Ekspresi Otak dalam Webinar

0
337
Dr. Djuwari
is the President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Associate Professor at STIE Perbanas Surabaya, Indonesia

Sebuah tinjauan psikolinguistik. Otak itu ada bagian-bagiannya. Strategi komunikasi sangat penting. Meskipun hanya teknik berganti bicara (turn taking), itu justru sebuah ilmu dan keterampilan mahal.

Sekarang sudah marak seminar atau konferensi secara daring. Karena menggunakan internet dan situs (web) dan aplikasinya, sering dinamakan webinar. Aplikasi yang paling sering digunakan selama ini Zoom. Ada pula Google meet. Bahkan, ada grup saya yang hampir tiga ribu anggota itu menggunakan video dalam messenger.

Rupanya, “barang ini” kelihatan baru. Karena baru, sering kita jumpai perilaku komunikasi yang melanggar komunikasi. Padahal, komunikasi itu sebuah ilmu, keterampilan, dan bahkan terkandung nilai-nilai filosofis: sampai menjurus pada bagian otak.

Tidak sedikit, kadang peserta lupa mematikan mikrofon (mic). Kadang ngobrol sendiri. Namun, aturan sudah diberitahukan oleh moderator. Sering pula panitia memberikan catatan tentang aturan dalam webinar. Misalnya, mikrofon harus dimatikan (mute), ketika ada pembicara sedang menyampaikan gagasannya.

Namun, masih ada perilaku lalai, dan kurang konsentrasi. Kalau pesertanya mahasiswa atau siswa mungkin perlu pembinaan keterampilan berkomunikasi melalui webinar. Jika itu para guru atau dosen, maka ini akan berbahaya jika jadi kebiasaan. Kalau kebiasaan, jadilah sulit karena bisa jadi karakter.

Dalam kajian psikolinguitik, pernah seorang Guru Besar Linguistik, almarhum Prof. Dr. Soenjono Dardjowidjojo menjelaskan tentang strategi komuniakasi. Salah satunya adalah bagaimana mengambil peran. Peran memulai. Peran mendengarkan. Peran menyisipkan gagasan. Ini dinamaka turn taking: gantian bicara.

Ternyata, gantian bicara itu merupakan teknik yang harus diperlajari. Meskipun, sudah berwawasan luas dan berpengalaman banyak, teknik berganti bicara itu alami (natural). Kalau sudah alami, itu menjadikan kebiasan dan watak. Jika normal, bararti watak normal.

Namun, jika ada orang dewasa belum bisa memiliki strategi turn taking, maka ada yang salah dalam jiwa mereka. Pola pikir dan bahasa itu berkaitan erat dengan bagian-bagian otak (parts of the brain).

Paul Piere Broca (1814) adalah orang pertama penemu bagian pemilahan otak. Ahli Neurologi dengan kajiannya dijadikan bahasan dalam neurolinguitsik. Ada bagian-bagian otak yang berfungsi dengan peran masing masing. Banyak, namun khusus kajian ini dua bagian sangat penting. Pertama, Vernicle bagian otak yang berfungsi untuk pemahaman. Ada juga dinamakan Broca yang berfungsi memproduksi ucapan atau memberi respons.

Dua fungsi itu harus seimbang. Jika pemahaman baik, maka resnpon baik. Jika pemahaman buruk maka respon buruk. Nah, jika kebiasaan pemahaman manusia tidak ada, karena kebiasaan tidak mau memahami, maka bisa jadi kebiasaan buruk ini jadi ”pemyakit”. Jika demikian, maka bagian otak Broca, akan terganggu. Responnya tidak seimbang dengan apa yang dipahami: didengar.

Hanya saja, kasus yang terjadi sering akibat syaraf otak rusak. Kajian neurologi, sering membahas cidera otak dan gangguan bahasa. Perilaku berbahasa bisa saja terganggu akibat bagian otak cidera. Bisa karena penyakit penyumbatan pembuluh darah. Jika akibat ini, maka caranya sering dengan terapi. Itu natural, alias alami.

Namun, ada kalanya, secara jasmani vernicle yang berfungsi sebagai pemahaman itu sehat. Hanya karena kebiasaan tidak mau memahami, misalnya apriori, maka orang jenis ini akan gagal dalam komunikasi. Syaraf yang awalnya sehat secara jasmaninya, bisa menjadi tidak sehat akibat kebiasaan. Apriori.

Jika strategi komunikasi turn taking tidak dibiasakan dengan baik, bisa jadi, manusia mengalami ketidaknormalan bagian otak ini. Itu sebabnya, etika dalam komunikasi sangat perlu. Strategi mendengarkan juga harus sering dilatih. Strategi bergantian bicara (turn taking) itu sebuah ilmu dan keterampilan yang mahal. Manusia bisa dilihat bagian otaknya dari strategi ini.

Dari kajian psikolinguistik ini, maka etika webinar sangat perlu. Mengikuti aturan yang sudah ditetapkan sangat bermanfaat untuk melatih diri agar vernicle organ dalam otak senantiasa sehat.

Itu berkaitan dengan syaraf. Dalam Klark and Klark (1977), Introduction to Psycholinguistics, strategi komunikasi, turn-taking, sangat penting. Namun, ini disepelehkan.

Syaraf sehat bisa jadi kebiasaan tidak sehat. Ngobrol sendiri tanpa sadar akibat “kurang memahami,” jadi habit. Lama-lama, manusia seperti ini memerlukan terapi khusus. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here