Mesin Tata Bahasa dalam Karya Ilmiah

0
530
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya 

Ada yang menarik jika kita mengamati mesin tata bahasa Inggris (grammarly machine). Dari pengalaman sebagai editor dan reviewer sejak 1989, saya menemukan beberapa hal yang menarik dalam penulisan karya ilmiah. Dalam beberapa hal, mesin tata bahasa ini sangat akurat.

Misalnya, tanda baca dan kalimat panjang dan mbulet (wordy sentences). Namun, ada juga beberapa segi tertentu, mesin ini lemah sekali.

Dari perjalanan penyuntingan baik jurnal luar negeri maupun jurnal dalam negeri, saya menemukan hal yang sama. Namun, perlakuan setiap penentu kebijakan bisa saja berbeda. Keputusan editorial jurnal yang satu bisa saja menerima sesuai hasil koreksi mesin tatabahasa dan sarannya tersebut. Kemudian, mereka memberikan kepada penulis (author) untuk mengonsultasikan kepada ahli bahasa.

Di sisi lain, bisa saja editorial jurnal memberikan artikel tersebut pada tim editor yang memahami teks ilmiah dengan terminologi dan teknis tata bahasa dengan pertimbangan ilmu tata bahasa (linguistic consideration). Dengan keputusan ini, artikel tidak sampai diberikan kepada penulisnya beserta komentar tata bahasanya.

Contohnya, ada beberapa jurnal ilmiah di luar negeri yang menunjuk saya sebagai editor dan reviewer. Mereka selalu memberikan artikel kepada saya setelah diproses dengan mesin tata bahasa. Artikel itu saya baca sebelum mereka memberikannya kepada penulisnya. Saya amati ada sebagian besar bahwa mesin tata bahasa itu masih belum mengadopsi teknis penulisan ilmiah.

Pertama, bahasa ilmiah terkait dengan istilah khusus (technical terms). Istilah-istilah khusus ini belum semuanya diadopsi oleh mesin tata bahasa. Misalnya, dalam ilmu bahasa (linguistics), ada istilah interlanguage (bahasa dalam proses pembelajaran). Di dalam artikel tersebut, mesin tata bahasa memberikan garis warna merah. Artinya, itu salah.

Kemudian, mesin tata bahasa itu menyarankan pilihan (alternatif). Kata interlanguage disarankan untuk diubah menjadi kata international language. Jika ini dituruti, maka esensi artikel ilmiah tersebut pasti buruk. Penalarannya (reasoning) secara ilmiah gugur. Yang jelas, artikel ilmiah tersebut menjadi tidak ilmiah.

Ada lagi di bidang ilmu ekonomi. Beberapa istilah yang sudah biasa dikenal oleh ilmuan ekonomi ada yang dinyatakan salah: diberi garis bawah merah. Misalnya saja, istilah account receivable (piutang) dan account payable (utang). Dengan proses mesin tata bahasa, dua istilah yang sudah umum tersebut dinyatakan salah dengan garis merah.

Mesin tata bahasa itu menyarankan mengganti menjadi receivable account dan payable account. Ditinjau dari segi menerangkan dan diterangkan (head and modifier) tata bahasa Inggris, memang saran tersebut betul. Namun selama ini, itulah yang senantiasa dipakai dalam ilmu ekonomi: keuangan dan akuntansi. Semua kata kunci (keywords) dinyatakan salah. Itu semua terhitung di seluruh teks.
Yang paling unik jika artikel ilmiah itu dalam ilmu kedokteran, termasuk kedokteran gigi yang lebih spesialis.

Beberapa tahun lalu, saya sering menerima konsultasi terkait artikel ilmiah bidang kedokteran. Hasil dari proses mesin tata bahasa, banyak kesalahan. Secara gramatikal, artikel ilmiah tersebut rendah dan tidak memenuhi standar jurnal ilmiah.
Banyak yang digaris bawahi merah.

Sebagian besar itu istilah kedokteran gigi. Lalu, saya diskusi dengan penulisnya secara tatap muka agar bisa mendapatkan jawaban dengan jelas. Saya lupa kata-kata semua itu, meskipun saya masih menyimpan sebagian di file laptop yang lama.

Yang menarik adalah diskusi dengan penulsinya. Saya minta konfirmasi apa semua itu salah semua. Itu lengkap dengan saran mengganti dengan beberapa aklternatif di dalam komentar mesin tata bahasa. Celakanya, hampir semuanya tidak benar menurut penulisnya. Jika itu diubah justru malah salah.

Semua di atas, terkait dengan istilah. Belum lagi kelemahan yang lain. Misalnya, mesin tata bahasa tidak bisa menganalisis sisi organisasi pemikiran (reasoning). Dalam artikel ilmiah, ada istilah moves (= maaf, saya terjemahkan bebas sama dengan retorika). Untuk ini, baca buku saya tentang organisasi pemikiran dalam abstrak karya ilmiah internasional terbitan Indeks Jakarta.

Setiap paragraf, bahasa ilmiah itu ada organisasi pikiran. Misalnya, kalimat utama dan penjelas. Kalimat utama bisa deduktif dan induktif (di awal dan di akhir paragraf). Jika kalimat utama ada di awal, itu paragraf jenis deduktif. Jika kalimat utama ada di akhir itu jenis paragraf induktif. Ini semua pembaca sudah tahu. Ada pula paragraf campuran: kalimat utama ada di awal dan di akhir, meskipun cara penulisannya agak berbeda.

Di antara beberapa paragraf, ada organisasi move (retorika). Di sinilah pentingnya editor jurnal ilmiah untuk memahami alur cerita. Sistematika pikiran dan alur ini dapat menggiring menuju akhir dalam bentuk rarangka pemikiran penelitiannya (research framework). Baik buruknya artikel ilmiah itu justru ada di bagian ini.

Intinya, baik dalam penulisan paragraf maupun antarparagraf, dapat ditemukan novelty: kebaruan pemikirannya. Banyak kelemahan artikel ilmiah itu ada di bagian ini. Wajar saja jika penelitian itu ditarget atau jadwal harus terbit karena persyaratan hibah dari pemerintah. Saya pun dengan tim peneliti hibah pernah mengalami itu. Namun, penerbit jurnal dan editornya harus jeli di bagian ini. Di bagian inilah mesin tata bahasa tidak bisa mengadopsi.

Masih ada beberapa poin penting belum teradopsi mesin tata bahasa. Editor bahasa di luar negeri selalu memahami bahasa Inggris yang bukan penutur asli. Namun, organisasi tulisan ilmiah itu lebih penting karena sulit diperbaiki jika editor bahasa tidak menguasai bidang atau disiplin ilmu dalam artikel ilmiah itu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here