Jurnal Internasional: Pesan untuk Mendikbud

0
191
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Dalam dengar pendapat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Pak Nadiem Makarim, memberi wacana baru. Di satu sisi, dalam pernyataannya, dosen tidak harus bergantung pada jurnal internasional. Di sisi lain, kondisi perkembangan penerbitan jurnal di Indonesia sudah berkembang pesat. Dari sini, ada hal yang berbalik arah dengan tujuan semula. Seiring perkembangan penerbitan jurnal ilmiah di Idnonesia, saya secara pribadi setuju dengan pendapat Pak Menteri. Namun, saya perlu memberikan paparan sejarah singkat dengan beberapa pesan atau masukan.

Pertama, sebelum marak jurnal sistem daring, saya sudah mengelola jurnal sejak 1989. Pertama kali, jurnal kampus saya terakreditasi C. Akhirnya, sekarang sudah terakreditasi Sinta 2. Pada awal 2009, saya sudah mulai berkecimpung di dunia jurnal ilmiah internasional di luar negeri. Saat itu, belum marak jurnal OJS (open journal system). Saya bahkan mendirikan organisasi internasional khusus penerbitan, editor, dan reviewer, yaitu International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER). Saya sebagai President di IASPER ini.

Sejak itu, saya menerbitkan artikel penelitian saya di beberapa jurnal ilmiah di kalangan organisasi saya sendiri. Namun, penerbitnya ada juga oleh universitas di luar negeri. Beberapa artikel saya sudah terbit di jurnal ini. Selama 7 tahun saya sudah menerbitkan 7 artikel ilmiah. Bahkan, banyak teman-teman saya dari Indonesia sudah menerbitkan artikelnya di jurnal dalam lingkungan organisasi ini. Semua jurnal ini sudah online.

Kemudian, di Indonesia mulai marak jurnal online. Muncullah beberapa jurnal online di Indonesia. Bersamaan dengan itu, Kementerian Pendidikan dipisah menajadi dua: Kemenristek dan kemendikbudnas. Kemenristek khusus perguruan tinggi (PTS dan PTN). Kemendikbudnas, khusus Dari pemecahan kementerian pendidikan, maka Kemenristek?saat itu Prof. Dr. Mochammad Nasir? menambah semarak munculnya jurnal-jurnal ilmiah online.

Dari sini, kemudian muncul ide jurnal internasional bereputasi. Anehnya, yang dirujuk hanya khusus jurnal ilmiah terindeks scopus. Hampir semua dosen di seluruh negeri, keranjingan nama scopus.

Pada awalnya, banyak yang terjebak. Muncullah berbagai iklan jurnal dengan menamakan bereputasi dan terindeks Scopus. Bahkan ada banyak yang harus bayar. Tidak tanggung-tanggung, ada yang harus bayar belasan juta Rupiah. Ada yang lebih murah kira-kira 2 atau 3 juta Rupiah. Maka berbondong-bondionglah para dosen menerbitkan artikelnya dengan bersusah payah: bayar uang.

Di dalam pediode saat itu juga, mucul juga jurnal abal-abal. Tidak sedikit berita artikel terbit di jurnal bereputasi Q3 dean Q4. Namun, juernal-juernal tersebut ada yang lenyap beberapa tahun berikutnya. Ini menandakan, bahwa kita sudah buta. Buta tidak paham mana jurnal yang baik dan mana yang abal-abal. Akhirnya, penulis atau author lah yang dirugikan.

Yang lebih lucu lagi, ada nama Jeffrey Beal. Cerdik amat mantan laboran di sebuah universitas di Amerika ini. Dia membuat daftar beberapa jurnal yang dinilai sendiri (single person) sebagai jurnal predator: abal-abal. Dia mebuat blog khusus. Di Antara ratusan ribu yang diblack list, ada dua jurnal saya inetrnasional di luar negeri.

Anehnya, tanpa direview dan dievaluasi, langsung di black list. Ketika saya Tanya, dia menjawab bahwa itu berdasarkan laporan seseorang. Jadi, masuknya black list itu dari laporan orang. Inilah kata teman-teman saya di luar negeri dinamakan terosis akademis. Yang bikin lucu, blognya itu (maaf bukan webstite dalam bentuk Badan Resmi Akreditas, tetapi blog pribadi) pernah dimuat di situs Ristekdikti beberapa waktu, saat itu.

Jadi, untuk Pak Mendikbud, Nadiem Makarim, saya setuju ide Bapak agar dosen tidak harus menerbitkan di jurnal jurnal internasional. Banyak perilaku yang menyimpang dengan adanya fanatisme jurnal inetrnasional yang dirujuk hanya satu saja: scopus. Saya setuju bahwa Scopus itu baik. Namun, saya tidak setuju jika jurnal ilmiah lain yang dikelolah secara ilmiah, jujur, dan berasaskan keilmihanan tidak digubris.

Saya berani taruhan bahwa tidak semua artikel jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal ilmiah selain terindeks Scopus itu selalu lebih buruk daripada artikel jurnal yang terindeks Scopus. Inilah sisi keburukan cara melihat jenis artikel ilmiah. Sikap ilmiahnya sering lepas dari kriteria yang sebenarnya. Karena fanatik satu jurnal khusus terindeks satu itu saja, maka cenderung menimbulkan perilaku penilaian rendah pada jurnal lain: menyimpang dan parah.

Intinya, saya setuju kalau dosen tidak harus menerbitkan artikelnya di jurnal inetrnasional. Tetapi, mereka boleh menerbitkannya di jurnal ineternasional. Saelain itu, jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh perguruan tinggi di Indonesia itu juga bisa ada yang disamakan dengan Scopus. Misalnya, jurnal yang sudah terindeks Sinta 1 dan Sinta 2, disamakan dengan Scopus Q1, dan Q2. Begitu juga, jurnal ilmiah yang terindeks Sinta 3 dan 4, disamakan dengan scopus Q3 dan Q4. Kapan kita menghargai kinerja bangsa kita sendiri kalau tidak sekarang juag? Kita harus bangga.

Dengan begitu, kita tidak akan menyia-nyiakan keberadaan jurnal ilmiah di Indonesia. Intinya, ada kesinambungan antara kinerja Menristek sebelumnya dengan saat ini. Bedanya, Menristek sebelumnya itu cenderung fanatisme Scopus.

Saat ini, Kemendikbud, Pak Nadiem Makarim, bisa memberikan kebebasan. Dosen boleh menerbitkan artikelnya di jurnal ilmiah internasional di luar negeri maupun di dalam negeri. Mereka boleh menerbitkan artikelnya di jurnal terindeks Scopus atau jurnal internasional lain.

Yang penting, adalah kejujuran penerbitnya. Kejujuran penulisnya. Kejujuran editornya. Kejujuran reviewnya. Pokoknya, semua jurnal yang berazazkan nilai-nilai keilmiahan. Sikap ilmiahnya ditonjolkan. Dan, kriteria itu sudah ditata rapi oleh Kementerian sebelumnya. Ada kriteria dalam akereditasi yang sudah ditentukan oleh Badan Akreditasi Jurnal ilmiah Indonesia, yaitu Arjuna. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here