Terobosan Baru PMI Banyuwangi Dalam Penanganan Gempa Bumi

0
267
peserta pelatihan saat melakukan simulasi bencana.

Banyuwangi, IP.News – Setelah sukses melakukan kerjasama dengan American Red Cross, kini PMI Banyuwangi juga telah melakukan kerjasama dengan perusahan AtmaCo diantaranya dalam bentuk pelatihan penanganan bencana.

Atma Co adalah sebuah organisasi nirlaba berbasis tehnologi Informasi (IT) yang mengembangkan sebuah Aplikasi sosial media berbasis masyarakat, dengan semboyan warga bantu warga.

Dengan diadakan pelatihan ini masyarakat akan mudah mendapatkan informasi yang benar benar valid , karena semua masyarakat dengan mudah dapat mengakses sendiri lewat ” Aplikasi Atma Co setiap saat.

Pelatihan telah dilaksanakan selama 2 hari yaitu Jum’at – sabtu 25 – 26 Oktober 2019 bertempat di Kantor PMI Banyuwangi Jalan Kartini No. 5 Banyuwangi.

Kabupaten Banyuwangi dipilih karena menjadi salah satu kabupaten yang beresiko tinggi bencana di Jawa Timur. Dengan panjang pantai 175 Km, Kabupaten Banyuwangi berpotensi bencana gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir hingga longsor. Dengan demikian Banyuwangi butuh pengetahuan, sikap dan tindakan untuk melakukan kesiapsiagaan, adaptasi, dan mitigasi terhadap bencana.

Jenis kebutuhan tersebut tidak hanya wajib dimiliki oleh aparat pemerintah terkait, namun juga seluruh pemangku kepentingan masalah kebencanaan, terutama warga masyarakat dan relawan kebencanaan, baik yang tingga di kawasan rentan bencana maupun daerah yang terdampak bencana.

Bahwa salah satu upaya yang dilakukan oleh PMI Kabupaten Banyuwangi untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah melalui training jurnalisme warga. Melalui pelatihan ini, peserta belajar teknik jurnalistik dasar membuat perencanaan berita isu kebencanaan, menggali data dan menulis. Hasil tulisan kemudian dipublikasikan ke www.atmago.com sebuah aplikasi berbasis web dan android yang dikembangkan oleh Atma Connect yang dapat membantu pertukaran informasi antar masyarakat.

Koordinator program PMI Banyuwangi, Ismiyati mengatakan dengan pelatihan tersebut diharapkan agar peserta mampu menjadi content creator sekaligus jurnalis warga dengan memanfaatkan aplikasi berbasis warga Atma Go di area masing-masing. Sehingga warga ikut berperan membantu meminimalisasi risiko bencana, meningkatkan kesiapsiagaan dini, serta meningkatkan komunikasi antara masyarakat yang tinggal di wilayah berpotensi terdampak bencana.

“ Ke depannya peserta harus mampu melatih kelompok dampingannya masing-masing tentang pemanfaatan aplikasi atmago dan menyebarkan informasi mitigasi bencana kepada kelompok masyarakat yang lebih luas”, Kata Ismiyati.

Sementara itu Ika Ningtyas Unggraini fasilitator pelatihaan menegaskan acara ini cukup penting untuk menumbuhkan para jurnalis warga di daerah-daerah rawan bencana. Peran jurnalis warga sudah banyak terbukti mampu menggerakkan dan merekatkan ikatan sosial di saat bencana, modal sosial paling penting dalam pemulihan pasca bencana.

Lebih lanjut Ningtyas menjelaskan tidak hanya saat bencana, jurnalisme warga bisa berperan dalam memberikan literasi dan informasi mitigasi bencana. Aplikasi atmago juga penting karena bisa menghubungkan para jurnalis warga di seluruh nusantara. “Sehingga mereka saling bertukar informasi dan belajar dengan sesamanya,” Jelasnya.

Silvia Yulianti Senior Partnerships Manager Atma Connect mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya Atma Connect dalam mengubah paradigma penanganan bencana dari penanganan yang reaktif/ esponsif menjadi penanganan yang preventif yaitu dengan membuka ruang yang lebih luas terhadap kegiatan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) yang berbasis masyarakat.

“ Melalui pemanfaatan aplikasi atmago, penanganan bencana bisa dilakukan secara bersama-sama sesuai perannya dengan melestarikan dan mengembangkan nilai gotong royong secara online,” katanya.

Peserta pelatihan merasa mendapatkan manfaat dengan pelatihan ini. Danang relawan PMI dari kelurahan Mojopangung mengatakan, dirinya mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya jurnalisme warga dalam upaya mitigasi bencana.

“ Awalnya saya bingung apa hubungan antara bencana dengan pemanfaatan aplikasi atmago. Sekarang saya paham bahwa di tengah situasi bencana banyak informasi hoax beredar di tengah masyarakat,” kata Danang.

Menurut dia, melalui atmago, warga dan relawan dapat memproduksi berita sendiri dengan memprioritaskan informasi yang valid dan dipercaya.

Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari anggota SIBAT, anggota BPBD, anggota Palang Merah Remaja, Staff PMI, pengurus sekolah, radio komunitas, media lokal serta kelompok masyarakat seperti kelompok perempuan dan kelompok berbasis agama di kabupaten Banyuwangi.

Sedangkan salah satu lembaga swadaya masyarakat ( LSM yang mendapatkan undangan untuk mengikuti pelatihan adalah LSM KOBRA , yang didihadiri oleh Ketuanya Daud Djoni WD. (nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here