Sedekah, Puasa, dan Covid-19

0
906
Dr. Kautsar R Salman, SE., MSA., Ak., BKP., SAS., CA.,CPA (Aust.)
(Kaprodi D3 STIE Perbanas Surabaya, Penulis Buku Akuntansi Syariah, Instruktur dan Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jatim Bidang Akuntansi Syariah)

Alhamdulillah binimah kita kembali menjalankan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah ini, bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur?an. Puasa tahun ini terasa istimewa dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena ibadah puasa kita di masa sulit pandemi covid-19, anjuran shalat tarawih di rumah, dan larangan mudik ke kampung halaman. Bahkan di saat puasa ini, jumlah angka PHK pengangguran, dan kemiskinan semakin meningkat. Berdasar data Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020, sebagaimana dikutip dari media liputan6.com 22 April 2020 pukul 13:50 WIB, untuk sektor formal yang terdampak terdapat 84.926 perusahaan dengan jumlah pekerja yang dirumahkan dan di-PHK mencapai 1.546.208 orang, sedang untuk sektor informal yang terdampak terdapat 31.444 perusahaan dengan jumlah pekerja yang dirumahkan dan di-PHK sebanyak 538.385 orang. Jika ditotal antara sektor formal dan sektor informal, terdapat 116.370 perusahaan dan 2.084.593 atau 2 juta lebih pekerja yang dirumahkan dan di-PHK.

Setali tiga uang, angka kemiskinan juga melonjak. Sebagaimana diberitakan oleh mediaindonesia.com, 14 April 2020 pukul 17:12 WIB, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tahun ini yang ditetapkan sebesar 5,3%, bisa melemah sampai 2,3%, bahkan bisa turun menjadi 0% jika pandemi covid-19 tidak membaik dalam waktu dekat. Lebih jauh Menteri Keuangan menjelaskan, angka kemiskinan bisa meningkat sampai 1,1 juta orang. Bahkan, bila kondisi ini berlangsung hingga kuartal ketiga, penduduk miskin akan bertambah hingga 3,78 juta orang. Angka pengangguran juga akan mengalami kenaikan, kemungkinan akan muncul 2,9 juta pengangguran baru. Skenario yang lebih buruk bisa sampai 5,2 juta orang.

Situasi ini tidaklah mudah, masa-masa sulit sedang kita hadapi, mulai dari pengangguran, kemiskinan, dan problem sosial lainnya. Namun Allah berfirman dalam Surat al Insyirah, 94 ayat 5-6, yang artinya: ?Karena sesunggunya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.? Apalagi saat ini, kita sedang berpuasa, dimana doa orang yang berpuasa, doa orang yang makan sahur, dan doa orang yang berbuka, tidak tertolak. Ada hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Ahmad, dimana Nabi bersabda, ?Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzhalimi.?. Terdapat hadits lain riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan lafazh yang berbeda, yang berbunyi, ?Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika dia berbuka, dan doa orang yang terzhalimi.?

Kita kembali ke ibadah puasa. Tahukah pembaca bahwa amalan puasa ini dilipatkangandakan pahalanya oleh Allah tanpa batas? Mari kita tengok hadits Nabi, ?Setiap amal anak adam dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus lipat. Allah berfirman, ?Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dia telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.? (HR. Muslim). Puasa ini punya kekhususan yang tidak dimiliki amalan lainnya, yaitu dilipatgandakan pahalanya tanpa hisab (batas), sedang amalan lain dibalas sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus lipat tergantung kualitas amalnya.

Dari sini, muncul pertanyaan, mengapa dengan puasa dilipatgandakan pahala tanpa batas, sedangkan amalan yang lain tidak? Seorang ulama yang bernama Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam, dalam kitabnya Taisiril Alam fi kitabish shiyam, mengatakan, ?Puasa termasuk ibadah yang paling utama, karena terkumpul padanya tiga jenis kesabaran: sabar di atas ketaatan kepada Allah, sabar untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah, dan sabar terhadap takdir Allah dari perkara yang menyakitkannya.? Itulah rahasia keutamaan puasa, karena puasa mengumpulkan tiga jenis kesabaran sekaligus, sehingga oleh karenanya orang yang berpuasa tergolong sebagai orang yang sabar pada tiga jenis kondisi itu. Sabar terhadap takdir Allah dari perkara yang menyakitkannya, di bulan puasa ini menjadi bernilai lebih karena wabah penyakit covid-19, perkara yang menyakitkan hati karena adanya anjuran sholat tarawih di rumah, dan perkara yang menyakitkan karena adanya larangan mudik ke kampung halaman. Tingkat kesabaran puasa kita saat ini, memiliki nilai lebih dibandingkan dengan sabarnya puasa kita di tahun-tahun sebelumnya.

