Pendidikan dan Kebajikan

0
1289

 

 

Pada 1970-an, ada materi mata pelajaran Bahasa Indonesia buku paket dari pemerintah yang gratis untuk semua siswa di SMA. Saat itu, saya siswa SMPP (Sekolah Menengah Pembangunan Pertama) yang sekarang menjadi SMA 2, Lamongan. Dalam buku itu saya masih ingat ada bacaan terkait cerita tentang kebajikan. Cerita itu masih terkenang di dalam ingatan saya sampai sekarang.

Dalam teks bacaan itu, diceritakan ada sebuah jamuan resmi di negeri Paman Sam alias Amerika Serikat. Di dalam jamuan itu, ada banyak tamu negara yang diundang kemudian mereka diberi hidangan makan. Pertama-tama yang disuguhkan adalah air putih bersih  untuk membasuh tangan. Namun, di antara tamu itu ada yang tidak memahami bahwa yang dikeluarkan lebih awal itu adalah air untuk cuci tangan.

Kemudian, dia langsung meminumnya dan dilihat para undangan tamu lainnya termasuk presiden Amerika sebagai tuan rumah. Untuk menghindari rasa malu yang sangat besar pada tamu yang minum air purtih itu, maka tuan rumah presiden Amerika langsung ikut meminumnya sambil mempersilahkan tamu-tamu lainnya. Akhirnya, semua yang hadir di dalam jamuan makan itu minum air yang seharusya untuk cuci tangan.

Meski ada kejanggalan dalam cerita itu, misalnya mengapa tidak pakai garpu dan sendok di dalam jamaun makan tingkat internasional? Yang jelas cerita tersebut sampai saat ini mungkin pembaca juga pernah mendengar atau membaca sendiri cerita itu.

Intinya, sebenarnya waktu itu pendidikan memang diarahkan agar bagaimana kita bisa berbuat sesuatu kebaikan untuk orang lain tetapi yang “dibaikin” atau yang dibantu tersebut tidak merasakan atau tahu kalau dia itu telah kita bantu atau kita selamatkan. Nah, dari cerita itulah sebenarnya makna pendidikan yang sangat berguna bagi umat atau bangsa ini.

Selama ini ajaran kebajikan telah tidak pernah muncul di dalam materi pembelajaran. Sebaliknya, sekarang sudah gencar istilah pendidikan berkarakter. Pendidikan karakter ini justru lebih abstrak karena karakter itu sendiri dibentuk melalui proses yang panjang dan terus menerus. Dalam proses itu, ada banyak nilai-nilai kemanusian dan nilai-nilai kebaikan untuk diri seseorang itu sendiri dan sekaligus untuk orang lain yang lebih banyak.

Jika dikaitkan dengan ajaran kebajikan misalnya di dalam materi pelajaran bahasa Indionesia pada 1970-an, maka pendidikan karakter itu sudah lebih baik saat itu. Banyak berbagai materi yang bisa disisipkan di dalam materi-materi pelajaran. Sekarang dengan perkembangan ilmu dan teknologi dengan berbagai kerasnya tekanan hidup, maka ajaran kebajikan itu tidak nampak sama sekali. Ini karena semua kebaikan harus diiklankan. Ini semua harus dipamerkan.

Ketika marak pilkada dan pilpres, maka semua tokoh dan calon pemimpin serta pemimpin incumben, senantiasa mempromosikan lewat iklan tentang apa yang telah mereka kerjakan. Banyak pameran berbagai kinerja namun nasib rakyat masih belum secara optimal tercapai. Misalnya, pendidikan mahal, yang hanya bisa dijangkau oleh keluarga kaya. Hanya segelintir saja kaum miskin bisa menikmati pendidikan negeri. Padahal, jumlah kaum miskin dan kaya itu seperti kerucut gunung yang lancip. Kaum miskin lebih banyak di bawah pucuk gunung itu sendiri.

Ada sekolah favorit, ada pula sekolah ekslusif yang dihuni oleh kelompok-kelompok tertentu, jelas kaum the haves. Padahal, ekosistem kehidupan itu selalu berdampingan. Jika di dalam sebuah komunitas di dalamnya banyak yang penuh kekurangan dan ketimpangan sama halnya mereduksi tingkat keamanan dan ketenteraman di dalam sebuah ekosistem itu sendiri.

Nah, di sinilah perilaku kebajikan perlu diterapkan secara implementatif. Seperti di dalam cerita pelajaran bahasa Indonesia di atas, maka  masih adakah orang-orang di negeri ini bisa mengajarkan kebajikan kepada bangsanya sendiri? Masih adakah materi-materi di dalam pelajaran di sekolah-sekolah yang mengajarkan kebajikan?

Kebajikan itu sangat tinggi nilainya bagi semua umat. Jika nilai-nilai ini diajarkan mulai usia dini di sekolah tingkat dasar dan menengah, maka kelak bangsa ini akan menjadi bangsa yang tidak timpang secara baik sosial dan psikologis. Sebagai sistem dalam ekosistem, maka kehidupan manusia di negeri ini masih dibutuhkan nilai-nilai kebajikan.

Pendidikan merupakan tempat sentral setelah lingkungan keluarga. Itu sebabnya, materi dan ajaran kebajikan sangat diperlukan jika pemerintah masih terus mendengungkan pendidikan yang berkarakter.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here