Waspadalah Goncangan Masyarakat Digital

0
118
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Dua tahun terkhir ini, banyak kasus terkait ujaran. Sengketa yang juga melibatkan pejabat. Rakyat jelata juga bersamaan. Masuk dalam jeratan hukum. Ini akibat perubahan dari masyarakat konvensional menjadi masyarakat digital. Ganas dan gempar. Seru dan syahduh. Namun, mengerikan bagi kaum seumuran saya. Kegoncangan dimulai dari segi sensitif. Terutama ras dan agama. Yang menyedihkan,

Negara maju pun seperti Amerika, justru dipertontonkan oleh orang nomor satunya. Ada beberapa teman saya dari Asia yang tinggal di sana pun mengeluh dengan kebijakannya. Cenderung rasial. Mereka sering menyampaikan secara private, misalnya melalui messenger.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita sering menemukan dan sampai pada titik terbawah, mengerikan. Selama ini yang terpampang justru ujaran-ujaran sensitif. Yang lebih parah jika fenomena ini dijadikan komoditi untuk politik. Mudah-mudahan tidak ada meski kita terbelalak secara nyata ada. Perhatikan, selama pilpres. Kenangan buruk selama itu. Toh, akhirnya, kedua jago (para capres) itu bertemu, di tempat yang sederhana, merakyat.

Fenomena kegoncangan dalam masyarakat digital sudah diprediksi jauh sebelumnya oleh Alvin Toffler. Dengan bukunya Future Shock (1970), kenyataan hari ini tergambar jelas. Meskipun, yang diramal itu sudah banyak terjadi lebih awal. Misalnya, berakhirnya perang Vietnam, Rusia dengan kemerdekaan Negara-negara bagiannya (glasnost and perestroika). Bahkan, ramalan pertanian di laut pun sudah diprediksi dalam buku itu.

Kebetulan, saya sudah baca fotokopian pada 1981. Buku kopian itu milik paman saya. Dan, saya ikut ngenger di rumahnya. Saya baca semua buku fotokopian itu. Dalam istilah Alvin Toffler, ?it is too much change in too short a period of time.? Banyak perubahan dahsyat dalam waktu singkat. Jelas ini peran andilnya teknologi. Sebuah berita kecil di sebuah daerah terpencil, jika itu sensitif, bisa menyebar ke seluruh dunia.

Hati-hati dengan istilah too much change. Kata too much, menandakan kita tidak berdaya. Itu menandakan banyak perubahan. Namun, tidak bisa diatasi secara spontan. Coba baca saja uraian di Wikipedia. Bahwa kita terporak poranda. Kita tak berdaya. Digambarkan dengan pernyataan? They believed the accelerated rate of technological and social change left people disconnected and suffering from “shattering stress and disorientation”?future shocked.?

Banyak yang percaya, perubahan masyarakat dan teknologi yang sangat dahsyat, membuat masyarakat terputus (disconnected). Lebih parah lagi, kita diprediksi menderita stress dan terkapar-kapar (disorientated= terjemahan bebas saya). Mengerikan juga ramalan lima puluh tahun lalu. Bahwa, kita akan bercerai berai, saat ini. Bahwa kita akan terputus hubungan. Hubungan silaturohim. Hubungan kebangsaan. Hubungan pertemanan. Bahkan bisa juga hubungan persaudaraan (disconnected and disoriented). Waspadalah, kita harus lebih jernih berpikir. Jangan terperosok.

Kekejaman zaman diubah secara sistematis oleh perkembangan itu sendiri. Sialnya, manusianya tidak siap. Sayangnya, pranata system Negara dan masyarakat lebih lambat. Lebih parahnya, semua manusia di negeri sudah terperosok dalam kehidupan masyarakat digital. Terperosok, dalam artian, kita tidak bisa menghindar. Kita masuk dalam kehidupan nyata dengan masyarakat bentukanya digital, bukan konvensional. Wanita, lelaki, tua-muda, masuk jadi satu tanpa batas yang jelas.

Ujaran orang dewasa campur dengan ujaran anak-anak. Ujaran orang cerdas campuraduk dengan ujaran orang tidak cerdas. Semua itu sudah diprediksi, terporak porandalah kita. Disconnected and disoriented. Ini dibutuhkan secara cepat solusi dengan grand design. Saya tidak tahu, apa yang sudah dikerjakan dalam skala nasional terkait dengan maraknya kegoncangan ini. Alvin Toffler jauh sebelum itu sudah memberitahu. Siapapun sudah pasti baca buku itu. Utamanya, pengambil kebijakan dan ilmuan yang ada di dalamnya.

Sangat disayangkan. Itu sebabnya, perlu perenungan. Pihak pemerintah, selain membahas ekonomi dan proyek, akan lebih penting jika grand design model strategi pendidikan nasional disusun secara sistematis. Jangan hanya mengejar kecerdasan otak belaka. Misalnya, perolehan piala dan penghargaan penghargaan simbolis. Perlu juga adanya pembekalan kepribadian bangsa secara sistematis.

Bangsa ini bisa terporakporandakan oleh ketidkasiapan mental. Seperti yang diramalkan Alvin Toffler. Disconnected and disoriented. Sistem pendidikan nasional dirancang dengan mengutamakan pengendalian teknologi. Bukan kita dikendalikan oleh teknologi. Kemajuannya memerlukan kecerdikan dalam mengendalikan. Kemudian, kurikulum dirancang dengan mementingkan pendidikan akhlaq. Nilai-nilai budaya. Nilai-nilai social lainnya diberi porsi nilai tinggi. Jangan hanya silau dengan teknologi saja.

Sistem itu, diterapkan secara nasional melalui pemerintah daerah. Setiap daerah memiliki nilai-nilai kultur. Kemudian, nilai-nilai itulah dijunjung tinggi dalam bentuk kurikulum. Lebih dari itu, teknologi dipakai untuk menunjang peningkatan pemahaman dan apresiasi nilai-nilai itu. Bukan secara lepas. Diskrit!. Yang akhirnya berakibat adanya kondisi yang disconnected and disoriented. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here