Logistik dan Logika

0
411
Dr. Djuwari
Dosen Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya,
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)

Apa hubungan logistik dan logika? Jawabannya tidak pernah ada bahasan itu. Namun, saya coba kaitkan logistik dengan logika.

Logistik merupakan kajian manajemen produksi. Misalnya, masalah manajemen rantai penawaran barang atau jasa dan transportasi dari produsen ke pelanggan. Secara umum, rantai hubungan ini disebut channel of distribution.

Logistik dalam supply chain management (SCM) merupakan kunci utama. Baca saja beberapa edisi buku Pemasaran oleh Phillip Kotler dan Garry Amstrong. Perusahaan bisa dinilai efisien atau boros, dari segi logistiknya. Bisa berupa prosedur mbulet dan diulang-ulang dari divisi satu ke divisi lain dengan kriteria sama. Ini pemborosan.

Apa itu logika? Saya hanya mengutip Guru Besar Sastra dan Bahasa, almarhum Budi Darma, MA., Ph.D., dalam bukunya Bahasa, Sastra, dan Budi Darma (2007). Di halaman 9, dia menyindir pikiran ruwet manusia.

Banyak di antara kita agar dianggap hebat, dalam tulisan karya ilmiahnya, senantiasa banyak menyajikan gambar garis dan kotak-kotak. Saking ruwetnya, sering terjadi tidak nyambungnya teori yang dikutip.

Garis-garis dan kotak-kotak, gambaran pola pikir atau prosedur rumit. Padahal, dengan bahasa sederhana lah pikiran bersih itu bisa dicerna pembacanya. Inilah saya gambarkan dengan istilah berpikir alias berlogika. Logika berpikir memang tidak harus dalam ulasan rumit. Sampaikan pesan itu dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain.

Ada kelemahan di dalam negeri ini pada manajemen bidang logistik. Kita masih ingat, masalah distribusi naskah Ujian Nasional (Unas).

Kesulitannya pada logistik ke daerah terpencil. Ini tidak ada akses, sarana jalan. Itu sebabnya, dulu ada pelaksanaan ujian bertahap. Kelemahan pembangunan di negeri ini pada logistik. Itu sebabnya, pemerintah saat ini genjot pembangunan jalan, termasuk jalan Toll.

Saya masih ingat, konferensi internasional di Selangor, Malaysia, pada 2006. Saya waktu itu menjadi pembicara kedua dengan rekan kerja Peppy Diptiana, SE. M.Si., sebagai pembicara utama. Ada salah satu pembicara kunci dari Amerika yang memaparkan hasil penelitiannya di Papua Nugini. Ada 14 hambatan sebagai penyebab bangsa dan negara itu terbelakang. Dari 14 hambatan itu, ada tiga urutan utama yang membuat bangsa di dunia itu terpuruk dan tertinggal kemajuan.

Pertama adalah money politics. Kedua, adalah tidak berwibawanya leadership suatu negara. Dan, ketiga buruknya logistik. Dua faktor pertama itu saling berkaitan: lingkaran setan. Jika money politics terjadi, otomatis wibawa kepemimpinannya merosot. Bahas ini memang sulit.

Mari kita bahas yang nomor tiga, logistik. Logistik bikin negera tidak bisa cepat dan efisien. Jika channel of distribution itu lemah, maka hubungan perusahaan dengan pelanggan lama dan jauh. Meski sekarang ada online system, pengiriman dengan sarana logistik itu masih erat.

Jika bangsa di wilayah terpisah-pisah akibat tidak ada jalan akses bertemu dan berinteraki, bangsa ini terpuruk. Mereka tidak bisa beriteraksi satu sama lain. Jika itu layanan sirkulasi produk atau jasa, pasti terjadi kelambanan. Mutu menjadi buruk. Tidak ada dinamisasi. Tidak ada kemajuan pesat. Tidak ada pekerjaan yang efisien. Itulah, pentingnya menyederhanakan proses. Logistik dan logika itu sama.

Jadi, logistik itu ibarat gambaran pola pikir manusia. Makin terhambat, pikiran manusianya tergambarkan juga pada majamen logistiknya. Jika lambat dan molor makan waktu lama, itu gambaran pikiran manusianya yang lambat dan ruwet pula. Logikanya tercipta dalam proses logistik yang diciptakannya.

Kecerdasan suatu bangsa ternyata dapat dilihat dari segi pola logistiknya. Jika dalam skala mikro, sebuah organisasi atau perusahaan, maka di situlah gambaran logika berpikirnya para pelaku organisasinya.

Jadi, logistik dan logika itu ternyata bagaikan uang logam bersisi dua. Kita harus introspeksi lewat logistik dan logika dalam sebuah uang logam. Jika satu sisi mbulet dan lamban, berarti itu gambaran sisi keduanya yang rumit dan ruwet. Bangsanya berpikir ruwet dan mbulet. Pada akhirnya, bangsa ini senantiasa menjadi bangsa nomor tiga (the third world) alias bangsa terbelakang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here