Impor Rektor: Rujuklah Wong Ndeso

0
235
Dr. Djuwari,
President of International Associaton of
Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER) Dosen STIE Perbanas Surabaya

Ada dua fenomena dua minggu terakhir ini terkait dunia pendidikan tinggi. Pertama, di dalam negeri sendiri. Itu kontroversi impor Rektor. Menristekdikti menggagas impor rektor. Gagasannya mengundang kontroversi. Kedua, di negeri tetangga, Filipina. Itu tentang Wong Ndeso, jadi Rektor di negeri Adikuasa. Ibu Tuminez, Wong Ndeso ini, jadi Rektor di Utah Valley University (UVU), Amerika.

Ide impor Rektor mencuat. Ibara inovasi, itu baru tahapan Difusi. Penyebaran ide. Lalu, ada resistensi. Ternyata besar juga resistensinya. Artinya, sulit untuk diadopsi. Jika dilakukan, maka bisa gagal tujuan utamanya. Singapore itu kecil, jumlah penduduknya dan lebih homogen. Indonesia, besar beraneka ragam. Implementasi strategi yang sama bisa diprediksi beda hasilnya.

Dari dua fenomena itu, perlu kita ambil jalan tengah. Belajarlah dari Wong Ndeso. Kita tertegun dengan kisah seorang desa di Filipina. Dia itu anak miskin. Hidup di wilayah kumuh. Hijrah ke negeri Paman Sam. Nasib baik di sana dengan segala upaya. Jadilah seorang Rektor PTN— UVU— di Amerika. Fenomena, bahwa Wong Ndeso pun bisa jadi orang nomor satu di negeri super maju.

Intinya, kirim juga para peneliti atau dosen ke luar negeri. Tidak tanggung tangung, ke universitas yang paling maju. Di samping kita mendatangkan peneliti atau dosen dari luar negeri, kirim sebanyak-banyaknya SDM kita ke universitas-universitas di luar negeri. Seperti impian Guru Besar UNIPA, Surabaya, Gempur Santoso, dalam tulisannya di SuaraNews. Bila perlu Wong Ngarit bisa glebar gleber ke luar negeri.

Fenomena Astrid Tuminez, yang hijrah ke Amerika, adalah testimoni jitu. Wong Ndeso Filipina ini akhirnya jadi orang nomor satu di UVU. Belajar dari fenomena ini. Kita harus yakin, di Indonesia juga banyak Wong Ndeso seperti di fgilipina.

Bahwa kita pasti punya SDM berkualitas. Yang jadi masalah, bisa saja iklim di negeri kita sendiri. Ibarat tanaman, tidak bisa tumbuh karena masalah. Tanahnya tandus. Jika itu, maka perlu pupuk. Pupuklah, agar tanaman yang di tanah tandus itu bisa subur. Tanah yang tandus disuburkan dulu.

Ambillah jalan tengah. Ibarat ekonomi, jangan banyak impor, tetapi boleh. Namun, impor itu juga diimbangi ekspor. Meski analogi ini beda, setidaknya, bisa memberikan kepercayaan diri SDM kita. Wong Ndeso, hidup melarat ala Astrid Tuminez bisa jadi orang nomor satu di negeri maju. Rakyat Indonesia ini banyak. Bidiklah mereka. Kirim SDM kita ke berbagai penjuru dunia yang dianggap jadi rujukan.

Jika perlu Wong Ngarit pun kirimlah ke sana— pinjam istilah dari Gempur Santoso. Jalan tengah itu, bisa ditempuh. Ajak tenaga ahli yang benar-benar super ahli dari luar negeri masuk ke dalam negeri. Kolaborasi itu istilahnya.

Bukan impor yang bermakna kita kalah. Kolabrasi berupa kerjasama. Saling meguntngkan itu lebih semurna dibanding gaya impor saja. Pertukaran bisa mahasiswa dan bisa antardosen. Mau meniru Simgapore? Jika melakukan perbandingan, maka lakukan dalam peta lengkap.

Singapore itu kecil dan homogin secara fisik., budaya, dan pernik-pernik lainya. Dalam teori inovasi, ingatlah teori sederhana inovasi oleh Snyder (1997). Ada tiga tahapan sederhana. Difusi, Adopsi, dan Implemenatsi/Inovasi. Kalau dalam taraf Difusi, penyeberan ide saja sudah resistensi, maka akan gagal tujuannya. Artinya, sulit mendapatkan Adopsi. Jika ini terjadi, maka hasilnya jangan mimpi mirip Singapore.

Indonesia ini besar. Penduduknya dan wilayahnya juga besar. Watak dan kulturnya bervariasi. Budaya, pikiran, sosial, dan nilai-nilai halus lainnya beraneka ragam. Intinya, Indonesia besar dan heterogin. Inovasi di tanah homogen sangat beda sekali jika itu di tanah heterogin. Perlu pendekatan. Jalan tengah itulah yang paling tepat. Kirim juga SDM kita ke luar negeri.

Belajarlah juga tentang Kaizen. Manajemen Jepang yang kondang itu. Mengapa manajemen Jepang tidak berhasil di Amerika? Di Jepang itu homogin.

Di Amerika itu heterogin. Ketika Imai Massaaki (1986) menerapkan Kaizen di negerinya sendiri, manajemen itu sukses sampai saat ini. Karena negeri Sakura itu lebih homogin. Ternyata, manajemen itu bisa diterapkan jika yang heterogin “dihomoginkan” lebih dulu. Dan, itu lama. Kisah ide Keluarga Berencana (KB) makan waktu 30 tahun masa Orde Baru waktu itu. Resistensi tinggi. Meskipun akhirnya sukses. Tetapi dunia pendidikan, tidak bisa lambat. Jalan pintas, itu jalan tengah.

Jalan tengah bisa. Marilah kita percaya diri. Bahwa SDM kita banyak. Kirim mereka ke luar negeri, di universitas yang bergengsi sekali. Sekali lagi, bila perlu Wong Angon dan Ngarit pun terbang ke luar negeri. Di samping kita memasukkan tenaga super ahli ke negeri kita sendiri, kirim Wong Ndeso ke ;uar geri. Pertukaran itu dalam bentuk kolaborasi.

Di situlah, akan terjadi interaksi. Interaksi yang menumbuhkan perilaku sama ketika dalam total immersion terjadi. Jadi, dengan belajar dari Wong Ndeso, Ibu Asrtid Tuminez, kita harus yakin. Jalan tengah itu akan lebih pas. Semoga. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here