Wartawan Bodrek dan Media Abal-Abal Merusak Citra Jurnalisme

0
297

Seiring perkembangan zaman telah membawa profesi jurnalis ikut berkembang. Kini, nama jurnalis atau wartwan sudah tidak asing ditelinga masyarakat luas. Maraknya oknum wartawan gadungan saat ini yang berkeliaran dalam ruang lingkup pers justru meresahkan masyarakat, aparat pemerintah dan para pelaku media.

Di lingkungan media, ada sebutan wartawan bodrex yang tujukan kepada para oknum wartawan gadungan atau mengaku sebagai wartawan untuk mencari keuntungan pribadi, melakukan pengancaman sekaligus pemerasan terhadap Instansi atau aparatur pemerintah.

Jika kita lihat segi penampilan wartawan bodrek jauh berbeda dengan wartawan asli, mereka (Wartawan bodrek) sering sekali mengenakan pakaian dan atribut mencolok dengan tulisan huruf “Pers” yang besar di bagian kemeja, tidak tanggung-tanggung mereka juga menempel stiker “Pers” yang dikuti nama media mereka (Katanya) di mobil, motor sampai helm yang mereka kenakan.

Gerak-gerak wartawan bodrek selalu gagah dan berani, apalagi mencari kesalahan-kesalahan dari Instansi atau lembaga pemerintah setempat. Mereka pandai memainkan kesalahan yang ditemukan, kemudian mereka jadikan bahan untuk mengancam lalu melakukan pemerasan dengan dalih keselahan tersebut akan diberitakan oleh media tempat mereka bekerja.

Wartawan bodrek jelas terlihat selalu tidak beretika baik, mereka bertingkah layaknya preman pasar yang meminta jatah kesetiah lapak-lapak. Mereka cenderung lebih bersikeras bagaimana cara mendapatkan uang saja.
Menemukan kesalahan bagi kaum wartawan bodrek bisa menguntungkan karena dari sana mereka bisa mendapatkan sejumlah uang dari beberapa pihak terkait agar kesalahan yang ditemukan tidak diberitakan. Ancaman seperti itu adalah senjata bagi mereka untuk meraih keuntungan berupa uang.

Seringkali masyarakat umum, Instansi dan aparatur pemerintah tertipu oleh oknum-oknum wartawan gadungan ini. Karena mereka memiliki kelengkapan seperti yang dimiliki wartawan asli, yakni memiliki Id-Card dan surat tugas. Dengan perlengkapan Id-Card dan surat tugas mereka lebih percaya diri mengaku sebagai seorang wartwan.

Sayangnya, sedikit orang yang memperhatikan kejelasan status mereka sebagai wartawan (Katanya). Jika masyarakat, Instansi atau lembaga pemerintah serta swasta lebih teliti wartawan bodrek ini tidak memiliki kemampuan dibidang jurnalistik, mereka hanya pandai mencari kesalahan-kesalahan. Dari segi keilmuan tentang jurnalis mereka tidak, media mereka tidak jelas bahkan tidak memiliki surat kabar sama sekali.

Adapun media mereka yang memiliki surat kabar, dari tulisan tersebut tidak ada sama sekali nama wartawan bodrek tersebut sebagai penulis.

Harga korannyapun mereka tarif dengan nilai rupiah yang tidak umum, ada yang Rp.50.000-150.0000 dengan sedikit paksaan seolah-olah koran tersebut wajib dibeli dan jika tidak bisa berbahaya.

Biasanya dalam melakukan aksinya para wartawan bodrek tidak sendirian, mereka lebih sering berkelompok. Kedatangan mereka ke suatu tempat Instansi, lembaga pemerintah maupun swata justru membuat pihak yang datangi pusing, itulah penyebab wartawan gadungan disebut sebagai wartawan bodrek. Karena ujung-ujungnya kedatangan mereka hanya untuk mengancam lalu meminta uang.

Sasaran wartawan bodrek biasa di daerah, lingkungan sekolah, kecamtan, Kantor Kepala Desa, lingungan pejabat pemda dan para kepala dinas.

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh wartawan bodrek tersebut menjadi keresahan bagi para wartawan asli dan pelaku media, pasalnya nama wartawan tercoreng dimata masyarakat oleh oknum-oknum yang mengaku wartawan.

Masyarakat tidak mengetahui bahwa wartawan yang sebenarnya tidaklah sama seperti apa yang mereka lihat, dengar dan simpulkan di lapangan

Jika dicermati tampak terlihat jelas perbedaan wartwan bodrek atau wartawan gadungan dengan wartawan asli. Mereka yang berstatus wartawan asli justru lebih sulit ditemukan karena kerap menutupi identitasnya.

Wartawan asli jauh lebih beretika dalam melakukam tindakan-tindakan ketika di lapangan karena mereka sadar tujuan mereka adalah mencari data kemuskan menyampaikan informasi kepada khalayak sesuai dengan fakta. Mereka tidak memikirkan keuntungan pribadi berupa uang dari pihak tertentu karena mereka (Wartawan asli) memiliki gaji di media tempar mereka bekerja.

Maraknya perusahaan media-media online lokal abal-abal juga mempengaruhi munculnya para wartawan bodrek. Selain bertujuan untuk mendapatkan uang dengan cara memaksa dan mengancam, berita-berita yang mereka hasilkan adalah berita bohong, cenderung penggiringan opini kepada masyarakat perilhal politik. Ketika kita coba bandingkan berita yang dimuat di media lokal abal-abal dengan media nasioal sangat terlihat jelas perbedaan dari teknis penulisan dan isi dari beritanya.

Karakter berita yang disajikan oleh wartawan bodrek dan media abal-abal tentu merusak citra jurnalisme. Bahaya dari berita media online abal-abal yang mengandung provokasi, berita bohong tersebut kembali dibagikan oleh segian masyarakat ke sosial media seperti, faebook, twitter, instagram dan whatsapp. Hal ini dapat menimbulkan kegaduhan dan perpecahan antara masyarakat.

Untuk itu, kita sebegai masyarakat harus meningkatkan ketelitian terhadap oknum-oknum yang mengaku sebagai wartawan. Cari tahu asal-usul media tempat mereka bekerja, tanyakan beberapa kode etik jurnalistik, dari organisasi wartawan mana yang mereka ikuti dan tanyakan mereka memiliki telah sertifikasi dari dari Dewan Pers.

Kemudian meningkatkan sikap kritis terhadap suatu berita yang kita terima, jangan mudah percaya terhadap suatu berita yang dirasa bahwa sumber berita diragukan, dengan mencari kata kunci berita tersebut lalu bandingkan dengan berita dari beberapa media yang jelas dan dapat dipercaya.

Sumber : kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here