Telingaku “Kopat Kapid”

0
271
Penulis : Dr. Djuwari
is the President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Associate Professor at STIE Perbanas Surabaya, Indonesia

Conflict theory holds that social order is maintained by domination and power rather than consensus and conformity (Karl Marx: 1818-1883).

Teori konflik itu berbasis pada dominasi kekuatan. Siapa yang kuat dan kaya, merekalah yang menentukan bukannya konsesnsus dan kesepakatan. Inilah bahayanya jika siapa saja jadi orang kecil. Inilah bahayanya jika jadi negeri dan bangsa kecil, lemah. Apalagi, jika ditambah tidak cerdas (ma’af, bodoh). Kontrak hidup rendah. Bisa jadi, telinga kita hanya kopad kapid. Istilah Jawanya.

Covid 19 dalam ucapan Jawa yang santai jadi Kopid. Jadinya, Kopad Kapid. Dalam bahasa seharian, kopad kapid itu telinga sapi atau kambing. Ketika kita sebagai anak desa, di sawah, kita sering melihatnya. Sawah dengan sapi. Di jalanan lewat tegal, kita lihat kambing. Jika gatal, telinganya kopad kapid. Itu ucapan Jawanya. Bisa saja, kita kopad kapid karena berita. Kondisi negeri.

Setelah Pak Presiden Joko Widodo membuka Rapat Sidang Kabinet, di Istana Kepresidenan (18/6), ada istilah sense of crisis. Itulah mulai gemparnya media sosial (medsos). Video youtube. TV swasta. Dan, banyak medsos, khususnya di tweeter. Komentarnya, banyak sekali. Presiden kita sedang marah. Sense of crisis tidak ada. Kerja biasa, padahal harusnya luar biasa. Ramailah medsos.

Sehari-hari ini, kita dengar dan baca. Ada yang lewat youtube. Dengar lewat video. Ada yang digarap rapi. Ada yang digarap amatiran. Semua berupa propaganda. Namun, sekali-kali, saya menikmati yang humor. Bukan politik. Variasi kesegaran pikiran. Banyak video humor. Ada yang lucu. Ada yang vulgar. Dan, ada yang kelewat batas, vulgarnya. Selain komentar tentang sense of crisis.

Mata dan telinga ketika lihat dan dengar, benar-benar bikin kita kopad kapid. Ngeri deh. Geli deh. Sebel dan kadang ada yang mencerahkan. Semua campur aduk. Uniknya, kadang ada yang berbahu itu hoax. Misalnya, pernah ada video menayangkan produk dengan maksud buruk. Entah kadarnya. Entah kandungannya. Setelah dicek, ternyata hoax.

Ada suatu dilema. Jika tidak dishare, maka berita hoax kita saja yang tahu. Jika dishare, kadang bisa jadi gempar. Namun, jika dishare dan itu hoax, biasanya ada yang cepat memebri tahu. Di sinilah, positifnya jika dishare. Ada yang lebih tahu dan memberikan komen itu hoax.

Namun, tidak semua bentuk informasi dalam berita tulisan dan video itu bisa dishare di publik. Kalau ternyata sangat sensitif dan sara, maka disimpan untuk tidak dishare publik. Sebaiknya, ditanyakan ke seseorang yang bsia memberitahu, benarkah berita tulis atau video itu. Intinya, disharekan secara personal: Japri.

Dalam periode Covid 19, banyak berita lokal, daerah, nasional, dan bahkan global internasional. Banyak yang aktual dan ebnar. Namun, banyak juga yang belum tentu benar alias hoax. Negeri dalam posisi ini sedang kopad kapid. Apalagi, kalau isu Covid 19 ditarik masuk ranah politik. Mudah-mudahan tidak. Kalau terjadi, mudah-mudahan tidak parah.
Rakyat membutuhkan pendidikan. Rakyat membutuhkan pencerahan. Rakyat membutuhkan informasi yang tepat.

Setiap pemimpin daerah, selalu jadi sasaran. Jika daerahnya dikategorikan merah (Covid 19), maka dihubungkan dengan pemimpinnya. Entah itu wali kota, gubernur, atau bupati. Hanya saja, yang paling gempar, jika wilayah itu kota besar. Maka, jadilah gempar. Sebuah isu yang tadinya ranah kesehatan, akhirnya menjadi komoditas politik. Mumet bin nggliyeng.

Apa ini hanya terjadi di negeri sendiri saja. Tidak. Di Amerika, Presidennya “dihantam” juga dengan isu pandemi covid 19. Menurut pengakuan Presiden Donald Trump, itu isu Covid 19, dibawa ke ranah politik. Dan, memang, mereka di sana sedang mendekati pilpres, Nopember ini. Kopad kapid, telinganya. Kopad kapid dengar berita. Kopad kapid telinganya selama pandemi Covid 19 ini belum habis. Dan, katanya tidak akan habis. Mumet bin nggliyeng.

Perlu ada kebersamaan. Pertama, pemerintah harus kompak. Sigap dan rapatkan barisan. Setiap departemen, punya data lengkap akurat. Tidak boleh ada perbedaan pendapat yang bersifat mendasar: utamanya data penting terkait kebijakan publik.

Kedua, sistem informasi. Kebijakan terkait Covid 19 dan programnya serta anggarannya harus valid. Dikerjakan secara cermat dan tepat sasaran. Bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial, serta ekonomi sangat penting sekali. Programnya harus luar biasa. Seperti saran Presiden kita. Sense of crisis harus nyata di semua jajaran. Tidak ada yang saling menyalahkan.

Dalam budaya mutu, problem is a mountain of treasure. If we solve the probelm, we will have improvement. Blaming other people does not solve the problem but even create another new problem. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here