Peningkatan Minat Baca Peserta Didik

0
661
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you?ll go (Theodor Seuss, 2017)

Membaca itu banyak manfaatnya. Itu sebabnya, gerakan literasi di Indonesia sangat penting. Sekolah bertugas mendongkrak minat baca peserta didiknya. Dengan membaca, manusia menjadi berpengatahuan luas. Dengan membaca, peserta didik di sekolah bisa bertambah ilmunya. Dengan membaca, kita dapat mengetahui pikiran orang lain. Kita dapat mengetahui banyak tempat lain (Theodor Seuss, 2017).

Sekolah-skolah di negeri perlu meningkatkan minat baca siswa siswinya. Dengan tingginya minat baca, siswa siswi sekolah dapat lebih memahami pikiran orang lain.

Dengan membaca seluas-luasnya, peserta didik di sekolah juga dapat lebih memahami perasaan orang lain. Secara tegas, dengan membaca siswa siswi dapat lebih berempati. Membaca memang dapat membuat manusia lebih berempati (David C. Kidd, 2013).

Menurut Plato (428 ? 348 SM), empati terkait dengan pathos. Pathos itu sangat penting dalam kehidupan bertoleransi. Dengan pathos yang tinggi, manusia bisa damai. Dengan pathos yang tinggi, peserta didik di sekolah dapat terbiasa berkasih saying satu sama lain. Intinya, pathos itu penting.

Baru-baru ini, Nikkei Asian Review merlisis berita manfaat membaca. Pada dasarnya, ketika kita membaca, kita terpaparkan pada banyak fakta.

Dari segi Bahasa, kita terpaparkan banyak kosa-kata. Jika ini dilakukan oleh anak-anak usia sekolah, mereka dapat meningkatkan skor membaca yang tinggi. Skor ini terkait dengan kecerdasan anak. Jika frekuensinya tinggi, anak anak-anak ini akan menajdi lebih cerdas ketika dewasa.

Kecerdasan anak karena banyak embaca sangat bermanfaat tidak hanya kecerdasan intelektual (IQ) saja. Frekuensi membaca juga dapat mencerdaskan emosinal mereka. Mereka lebih empati kepada orang lain.

Misalnya saja, Dr. Theodor Seuss memberikan uraian bahwa membaca meningkatkan rasa empati manusia. Ketika kita membaca, kita memahami pikiran orang lain,yaitu penulisnya. Membaca memberikan manusia ketermpilan berkomunikasi secara psikologis. Ini karena dengan membaca, kita selalu mengikuti jalan pikiran orang lain. Secara tegas, membaca dapat meningkatkan tenggang rasa pembacanya.

Lebih dari itu, dari segi kesehatan, membaca dapat menghambat kepikunan. Dengan membaca syaraf manusia terbiasa kuat dalam ingatannya. Kosakata dan pemahaman pikiran orang lain dalm setiap teks yang dibacanya.
Dalam setiak teks terpapar pikiran orang lain. Dalam setiap bacaan, terpapar imajinasi orang lain. Dalam tulisan apa saja jenisnya, terpapar pikiran orang lain. Misalnyanya saja, karya-karya seni. Karya fiksi pun memaparkan pikiran dan imajinasi orang lain. Fiksi sastra, khususnya, memiliki kekuatan untuk membantu pembacanya memahami apa yang dipikirkan orang lain.

Itu sebabnya, dengan membaca emosi orang lain, kita lebih berempati. Menurut penelitian, justru membaca fiksi dampaknya lebih signifikan positif berdaya imajinasi dibandingkan bacaan non-fiksi (Scince 2017). Memahami kondisi mental orang lain adalah keterampilan penting. Keterampilan ini meningkatkan hubungan sosial yang kompleks dan beragam ciri manusia (Bex Frankeberger, 2017).

Jika membaca dapat meningkatkan empati, berarti membaca dapat meningkatkan toleransi. Rasa empati itu baik. Rasa empati itu berarti tingginya toleransi. Membaca membuat kita dapat memahami setiap orang. Kita dapat memahami perbedaan pikiran dan imajinasi. Kita dapat memahami perbedaan argumen. Kta memahami pikiran manusia yang berbeda-beda karena latar belakangnya. Di sinilah, manfaat membaca di samping meningkatkan kecerdasan manusia.

Berbagai hasil riset tentang manfaat membaca disebut di atas sangat baik dijadikan referensi. Dengan tingkat membaca yang tinggi, di negara-negara maju, indeks rata-rata umur penduduknya juga lebih tinggi. Mereka lebih tinggi indeks rata-rata umur penduduknya dibanding negara-negara yang minat baca penduduknya rendah.

Dari paparan di atas, ada implikasinya. Kalau di negeri dikatakan rendah toleransinya, itu negeri itu termasuk bangsa yang rendah minat bacanya. Namun, membaca tidak harus pada bacaan yang sangat ekslusif. Ekslusivisme itu mendorong manusia bersifat tertutup. Mereka tidak bisa mengapresiasi pandangan dan hasil karya orang lain. Jadi, membaca mendorong manusia berempati jika materi bacaan juga luas. Di sinilah tingginya peran sekolah.

Sekolah dapat memberikan porsi lebih besar pada kegiatan membaca peserta didiknya. Porsi membaca bisa dilakukan melalui setiap matapelajaran. Guru-guru di sekolah diajak meningkatkan peserta didiknya kegiatan membaca. Jadi, setiap guru wajib meningkatkan minat baca peserta didiknya. Sekolah bisa menyediakan fasilitas terkait minat baca. Pengambil kebijakan, secara nasional serentak berlomba-lomba meningkatkan program membaca di sekolah-sekolah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here