Mari kita masuk lebih dalam ke sedekah di bulan puasa. Bagaimana sedekah Rasulullah di bulan puasa? Dan bagaimana perbandingan sedekah beliau dengan bulan-bulan lain, selain Ramadhan? Abdullah bin Abbas mengisahkan sedekah Rasulullah di bulan suci, beliau berkata, ?Nabi adalah orang yang paling gemar sedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih hebat lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan al-Qur?an pada saat itu. Rasul adalah orang yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.? (HR. Bukhari dan Muslim). Nah, keypoint yang bisa dicatat adalah sedekah beliau yang luar biasa, menjadi lebih luar biasa lagi di bulan Ramadhan. Sedekah saja di luar bulan Ramadhan, pahalanya sangat besar dan dilipatgandakan dengan kelipatan yang sangat banyak, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah, 2 ayat 245: ?Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepadaNya kamu dikembalikan.? Di sini istilah qardhul hasan (pinjaman kebaikan), diartikan dengan sedekah, yaitu menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Lebih jauh mengenai sedekah di masa sulit, Allah tegaskan di surat al Balad, 90 ayat 11-16, yang artinya: ?Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) dia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, orang miskin yang sangat fakir.? Yang menarik dari ayat-ayat ini adalah jalan kebaikan yang susah dilakukan adalah memberi makan atau bersedekah pada hari kelaparan. Dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al Qur?an Al Karim Juz ?Amma, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin seorang ulama pakar fiqh abad ini (faqihuz zaman), menjelaskan keadaan penuh kelaparan, bisa terjadi karena hasil pertanian dan buah-buahan berkurang, atau karena timbulnya banyak penyakit.

Di masa pandemi covid-19 saat ini, pihak yang bersedekah tidak hanya urusan kelompok kelas atas saja, tetapi kelompok menengah ke bawah pun dapat turut serta dalam bersedekah. Mengutip dari majalahpeluang.com, 4 Januari 2020, di Indonesia saat ini, ada 60 persen penduduk dengan ekonomi kelas menengah atau 160 juta jiwa dari jumlah penduduk Indonesia tahun 2019 sebanyak 267 juta jiwa. Perkiraan penduduk muslim sebesar 85%, sehingga jumlah kelas menengah yang muslim sebesar 136 juta jiwa. Jika diasumsikan satu keluarga terdiri dari 5 orang, maka ada 27,2 juta kepala keluarga. Katakan rata-rata sedekah Rp 100 ribu per bulan, maka didapat nilai total sedekah sebesar Rp 2,7 Triliun per bulan atau setara ΒΌ dari anggaran penanganan covid-19 DKI Jakarta Rp 10,7 Triliun. Bila dikalkulasi setahun, diperoleh nilai sedekah sebesar Rp 128,4 Triliun, nilai yang sangat besar, bahkan melampaui anggaran jaring pengaman sosial untuk penanganan covid-19 sebesar Rp 110 triliun atau 1/3 dari total anggaran pembiayaan untuk penanganan covid-19 sebesar Rp 405 triliun.

Masyarakat kelas bawah dapat pula bersedekah sesuai dengan kemampuannya, bahkan sedekahnya lebih utama daripada sedekahnya kelas atas dan menengah, meskipun kecil nilainya. Banyak hadits menunjukkan bahwa sedekah yang berasal dari kepayahan orang yang hanya memiliki sedikit harta lebih utama daripada sedekah hartawan yang hanya mengeluarkan sedikit dari hartanya. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya karena amalan sedekah itu berbeda keutamaannya di sisi Allah sesuai dengan perbedaan isi hati, bukan karena banyak atau bentuknya. Ada kisah menarik yang diriwayatkan oleh An-Nasai dan Ahmad, dimana Ali berkata, ?Ada tiga orang datang kepada Nabi. Salah seorang dari mereka berkata: ?Saya mempunyai 100 uqiyah (setara Rp 5 ribu), lantas saya sedekahkan 10 uqiyah (setara Rp 500).? Orang kedua berkata: ?Saya mempunyai 100 dinar (setara Rp 5 juta) lalu saya sedekahkan 10 dinar (setara Rp 500 ribu).? Orang ketiga berkata: ?Saya mempunyai 10 dinar (setara Rp 500 ribu) lalu saya bersedekah satu dinar (setara Rp 50 ribu). Maka Nabi bersabda: ?Kalian semua sama dalam pahala. Kalian semua telah menyedekahkan 1/10 harta?.? Dari ketiga orang yang bersedekah, nilai sedekahnya berbeda, ada yang bersedekah sebesar Rp 500, Rp 50 ribu, atau Rp 500 ribu, pahalanya sama di sisi Allah karena mereka menyedekahkan 1/10 hartanya. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi riwayat Abu Dawud dan Ahmad, ketika Nabi ditanya: ?Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?? Beliau menjawab: ?Kepayahan bersedekah orang yang hanya mempunyai sedikit.? Dari sini, ada jalan bagi mereka yang terkena dampak, mereka juga bisa bersedekah sesuai kemampuannya, bahkan sedekahnya lebih utama di sisi Allah.

Pada akhir tulisan ini, marilah kita berlomba-lomba bersedekah, apapun kelompok kelas kita, sesulit apapun kondisi kita, sedekah tetap harus jalan terus karena memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah. Semangat sedekah kita, di hari-hari ini bulan Ramadhan, perlu lebih dikuatkan lagi, kita tiru suri tauladan kita Rasulullah yang semakin hebat sedekahnya di bulan Ramadhan. Ilmu kita harusnya diamalkan, salah satunya dengan gemar bersedekah, sehingga bermanfaat bagi orang lain, kita juga dapat pahala ilmu dan amal sekaligus. Semoga kita dianugerahi sifat kedermawanan dan dijauhkan dari sifat kekikiran. Semoga kita bukan tergolong orang tidak mengamalkan ilmu seperti yang digambarkan dalam peribahasa ” bagai pohon yang tidak berbuahSemoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here