Intelektual dan Jurnal Ilmiah

0
496
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

An intellectual is an extremely rational person; a person who relies on intellect  rather than on emotions or feeling (thesaurus.com)

Intelektual dalam kamus Thesaurus.com, diartikan sebagai orang yang sangat rasional; seseorang yang mengandalkan kecerdasan bukan pada emosi atau perasaan. Yang menarik di dalam definisi itu adalah ?bukan pada emosi atau perasaan.? Itu sebabnya, para intelektual di negeri dengan jurnal ilmiah yang syarat dipakai ukuran tidak perlu kagetan. Biasa-biasa saja!

Selama ini, kita sudah sering membaca artikel ilmiah popular di media. Tulisan yang menyoroti jurnal dan indeksnya. Utamanya, indeks scopus. Tidak tanggung-tanggung, yang mengkritisi juga para Guru Besar (GB). Bagi kalangan akademisi atau intelektual, tidak perlu menyebutkan tulisan tulisan itu. Sudah banyak. Wajar dan lumrah, sebagai sesame yang saling kritis.

Namun, kita tidak usah gundah.Dunianya sudah berganti. Semua tulisan itu wajar sesuai konteksnya sebagai kemerdekaan intelektual. Sejak awal sudah diprediksi bahwa dunia digital pengaruhnya banyak. Namun, sebagai intelektual, akan baik jika kita tidak kagetan.

Intelektual itu murni berpikir. Intelektual itu murni bertindak sebagai profesi suci. Etika keilmiahan harus selalu melekat. Itu sebabnya, intelektual murni tidak usah kaget dan gelisah. Pokoknya, serba rasional saja (extremely rational person). Kecuali jika karyanya tidak asli alias jiplakan. Jika asli, meski itu kadar ilmiahnya tidak setinggi langit, intelektual murni tetap bahagia. Bahagia dengan karya aslinya. Saya harus cerita sejarah singkat tentang ini.

Indeks jurnal itu kurang lebih lima tahun terakhir mulai dikenal publik di negeri secara besar-besaran. Namun, trend itu sudah wajar. Wajar dalam artian dunia sekarang dunia digital. Dulu semua jurnal ilmiah dicetak. Nilanya sederhana: sekian eksemplar, sekian kali terbit dengan ISSN. Saya kenal betul sebagai pengelola jurnal ilmiah 30 tahun lamanya.

Saat itu, jurnal kampus saya sendiri?Ventura? sudah didaftar dengan ISSN. Itu mulai 1989-an. Awalnya, bernama Kharisma. Kemduian, pendaftaran akreditasinya ke kantor Dikti, Jakarta. Saya bawa sendiri waktu itu. Saya datang dan menumuknya di meja kantor Dikti, khusus urusan jurnal. Begitu banyak dari berbagai kampus. Syaratnya, minimal tiga kali edisi, ISSN. Namun, ada yang menarik, yaitu jumlah distribusi. Waktu itu, minimal 300 eksemplar. Gampang dan sangat manual. Di situlah, jurnal kampus saya? Ventura? sudah diakreditasi kategori C. Super sekali waktu itu.

Saya tahu, tim yang ditunjuk sebagai evaluator itu dari beberapa universitas termasuk staf ahli di bidang jurnal di dalam Dikti itu sendiri. Sekitar awal 2009-an, sudah direakreditasi secara manual itu. Kemudian, reakreditasi pada 2017, sudah diakreditasi oleh Arjuna kategori A2. Sertifikat, saya ambil sendiri dan diserahkan langsung oleh Ristekdikti di PTS, di Malang saat itu. Diserahkan langsung oleh Dikti, melalui Dr. Sadjugo, pihak Ristekdikti.

Namun, yang menarik itu perjalanan jurnal ilmiah di Indonesia. Pada awal 2008, jurnal ilmiah masih belum semarak. Itu sebabnya, saya berkiprah di luar negeri. Saya berkenalan beberapa intelektual, utamanya di Filipina. Saya kenal juga teman dari India dan Amerika. Semua perkenalan itu, terjadi di setiap acara konferensi internasional. Saat itulah, saya mengajak mereka menerbitkan jurnal ilmiah.

