Harta Karun Tersembunyi

0
286
Dr. Djuwari, M.Hum
Dosen Bahasa Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya.
Presiden International Association of Scholalrly Publishers, and Editors (IASPER)
Board of Directors of Community of ASEAN Researchers and Educators (CARE).

Dalam budaya mutu, masalah itu dianggap sebagai harta karun tersembunyi. Itu sebabnya, jika ditemukan sebuah masalah, itu sama dengan menemukan harta kekayaan. Tergantung seberapa besar masalah itu. Makin besar masalahnya, makin segunung harta karunnya yang akan diperoleh. Apa logikanya dalam budaya mutu?

Pada 1998, tepatnya Oktober, saat itu ada konferensi internasional di Universitas Brawijaya. Saya lupa tanggalnya. Topiknya tentang Total Quality Management (TQM). Ada beberapa Guru Besar pakar Budaya Mutu dari Wollongong university, Australia, sebagai pemateri. Ada pula para pejabat dari pusat Jakarta, bahkan sekelas menteri. Mereka membahas manajemen mutu.

Pada sesi pleno, salah satu pembicara memaparkan konsep masalah dalam budaya mutu. Ada tiga kalimat yang saya ingat sampai sekarang. Kalimat itu dijadikan paparan konsep masalah dalam budaya mutu (1) A problem is good in quality management. (2) When there is no problem, there will not be improvement. (3) A problem is a mountain of treasure.

Masalah itu baik. Jika tidak ada masalah berarti tidak pernah ada perbaikan. Jadi, jika ditemukan ada masalah, berarti itu sama dengan ditemukan harta karun. Ini logis. Siapa saja dapat memahami konsep itu. Coba bayangkan, arti kata perbaikan (improvement). Yang namanya perbaikan itu karena dari tidak baik menjadi baik. Dari buruk menjadi baik. Tentunya bersumber dari masalah.

Jadi, jika ada masalah di sebuah perusahaan ditemukan. Kemudian, dicarikan solusi untuk perbaikan, maka di situlah konsep sebuah masalah. Tanpa masalah, tidak ada perbaikan (improvement). Itu sebabnya, semua pimpinan atau kolega pekerja, di organisasi atau perusahaan apa saja harus memiliki pandangan tentang konsep masalah seperti itu.

Cara pandang seperti itu akan membawa hubungan kerja makin hangat. Intinya, jika ada sebuah kesalahan, itu berarti masalah. Kemudian, masalah tersebut dibahas bersama, dan tidak boleh disembunyikan. Ini untuk mencari solusi bukan menjelekkan pribadi yang bersalah. Ini justru awal menemukan sebuah harta karun. Lalu, dipecahkan bersama dengan siapa saja yang terkait. Maka, jadilah sebuah perbaikan (improvement). Jika dibiarkan, akan berbahaya bagi kelangsungan organisasi.

Namun, perlu dicermati pula tentang perilaku kesalahan atau masalah. Ada dua jenis masalah. Dilihat dari sumber masalahnya, dalam budaya mutu itu ada dua jenis kesalahan. Pertama, disebut kesalahan umum. Kedua, disebut kesalahan khusus.

Kesalahan umum itu, jika seorang pegawai atau karyawan salah mengerjakan tugasnya. Jika pekerja melakukan tugasnya tidak sesuai prosedur yang ada (tidak conform), maka ini disebut kesalahan umum. Cara penyelesaiannya mudah. Dia ditunjukkan lagi prosedurnya yang benar. Jika dia masih tidak paham, maka dia bisa dilatih ( diberi pelatihan, Training khusus: berarti perbaikan mutu perilaku).

Kedua adalah jenis kesalahan khusus. Jika seorang pekerja atau karyawan melakukan kesalahan akibat prosedurnya yang salah (system), maka ini beda dengan masalah yang pertama. Ini merupakan masalah lebih berat karena sistem yang dibuat tidak sesuai dengan praktik atau proses yang benar. Misalnya, prosedur yang bertele-tele alias birokratik. Atau prosedur itu memang benar-benar salah.

Ingat, prosedur itu hasil analisis proses sebuah operasional yang jeli. Proses yang baik, adalah proses yang efisien, bukan yang sebaliknya. Oleh karena itu, perusahaan yang paling maju di dunia mana pun, disebabkan oleh budaya mengamati semua proses. Jika ada hambatan (hold up), maka di situlah proses dianalisis dan dipangkas. Jadinya, lebih efisien. Di sinilah lahirnya istilah one-stop-service.

Jadi, pemecahan masalah dalam budaya mutu, harus ditemukan sumber penyebabnya yang jeli. Jika maslah umum, itu mudah. Namun, jika masalah khusus, terkait prosedur yang tidak efisien dan bertele tele. Itulah masalah yang berat. Apa pun jenis masalahnya, dalam budaya mutu, semua masalah itu adalah harta karun. Seorang manajer atau pimpinan harus memiliki cara pandang konsep masalah yang demikian.

Perlakukan terhadap karyawan yang melakukan kesalahan harus ditangani secara cermat. Dalam budaya mutu, tidak boleh menstigma para pekerja yang menemukan kesalahan atau masalah. Sebab, jika masalah itu dipecahkan, pasti ada perbaikan (improvement). Di sinilah indahnya memahami budaya mutu. Kita paham konsep masalah. Kita paham konsep perbaikan. Kita paham bahwa penemu masalah sama dengan penemu harta.

Jika semua pimpinan dan anggota organisasi memiliki pandangan konsep masalah seperti itu, maka organisai akan jaya selamanya. Inovasi-inovasi baru akan bertaburan. Ide-ide baru akan semerbak. Organisasi maju dengan esensi sebenarnya, bukan esensi lip service.

Jika secara nasional, para pemimpin dan pengambil kebijakan berpandangan seperti itu, maka hidup di negeri ini indah. Tidak ada saling caci, saling nyinyir, dan saling menjatuhkan. Masalah itu harta karun kita bersama. Mari kita pecahkan bersama!

Dr. Djuwari, M.Hum adalah Dosen Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya. Presiden International Association of Scholalrly Publishers, and Editors (IASPER), dan Dewan Direksi (Board of Directors) of Community of ASEAN Researchers and Educators (CARE).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here