Media Sosial: Isu Panas dan Solusi

0
1250
Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum
Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Seiring dengan panasnya hawa politik, peran media itu sangat vital dalam mendinginkan suasana di negeri ini. Bayangkan saja, media sosial— dengan berita-berita panas mendekati pilihan kepala daerah (Pilkada) dan pilihan presiden (Pilpres)— semakin ganas.

Caci-maki dengan dalih mendukung tokoh idolahnya, sudah mewarnai media sosial. Tidak sedikit nama-nama media berita yang mengekpos berita para tokoh atau calon pimpinnannya dengan berbagai deskripsinya: positif dan negatif.

Di sisi lain, ada juga rival pendukungnya, dengan memberikan komentar yang pedas dan sering dengan ungkapan emosional Tidak sekadar marah, bahkan juga mengejek atau merendahkan tokoh idola rivalnya. Banjirlah berbagai komentar di media khususnya media social. Facebook utamanya juga tidak sedikit ditemukan postingan-postingan gambar tokoh dan berita lengkap dengan link-link nya.

Di bawahnya berderetan komentar pedas dan saling mengungkapkan kata-kata merendahkan. Dalam suasana kemasyarakatan digital (digital society), sudah jelas bahwa anggotanya beragam.

Mereka memiliki latar belakang yang berbeda: tingkat pendidikan, ekonomi, kemampuan berpikir, budaya, dan latar belakang kehiudpan lainnya. Intinya, anggota masyarakat digital itu sangat heterogin.

Dalam dimensi seperti itu, maka peran media akan lebih baik diarahkan ke tujuan mendinginkan semua anggota masyarakat digital. Di sinilah pentingnya peran media dalam mendidik rakyatnya (anggotanya).

Permasalahan dalam anggota masyarakat digital itu adalah tidak ada struktur pimpinan dan anggota serta perannya. Tanpa organisasi jelas, sehingga pertukaran informasi dalam proses komunikasinya sangat tumpang tindih.

Tumpang tindih dalam komunikasi karena tidak setiap anggota masyarakat digital memiliki peran fungsi dalam kedudukan yang jelas. Di sinilah, transaksi informasi datang silih berganti, bergiliran dari berbagai macan jenis, sifat, dan perangai para pengguna media sosial. Yang terjadi adalah tumpang tindih komentar tanpa ada solusi. Tidak ada moderator yang jelas.

Tidak ada peserta yang jelas, tidak ada sumber pemberi nasihat yang jelas. Inilah yang dimaksud dengan tumpang tindih anggota masyarakat digital.

Itu sebabnya, hanya diperlukan para pengguna media sosial yang memiliki kesadaran tinggi. Kesadaran tinggi itu, berupa informasi yang mendinginkan dan secara objektif memberikan pemahaman tanpa tendensi apa pun. Sebagai anggota masyarakat digital, memang boleh komentar dengan memberikan data atau pemikiran logis secara adil kepada kedua belah pihak pendukungnya dan rivalnya.

Bukan berarti pasif dalam media sosial. Justru perannya dibutuhkan dalam suasana panasnya hawa politik saat ini. Perannya memberikan komentar dan penjelasan yang tidak memberikan tendensi-tendesi saling merendahkan.

Berilah komentar secara logis dengan kata-kata mendidik. Contoh, jika ada postingan terkait dengan salah satu tokoh, kemudian dikomentari para pendukung dan oposannya, maka peran anggota masyarakat yang baik itu—dengan kesadarannya yang tinggi—adalah menengahi, memberi ulasan yang bijak logis tanpa merendahkan yang lain.

Mereka berada di tengah-tengah.
Sekali lagi bukan mendukung juga bukan merendahkan, tetapi tetap memberikan komentar dengan logis dan analistis, tanpa perasaan emosional. Logis, praktis, dan bisa diterima oleh akal sehat. Inilah peran media dalam mendidik rakyat. Dibutuhkan para pemegang akun atau users media sosial yang memiliki kesadaran tinggi.

Selanjutnya, peran pemerintah juga sangat dibutuhkan. Perannya bisa disalurkan melalui departemen terkait dengan informasi dan komunikasi. Kementrian ini perlu membuat jaringan di berbagai daerah untuk mengaudit berbagai informasi.

Kemudian, dibuatkan media sosial lain yang memberikan pendampingan informasi positif. Intinya, media sosial-media social ini lebih banyak berupa jaringan nasional. Perannya untuk menyampaikan berita-berita positif dan mendidik.

Yang terkahir adalah peran para tokoh masyarakat. Mereka tidak harus diam. Figur-figur publik idola masyarakat sangat diperlukan dalam andilnya untuk menentramkan publik. Masyarakat digital sangat rawan jika tidak dikendalikan.

Mereka dituntut perannya dalam memberikan pernyataan-pernyataan yang mendidik. Mereka juga dituntut perannya dalam memberikan siraman rohani berupa nasihat-nasihat yang mendinginkan massa. Dengan tindakan seperti itu dan serentak, maka suasana mendekati pilkada dan pipres akan menjadi situasi yang kondusif. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here