Renungan Sinergi Ekosistem Kehidupan

0
1153
Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum
Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Peristiwa demo para supir angkot di Surabaya yang baru saja terjadi memerlukan perenungan tajam oleh pemertintah. Renungan itu berupa rekasaya (reengineering) berbagai sekotr kehidupan, utamanya upaya menggerakkan sektor jasa.

Jika jasa angkot taxi dan angkot lain yang konvensional bisa digantikan dengan angkot digital, bisa saja sektor-sektor industri manufaktur sudah bisa tergantikan pula.

Gejala pergeseran kehidupan akibat kemajuan teknologi akan selalu berjalan terus menerus tanpa henti. Era informasi dan teknologi ini tidak bisa dibendung begitu saja. Melainkan, dijaga dan dikontrol oleh seluruh jajaran pemerintahan dan perusahaan-perusahaa besar lainnya. Sinergi itu diperlukan karena fakta ekosistem kehidupan.

Jika semua berpikir komprehensif, bahwa ekosistem kehidupan itu saling kait mengait. Dalam kehidupan sosial, gejalanya pasti berpengaruh pada aspek lainnya. Intinya, sinergi itu harus ada.

Pemerintah bisa bekerja sama dengan para konglomerat dan juragan-juragan besar yang berdomisili di tanah negeri ini.
Ada yang menarik dari sebuah materi ajar di dalam matakuliah Business English dalam bentuk dialog lisan.

Dalam sebuah dialog, terdapat percakapan antara manajer salah satu perusahaan besar. Dia ini menelepon sebuah kantor jasa perusahan penanaman modal. Manajer ini menelpon minta jasa investasi guna membantu perusahaan-perusahaan kecil di sekitarnya.

Dalam percakapan itu, manajer ini berniat memberikan bantuan investasi untuk mengembangkan usaha-usaha kecil di wilayah perusahaannya. Intinya, dia ini memberikan bimbingan (investment service) pada kliennya.

Tujuannya adalah mensejahterakan rakyat di sekelilingnya. Dengan tujuan itu, si manajer ini berpikir domino. Bahwa, jika semua rakyat sejahterah, dipastikan mereka memiliki daya beli (purchasing power) yang tinggi.

Dengan memahami ekosistem sebuah kehidupan, manajer-manajer cerdik di perusahaan besar mestinya juga bekerja seperti pada contoh percakapan tersebut. Ini mengingat ekosistem kehidupan dalam segala aspek itu mengandung efek domino (domino effect).

Jika gejala-gejala sosial tidak diikuti dengan niat baik para konglomerat dan korporasi besar, rakyat di sekitarnya akan menjadi dampak buruk juga.

Jika sebuah komunitas manusia tidak memiliki daya beli (purchasing power) maka mereka jsutr menjadi beban masyarakat. Terjadilah ketidakseimbangan kehidupan dalam ekosistem. Fenomena demo angkot akibat reaksi kena=majuan teknologi dengan Grab taxi, maka, mau tdiak mau harus cepat dicsrikan solusi.

Meski demo angkot di Surabaya cukup rapi dan tidak ada gejolak, pemerintah daerah di seluruh Jawa Timur, akan lebih baik jika bekerja secara sinergi untuk membuka lapangan pekerjaan dalam sektor jasa. Jasa apa pun perlu diciptakan guna menyeimbangkan ekosistem kehidupan.

Peningkatan pengangguran akibat pergeseran pola hidup berbasis teknologi, memiliki dampak negatif yang sangat serius. Aapalgi jika sudah berakumulasi dalam jangka panjang. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah tepat.

Pertama, merangkul semua pengusaha besar dan para konglomerat di sekitar komunitas wilayah. Mereka bisa diundang bersama-sama berbincang tentang kreativitas pembukaan lapangan pekerjaan dalam bentuk sektor jasa.

Kedua, sambil menunggu hasil rumusan kerjasama dengan para pengusaha besar dan konglomerat, pemerintah bias memberikan berbagai pelatihan dengan membuka pelatihan-pelatihan (training center) untuk industri jasa.

Ketiga, perlunya merapatkan barisan semua pendidikan menengah kejuruan. Semua pendidikan kejuruan yang ada di wilayah pemerintahan daerah, perlu diarahkan utnuk memberikan keterempilan praktis. Keterampilan-keterampilan praktis itu ditujukan untuk membuka lapangan kejra jenis industri jasa. (**)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here