Menyimak Minat Menulis Guru SD

0
1466
Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum
Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Baru kali ini dan tahun ini saya harus berhadapan dengan kurang lebih 150 orang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di wilayah Timur Sidoarjo ini. Banyak yang berminat belajar menulis. Dari sekian jumlah guru itu, mereka rata-rata berhasyrat agar bisa menulis karya ilmiah. Sebenarnya, ini diawali dua tahun lalu. Ketika itu, saya memberikan pelatihan menulis mereka. Outputnya berupa buku kumpulan gagasan mereka. Namun, waktu itu hanya 30 orang guru dari satu SDN saja.

Untuk tahun ini, bahkan lebih banyak sekolah yang mengikuti sehingga pesertanya membludak. Ketika pertama rapat persiapan pelatihan ini, mereka menginginkan semuanya bisa menulis. Bahkan, mereka juga ingin menulis buku ajar untuk siswa siswi mereka. Dari sini, bisa diprediksi bahwa guru-guru SD memang masih besar semangat untuk belajar.

Ada yang usul agar pelatihan ini terus berlangsung setiap tahun. Mereka menghendaki agar program ini tidak berhenti di sini saja. Program pelatihan menulis bagi guru guru SD ini, diharapkan berkelanjutan. Ada pula di antara mereka ingin bisa menulis buku ajar. Memang buku ajar itu sangat penting untuk memberikan materi sesuai dengan suasana akademik di lingkungan sekolah mereka sendiri.

Perlu diketahui, bahwa peserta tersebut tidak hanya guru-guru muda saja. Di antara mereka, bahkan ada beberapa guru yang hampir pensiun. Intinya, minat belajar mereka tidak berhenti hanya pada saat menjadi guru muda saja. Ada indikasi mereka ingin belajar seumur hidup (life-long learning). Mereka ingin mengikuti perkembangan zaman. Mengapa demikian? Tidak lain adalah, bahwa dalam pelatihan ini salah satu syaratnya adalah mereka harus membawa laptop.

Dengan laptop itu, maka mau tidak mau mereka harus bisa menggunakannya. Maklum, pada dua tahun lalu, dalam pelatihan itu, ada di antara mereka belum bisa menggunakan komputer. Saat itu, pelaksanaannya di kampus saya, STIE Perbanas Suarabya. Mengingat laboratorium komputernya maksimal 30 orang, sehingga pesertanya dibatasi hanya 30 orang guru saja. Adapun pelatihan tahun ini, pesertanya hampir 150 orang guru berdasarkan rapat dua hari lalu.

Ada beberapa hal yang perlu ditarik benang merahnya dari kisah pelatihan ini. Pertama, program pendidikan nasional dalam jajaran dinas pendidikan di seluruh Indonesia perlu dikaji sumber dayanya (SDM). Jika masih memungkinkan, maka pelatihan menulis buku ajar itu sangat penting. Guru akan lebih mudah memberikan materi dalam buku yang mereka tulis sendiri.

Kedua, terkait dengan rancangan program. Sebuah rancangan yang memerlukan desain besar (grand design) oleh pemerintah. Jika rancangan ini dilakukan secara serentak, maka akan terjadi peningkatan modal SDM guru dalam menulis. Apalagi, jika yang mereka tulis itu adalah materi ajar untuk siswa-siswinya. Materi yang dirancang berdasarkan pengalaman mengajar di kelas akan memberikan dampak yang luar biasa. Sebaliknya materi ajar yang sudah jadi yang dibeli di toko oleh penulis lain, tidak bisa menjamin materi itu memeniuhi kebutuhan dasar masing-masing kondisi sekolah.

Ketiga, adalah, penyediaan dana secara nasional dalam RAPBN. Pendidikan nasional dan rancangan peningkatan gairah menulis guru, bisa ditunjang dengan dana APBN. Dengan rancangan besar dan sumber dana yang jelas secara nasional, maka minat guru dalam menulis itu akan tercipta secara holistik nasional. Jika ini bisa dilaksanakan, maka di negeri ini akan muncul SDM guru berkualitas tinggi. Mereka adalah guru dengan kreativitas penulisan karya tulis untuk anak didiknya. (**)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here