Lokakarya Sungai Kebijakan Daerah terhadap Sungai yang Melintas Usulkan Normalisasi Sungai Sadar dan Bendungan Wiyu melalui E-Musrenbang

0
924
: Lokakarya Sungai Kebijakan Daerah terhadap Sungai yang Melintas Usulkan Normalisasi Sungai Sadar dan Bendungan Wiyu melalui E-Musrenbang

Mojokerto – IP.News : Kondisi existing pada bagian atas wilayah Kabupaten Mojokerto (Gunung Penanggungan, Arjuno, Welirang dan Anjasmoro yang bermuara di Sungai Porong dan Sungai Brantas) mulai gundul, sehingga menyebabkan daya resap buruk dan dapat memicu banjir. Hal tersebut dipaparkan Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, saat menjadi narasumber dalam acara Lokakarya Sungai “Kebijakan Daerah terhadap Sungai yang Melintas” di Hotel Vanda Gardenia, Trawas, Kamis 23 Pebruari 2017 pagi.

“Lahan atas di Kabupaten Mojokerto yang gundul dapat mengakibatkan debit run off atau air limpasan Sungai Brangkal dan Sungai Sadar menjadi besar. Efek negatifnya dapat memicu banjir yang memanjang pada 5 kecamatan yakni Mojoanyar, Bangsal, Mojosari, Pungging dan Ngoro. Kabupaten Mojokerto berusaha untuk meminimalisir hal tersebut dengan konservasi lahan-lahan kritis, membangun sumur resapan di daerah atas dan normalisasi saluran irigasi, melalui pendanaan APBD dan CSR Kabupaten Mojokerto,” papar bupati.

Dirinya menjelaskan jika setiap tahunnya Kabupaten Mojokerto menyampaikan usulan terkait normalisasi. Usulan tersebut telah direspon dengan adanya kegiatan normalisasi Sungai Sadar yang akan dilakukan pada tahun 2017 dan tahun 2018 dengan anggaran sebesar Rp 100 M melalui APBN. Bupati juga menambahkan bahwa pembangunan bendungan sejatinya dapat mengatasi permasalahan akibat daya rusak tersebut.

“Membangun Bendungan Wiyu di Desa Wiyu, Kecamatan Pacet dan Bendungan Lebak Sumengko di Desa Lebakjabung, kecamatan Jatirejo, sebenarnya bisa digunakan sebagai solusi. Bendungan bermanfaat untuk konservasi air di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, juga untuk menaikkan muka air tanah. Kita sudah usulkan itu melalui E-Musrenbang sehingga dapat diusulkan lewat APBN,” urainya.

Ancaman banjir memang tidak main-main. Kabupaten Mojokerto dilewati oleh Sungai Lamong yang merupakan ordo tiga dari Sungai Bengawan Solo, yang juga membawa daya rusak pada tiga kabupaten yakni Lamongan, Gresik dan Mojokerto. Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, yang berada di sepanjang perbatasan Kabupaten Mojokerto-Kabupaten Gresik (sebagai daerah hilir), hampir tiap tahun terancam banjir. Berangkat dari sini, Pemerintah Kabupaten Mojokerto telah mengusulkan kegiatan penguatan Sungai Lamong dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.

“Kita juga usulkan kegiatan perkuatan Sungai Lamong ke BBWS Bengawan Solo melalui E-Musrenbang. Respon belum kita terima, tapi kita berharap yang terbaik,” lengkap bupati.

Kepala Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur, Dachlan Karim, dalam acara kemarin juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas sumbangan ide dan kepedulian para stakeholder yang berperan aktif dalam pengelolaan sungai di Jawa Timur.

“Tujuan lokakarya sungai adalah terbangunnya jejaring kerja lebih solid antar pemangku kepentingan atau stakeholder baik pemerintah daerah, para aktivis lingkungan maupun masyarakat. Menurut undang-undang, sungai dikelola oleh pemerintah pusat dan Pemprov. Namun tetap ada peran Pemerintah Daerah, karena sungai diciptakan untuk hajat hidup orang banyak. Untuk itu kami ucapkan terimakasih atas kerjasama dan kepeduliannya. Usulan dari lokakarya hari ini, selanjutnya akan kita bawa pada Kongres Sungai ke-III yang segera  dilaksanakan di Banjarmasin tahun ini,” terang Dachlan mengutip sambutan Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, yang berhalangan hadir. (Jay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here