Ada beberapa jurnal ilmiah yang saya terbitkan bersama mereka. Semuanya di Filipina. Kemudian, saya ajak mereka membuat organsiasi dalam bentuk asosiasi. Di sinilah, saya mulai punya banyak teman. Kami pun menerbitkan artikel ilmiah di jurnal-jurnal itu. Saat itu pun, kita masih belum mengenal semarak nama Scopus.

Dengan beberapa indeks Google Scholar, Crossref, dan sejenisnya. Maka, di situlah saya mulai menulis artikel bersama-teman-teman. Terbitnya, bisa melalui seminar dan dipublikasikan di jurnal kami itu. Sudah banyak, teman di Indonesia yang memanfaatkan jurnal-jurnal kami itu.

Seiring dengan itu, maka jurnal ilmiah di Indonesia mulai muncul sejak awal 2012-an. Kemudian, banyak para intelektual mulai menerbitkan artikel di jurnal inetrnasional. Jurnal yang terbit di luar negeri. Sampai banyaknya yang berkeinginan itu, maka muncullah artikel jurnal ilmiah yang abal-abal. Ada artikel dengan nama bodong dan univesitas abal-abal, karena berbayar, bisa terbit. Kita masih ingat, nama yang dipakai itu nama artis terkenal kita_Agnes Monika dan Inul Daratista. Saya lupa judulnya. Yang jelas terkait pertanian. Hampir semua sudah tahu itu.

Setelah itu, lebih heboh lagi muncullah nama Jeffrey Bealls. Dia ini cerdik sekali. Banyak intelektual kagetan. Percaya dan ?menyembah? daftar hitam itu. Inilah intelektual kagetan. Dia membuat daftar hitam (Black List). Dia menggunakan kriteria yang sangat unik ilmiah.

Namun, di dalam praktiknya, ada yang ganjil. Setiap jurnal ilmiah yang dilaporkan, tanpa verifikasi penerbitnya, langsung di-blacklist. Salah satunya, adalah jurnal saya di luar negeri. Jangan heran, semua kagetan. Jangan heran, daftar hitamnya Jeffrey Bealls pun pernah diunggah di website Dikti sebagai jagal?jurnal abal abal?tidak diakui semua artikel yang diterbitkan di daftar hitam itu.

Nama Jeffrey Bealls, kemudian, tiba-tiba lenyap. Tanpa diketahui publik, situsnya shutdown. Heboh seluruh dunia. Bahkan para intelektual di negara-negara Eropa yang jurnal ilmiahnya banyak masuk di daftar hitamnya itu, juga ikut heboh, heran.

Mereka itu benar, karena mereka bertsandar. Masuknya daftar hitam lebih banyak konspirasi atas data laporan, tanpa verifikasi penerbitnya. Mampus lah, yang terdaftar hitam! Bagi intelektual kagetan, itu bagaikan gempa, dengan masuknya daftar hitam.

Dari semua perjalanan itu, ada dua jenis intelektual. Pertama intelektual tenang (highly rational). Kedua, intelektual kagetan (highly emotional). Kelompok kedua itu, setiap perjalanannya selalu kaget. Seakan-akan dunia perkembangan itu seperti gempa. Berlarian, berteriak, dan ada pula yang sampai menangis menejrit-njerit.

Maklum, karena sebagian besar berprofesi dosen alias guru. Dengan ritme sejarah jurnal ilmiah sebagai standar, tentunya berkaitan dengan nasib. Nasib golongan. Nasib tunjangan. Nasib gaji pokok. Nasib segalanya, termasuk nasib keluarga. Jadi, kagetan itu lumrah. Namun, ketenangan intelektual tidak emosional itu yang lebih fitrah (a person who relies on intellect rather than on emotions or feeling: thesuaurs.com).

Dengan adanya indeks scopus itu sebagai barometer, kita tidak perlu kaget. Kita yakin, lambat laun kita sadar. Belajarnya dari sejarah orang lain. Belajarlah dari sejarah bangsa lain. Semua itu, pernah terjadi di negra-negara maju. Mereka yang sudah maju itu dulu juga mengalami seperti apa yang kita alami saat ini. Biarlah kebijakan berlaku. Biarlah kita tenang. An intellectual is an extremely rational person; a person who relies on intellect rather than on emotions or feeling (thesaurus.com).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here