan/ hemat saya? tidak ada pimpinan perguruan tinggi secara tertulis resmi menyuruh mahasiswanya demo. Yang ada adalah kepanikan dalam dua hari bahkan satu hari sebelum demo.
Saya bukan pimpinan, tetapi saya merasakan kepanikan itu karena saya memiliki jadwal kelas mengajar.

Malam sebelum aksi demo, banyak mahasiswa mengirim pesan lewat WhatsApp (WA). Mereka bertanya, apa kelas libur? Saya jawab tidak. Namun, mereka berlanjut cerita, bahwa semua mahasiswa kelas saya itu akan ikut demo. Saya kontak dengan para pimpinan di universitas saya.

Mereka pun juga secara tegas mengatakan, bahwa mereka tidak memberi/ tidak mengizinkan secara resmi. Tetapi, mereka juga menyampaikan bahwa mereka tidak bisa melarang mahasiswa menyuarakan aspirasinya ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Itu sebabnya, Bapak Menristekdikti, mohon memahami situasi di lapangan yang sebenarnya. Demo mahasiswa yang spontan tersebut bersifat massive dan mendadak.

Mengapa, hal ini tidak diantisipasi jauh sebelumnya sehingga Menristekdikti bisa mengeluarkan perintah minimal dua minggu sebelum acara demo. Apalagi, sebulan sebelumnya pasti akan lebih afdol. Misalnya, Menritekdikti mengeluarkan Surat Perintah Resmi tertulis ke seluruh PTS dan PTN, agar mereka mengeluarkan surat juga untuk tidak memberi izin demo.

Tetapi, itu pun jika massive, kita yakin kita tidak bisa mencegah atau melarang. Mohon dibayangkan kepanika para pendidik di lapangan.

Sekali lagi, tidak ada?dalam hemat saya, secara resmi tertulis, bahwa pimpinan perguruan tinggi memberi perintah demo kepada mahasiswanya. Yang kita baca dan amati baik secara laungsung maupun di media, semua pinpinan PTS dan PTN tidak bisa melarang. Mereka anak muda dan spontan, secara massive di seluruh negeri.

Dari fenomena tersebut, maka ingatlah pepatah Gajah Perang dengan Gajah, Pelanduk Mati di tengah-tengah (baca perang= perbedaan persepsi tentang demo) di kalangan elite dunia pendidikan.

Sebagai pendidik, kita harus bisa merumuskan instruction dengan jelas alias tidak ambigu. Gamang dan samar-samar, tetapi pada akhirnya, ada pernyataan tindakan tegas dengan surat peringatan.

Sekali lagi, tidak ada perintah tertulis menyuruh demo. Yang ada, pernyataan tidak melarang mahasiswa mengeluarkan aspirasi. Ini dunia pendidikan.

Semoga, di masa depan tidak terjadi lagi, perspesi terhadap kejadian dalam ruang dan waktu dunia masyarakat ilmiah. Dunia pendidikan memerlukan instruction yang jelas dan bisa dipersepsi sama oleh antarpendidik di seluruh negeri. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here