Pendidikan yang Mendidik

0
1199


Akhir-akhir ini, Indonesia ibarat negara dalam kondisi gawat. Isu bom mendekati peringatan hari Paskah kaum nasrani sangat mencekam. Apalagi sebelumnya ada bom meledak di Masjid, saat berjamaah sholat Jumat. Ini benar-benar negeri yang mengerikan. Lebih aneh bin ajaib, dunia pendidikan tingkat tinggi sudah kebobolan mahasiswanya ada yang terbius dan bahkan menghilang akibat dogmatisme mendirikan negara Islam Indonesia (NII).

Dari semula, pendidikan memiliki peranan lebih penting. Pendidikan merupakan titik sentral dalam menanamkan karakter manusia-manusia di sebuah negara. Ini termasuk Idnonesia. Namun, perannan sentral itu bisa dicapai atau disandang manakala pendidikan itu diarahkan pada pendidikan yang mendidik.

Selama ini ada kecenderungan pendidikan yang mengajar. Pnedidikan hanya mengajarkan sesuatu atau pelajaran atau matakuliah. Matakuliah inilah yang diajarkan kepada mahasiswa atau siswa. Selama ini justru sistyem pendidikan yang tampak jelas adalah proses mengajarkan bukan proses mendidik.

Pergeseran dari pola pendidikan yang mendidik ke pendidikan yang hanya mengajar masuk dalam perilaku sistem pendidikan nasional. Ini tampak jelas jika diamati selama ini yang menakutkan adalah Ujian nasional (Unas). Program ini sangat menonjol dan sangat berlebihan sehingga sekolah hampir tidak pernah “tidur” hanay karena memikirkan Unas.

Gerak-gerik orang tua dan putra-putrinya setiap hari terpusat pada kegiatan Unas. Jarang yang tampak secara eksplisit tentang kegiatan ektrakurikuler siswa di luar kegiatan pengajaran materi Unas. Tidak ada pula ekspos-ekspos siswa yang berbakat di bidang seni suara, seni lukis, seni drama, bola baske, main piano dan berbagai bakat manusia.

Yang jelas nampak dalam benak masyarakat se nusantara ini adalah seramnya Unas. Misterinya Unas dan berbagai kenegrian baik awal persiapan maupun mendekati pengumuman hasil Unas. Sebaliknya, tidak pernah masyarakat gegap gempita merayakan keberhasilan putra-putrinya jika mereka piawai bermain piano, bermain sepak bola, melukis dengan indah atau seni-seni lainya yang berharga.

Dari amatan itulah, kita sudah terperangkap ke dalam dunia pendidikan yang penuh dengan kengerian dan ketegangan. Di saat-saat itulah, para otak terorisme itu mencoba masuk ke dalam dunia pendidikan. Mereka berusaha menyerbu dan mendogma untuk mengajak mereka mendirikan negara islam indonesia (NII). Dari sinilah sebenarnya terjadi kelengahan dalam sistem pendidian secara makro di negri ini.

Bukankah, sekarang sudah waktunya mengakhiri program dan sistem pendidikan yang hanay mengandalkan proses pengajaran saja. Inilah waktunya bagi semua phak untuk mengembalikan citra pendidikan dari hanya pengajaran untuk menuju pendidikan yang mendidik pendidikan yang mendidik adalah pendidikan yang memberikan berbagai seni keterampilan sesuai dengan bakat dan minat setiap siswa. Jika di perguruan tinggi (PT) maka mahasiswa juga memerlukan penelusuran bakat dan minat mereka.

Pengembanagn bakat dan minat setiap siswa itulah dibarengi dengan muatan kurikulum intinya berupa materi-materi yang terkait mata pelajaran atau mata kuliah. Jika ini dikerjakan semua sekolah maka, pendidikan akan berubah dari hanya pengajaran menjadi pendidikan yang mendidik.

Kurikulum dan system pendidikan perlu disinergikan dengan proses pendidikan di lapangan. Proses pendidikan di lapangan itulah harus memberikan kesempatan setiap siswa untuk mengembangkan bakat-bakat seni di luar pendidikan kurikulum inti. Inilah ekstra kurikuler yang perlu juga diapresiasi agar nantinya tercipta manusia-manusia handal sebagai sumber daya manusia (SDM) yang terampil.

Namun, keterampilan itu juga dibarengi dengan pendidikan karakter yang mampu membentengi diri setiap siswa. Jika pendidikan yang mendidik sudah tercipta, maka tidak akan terjadi penyusupan doktrinisme yang mengajak generasi muda masuk dalam perangkap terorisme.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here