Santri Jawa Timur Deklarasikan Awasi Pemilu

0
1042

Ponorogo, IP.News – Sosialisasi pengawasan partisipatif sadar pengawasan pemilu warga santri dengan segmentasi kelompok santri, dilaksanakan oleh Bawaslu Jawa Timur dengan menghadirkan ribuan santri dari seluruh penjuru kabupaten kota di Jawa Timur, Rabu(27/12).

Mengambil tempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) hadir komisioner Bawaslu RI M. Afifudin jajaran komisioner bawaslu Jawa Timur yaitu M. Amin, TotoK Hariyono, dan Aang Khunaifi, Pangdam V, Kapolda jawa Timur, Ketua KPU Jawa Timur, Kepala kejaksaan Tinggi Jawa Timur, dan Al Ustadz Sasto Al Ngatawi sebagai nara sumber.

Triyono selaku panitia kegiatan menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah tidak lepas dari jumlah pilkada di Jatim merupakan terbanyak di Indonesia. karena selain pilgub jatim juga ada 18 pilkada untuk kabupaten/ kota.

Sehingga diperlukan kerjasama khususnya warga santri. Kerjasama ini harapannya bisa memberikan kesejukan kedamaian di Jatim.

“Pilkada jatim menjadi barometer pilkada Nasional. Sukses pilkada jatim sukses pilkada di Indonesia” ungkapnya.

Kepala sekretariat Bawaslu Jawa Timur ini menjelaskan Santri yang diikuti ada 1500 santri dari seluruh kabupaten kota di Jawa Timur. “Harapan bisa menular ke seluruh kabupaten kota membuat kegiatan sejenis. Dengan adanya santri bisa mensukseskan pemilu di Jawa Timur. ” jelasnya.

Sementara M. Amin. M. Pd. I ketua Bawaslu Prov. Jawa Timur. Harapannya di jaman now kepada santri waktunya tidak cukup menghafal alfiah imriti tapi juga menghafal perundang undangan pemilu.

Karena di jatim lebih dari 5000 ponpes. Di Jatim sudah menelurkan santri sebagai kepala negara kepala daerah anggota legislatif. Sehingga pengawasan partisipatif harus diawali oleh santri pondok pesantren. “Harapannya mereka sadar tidak cukup NKRI pancasila tapi UU pemilu tapi Perbawaslu dan PKPU juga harga mati.” jabarnya.

M Afifudin bawaslu RI mengapresiasi kegiatan mengundang santri dan dilaksanakan di masjid. Dirinya menjelaskan ada 3 elemen yang kesemuanya harus baik. Yaitu penyelenggara yang baik, peserta pemilu yang baik, dan pemilih yang baik. kalau ketiganya tidak ada maka tidak ada pemilu.

Terlebih tantangan pemilu tahun 2017 lebih berat karena bersamaan dengan pemilu presiden. ” kita harapkan ketika kembali ke pondok pesantren ada tema pemilu ketika muhadhoroh sehingga semakin banyak santri yang sukseskan pemilu” pungkasnya.

Hal senada disampaikan oleh kordiv pencegahan dan hubungan antar lembaga. Bahwa pengawasan partisipatif selain mengajak masyarakat peduli pemilu juga bisa menjadikan gelaran pemilu semakin kondusif.

Dalam ceramahnya ustadz Al Ngantawi menjabarkan demokrasi di Indonesia terus berkembang karena keunikan Indonesia dengam nilai toleransi yang cukup tinggi. Sehingga kedepan keberadaan Pemilu harusnya lebih sukses lagi. Terlebih adanya agenda santri mengawasi yang notabene dipenuhi oleh para pemilih pemula.

Di akhir acara para santri mendeklarasikan komitmen untuk bersama sukseskan gelaran pemilu, mencegah politik uang dan tolak kampanye hitam. (JUM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here