Pendidikan di Persimpangan Jalan

0
160
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya 

Setelah membaca postingan Guru Besar, Prof. Augusty T. Ferdinan, di akun facebooknya, saya merasa prihatin. Pada 19 Januari, 2020, postingan tersebut tentang kisah mahasiswa Doktor. Postingannya dengan latar belakang merah.

Penafsiran saya, merah itu bahaya alias parah. Mahasiswa program Doktor ini, sudah tahun akhir, dan diperpanjang. Persoalannya, terletak pada proses bimbingan.

Jika kita baca di tagline Prof AFG (nama singkatannya), maka tampak adanya keruwetan dalam fungsi dosen pembimbing dan penguji. Apalagi, bidangnya tidak sama dengan topik disertasi mahasiswa tersebut. Ini jika dikaitkan dengan dunia pendidikan dan dunia kaum milenial, rasanya njomplang benar:

Teknologi dan inovasi. Seingat saya, cerita-cerita di atas itu sudah lama sejak saya masih mahasiswa S1 dulu. Cerita proses bimbingan karya tulis ilmiah mahasiswa program Doktor ya selalu ada seperti itu. Mengapa ya?

Kita prihatin sekali, jika kita hubungkan dengan dunia pendidikan dan kaum milenial saat ini. Setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (Mendikbudnas) dinahkodai generasi muda, negeri ini sebenarnya sudah dalam rancangan yang tepat. Selama ini, pendidikan senantiasa dipandegani senior dengan segala gelar: Guru Besar dan Doktor, termasuk berbagai pengalaman memimpin perguruan tinggi atau dunia pendidikan. Dalam sejarah itu sudah lama. Lalu apa hubungannya dengan kaum milenial?

Negara-negara maju sudah mempersiapkan jauh sebelumnya. Cerita di atas sebuah refleksi ‘kuatnya’ budaya kaum baby-boomer. Bahkan kaum sebelumnya.
Perlu dicatat, Mas Nadiem Makarim sebagai mendikbudnas baru, ini sudah tepat jika dunia milenial dijadikan sumber referensi pelantikan Mendikbudnas muda ini. Pertanyaannya, sudahkah sistem pendidikan nasional berbasis pikiran-pikiran dan idealisme kaum milenial?

Bukankah, segala sistem dan pranatanya masih baby-boomer system? Jangan-jangan masih generasi parang dunia ke-1. Cerita di atas menggambarkan, sistem pendidikan penyiapan generasi milenial kita telat: Dalam persimpangan jalan.

Jika semua sistem dan pranata pendidikan nasional belum sepenuhnya siap dengan penciptaan masa depan kaum milenial, berarti kita dalam persimpangan jalan. Dalam teori inovasi, adopsinya sulit. Jika adposinya sulit, maka harus ada keberanian membuat terobosan. Kita sudah telat jika kita meruntut jenis kaum milenial. Bukankah kita sudah punya generasi Z: generasi setelah generasi Y. Siapakah mereka? Mari kita telusuri berdasarkan kelahiran kaum milenial (generasi Y).

Di negeri maju, kajian milenial ke dalam ranah pendidikan sudah secara sistematis dikerjakan. Liza L. Moore (2012), dari Boston University, menjelaskan peran milenial dalam dunia pendidikan. Dalam bidang-bidang social dan pendidikan, kaum milenial lebih banyak diperankan.

Mereka lebih baik dikedepankan. Demi perbaikan sebuah negeri, pendidikan masa depan perlu dirancang benar dan tepat untuk generasi Y ini.

Menururt Howe dan Strauss (2000) Generasi Y atau milenial memiliki ciri khusus. Mereka ini adalah generasi yang lahir antara 1980 dan 1996. Adapun menurut David M. Johnstone (2001), dari George Fox University, kaum milenial adalah mereka yang lulus SMA (Secondary Schools) setelah 1999. Ini berarti, sekarang mereka sudah berumur antara 34 dan 40-an tahun. Generasi ini disebut juga dengan sebutan generasi milenial, yang sudah mengenal teknologi seperti komputer, video games, dan smartphone.

Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang pada 1995 sampai 2010. Generasi Z merupakan generasi peralihan Generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang. Disebut juga i-generation (internet-generation) karena ada kemiripan dengan Generasi Y. Namun, mereka mampu mengaplikasikan segala aktivitas dalam satu waktu seperti tweeter, facebook, Instagram dan sejenisnya memakai ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset.

Generasi Z termasuk generasi dunia maya sepenuhnya. Sejak balita, mereka sudah mengenal teknologi. Mereka akrab dengan produk-produk teknologi canggih. Mereka menggunakan gadget canggih. Ini semua berpengaruh pada tingkah laku mereka. Bahkan, aktivitas keseharian berteknologi itu dapat membentuk kepribadian mereka.
Semua system dan segala pranatanya harus sudah mapan saat ini. Semua itu seharusnya sudah dirancang 10 atahu 20 tahun yang lalu. Jika sekarang masih berbicara system dan pranata pendidikan kaum milenial, maka kita sudah jauh tertinggal: amat telat.

Belum lagi, Tarik menarik gagasan kaum milenia (=baca pikiran-pikiran Mas Nadiem Makarim) saat ini. Kaum babyboomer masih merasa sulit melepaskan dunianya. Bisa saja masih banyak belum rela jabatan kementian yang manugngi intelektual dan generasi muda itu dipegang oleh orang muda, umur 35 tahun.

Jika situasi nasional dalam ranah pendidikan seperti ini, kita bisa menyatakan bahwa pendidikan nasional kita masih dalam persimpangan jalan. Adopsi semua gagasan perlu dipercepat. Generasi Y dan bahkan generasi Z sudah ada. Mereka memiliki dunianya sendiri.

Teknologi dan dunia amya. Mereka bersukaria dan berinovasi sesuai dengan pikiran mereka: Milenial.
Ada yang bisa bikin mobil efisiswensi bahan bakar. Bahkan ada yang bisa bikin pesawat terbang. Anehnya bahan yang dipakai justru bahan murahan. Idealisme anak milenial benar-benar sesuai gambaran yang diuraikan oleh peneliti di atas: Liza L. Moore (2012) dan Howe dan Strauss (2000), serta David M. Johnstone (2001).

Jika system belum berubah sementara generasi milenial sudah ada (34- 40 tahunan), berarti kita masih dalam persimpangan jalan. Tarik menarik budaya baby-boomer ke milenial, sekaligus generasi Z, menjadi persoalan yang sangat kritis. Perlu adanya kesadaran generasi baby-boomer rela menjadi busur. Kemudian, anak-anak panah (milenial dan generasi Z) kita dorong biar melesat ke dunia mereka. Pendidikan itu dinamis. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here