Pahlawan Berpangkat

0
112
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Ada fenomena unik dalam ranah pendidikan. Berita penyematan tanda pangkat guru menuai kritik. Dari pangkat di pundak, guru bisa dilihat kategorinya. Kategori kedudukan. Kategori pengalaman. Kategori keilmuan. Kategori kepakarannya. Kategori kompetensinya. Mudah-mudahan itu semua simbol yang dipresentasikan sebuah pangkat.

Secara pribadi, saya sendiri tidak bingung. Pakai pangkat. Tidak pakai pangkat. Semua itu simbolis. Kita tahu, kita sudah terbiasa hidup simbolis. Simbol religious. Simbol alim. Simbol kaya. Simbol keningratan. Bahkan, bisa jadi symbol trah. Pokoknya, semua itu symbol. Semua itu sudah ada di dalam kehidupan kita. Biasa-biasa saja.

Mungkin, publik mengaitkannya dengan penyataan Mendikbudnas, Pak Nadiem Makarim. Pada awalnya, menteri ini banyak pernyataan kontroversial. Status akreditasi tidak menjamin. Gelar tidak menjamin. Jadi, secara prinsip, symbol-simbol itu tidak jaminan. Semua itu tidak menjamin kompetensi yang sebenarnya. Semua itu, tidak menjamin sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu: berkompetensi.

Dua sisi paradox itulah yang menjadi ramai. Ramainya kontroversi seragam dengan pangkat di pundak. Guru akan mengenakan baju dengan pangkat. Apa itu pakaian. Apa itu kostum? Apa itu seragam. Yang jelas, baju yang dikenakan orang itu bermakna. Baju yang dikenakan orang itu bisa status. Baju yang dikenakan orang itu bisa budaya.

Pada zaman Yunani Kuno dan kebudayaan Cina Kuno, bahwa pelindung tubuh, pakaian itu banyak maksudnya. Bisa jadi, untuk melindungi hawa dingin. Berarti, pakaian tebal. Untuk adaptasi hawa panas, berarti pakaian tipis.
Pada zaman purbakala, pakaian bisa bermakna banyak. Pakaian bisa symbol kesederhanaan. Ini jika pakaiannya sederhana. Pakaian dengan bahan sederhana. Pakaian dengan bahan sederhana. Semua serba sederhana.

Pakaian bisa symbol kedudukan. Seragam bisa sebagai symbol komunitas. Kostum apa pun bisa sebagai symbol kelompok social. Seragam warna hijau juga memberi warna kelompok social. Seragam warna biru juga merepresentasikan kelompok social. Bahkan warna merah pun bisa merefleksikan sebuah perkumpulan.

Dalam dunia politik, warna sangat dominan. Lambang-lambang partai politik juga berbeda-beda. Mereka menggunakan warna. Simbol-simbol itu sangat jelas. Kita masuk kelompok yang mana? Kita masuk seragam yang mana? Kita masuk golongan yang mana? Semua itu gambaran. Semua itu symbol dan kategori.

Sekarang, guru dengan pangkat dalam seragam. Pegawai negeri suipil (PNS) berseragam dab berpangkat. Mudah-mudahan, symbol itu tidak kontradiksi. Muda-mudahan symbol itu tidak dikritisi sendiri. Mudah-mudahan, symbol itu tidak dinyatakan belum menjamin. Bahwa, symbol pangkat belum tentu menjamin adanya kepakaran. Bahwa, symbol pangkat belum menjamin kompetensi. Bahwa symbol seragam berpangkat belum tentu menjamin kompetensi, kepakaran, dan kecerdasan.

Namun, jika itu merupakan rencana Mendikbudnas, maka kita tidak perlu ribut. Mungkin, dengan symbol berpangkat, guru dihargai. Dengan simbol pangkat, guru ditinggikan derajadnya. Mereka seperti polisi, tentara, dan pejabat lainnya yang bersimbol pangkat. Guru berwajah gagah. Semoga saja! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here