MENGENAL TRADISI LABUHAN GUNUNG KOMBANG NGLIYEP MALANGBERSAMA KI SURYO ALAM DAN NYIMAS NAWANGSARI

0
78

MALANG; IP.News – Ritual Labuhan Gunung Kombang (atau Gunung Kumbang) 117 tahun di Pantai Ngliyep merupakan salah satu upacara adat tahunan paling sakral yang digelar oleh masyarakat pesisir Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Berikut adalah ringkasan, mengenai ritual adat dan Mengenal Ritual Labuhan Gunung Kombang Makna & Tujuan: Ritual ini diadakan sebagai wujud rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan hasil bumi, pertanian, serta keselamatan para nelayan.

Selain itu, upacara ini juga bermakna menghormati para leluhur dan menjaga tradisi persembahan kepada penguasa Laut Selatan (Nyi Roro Kidul/Mbok Nyai Ratu Mas) yang mitosnya melekat kuat di masyarakat setempat.

Prosesi Larung Sesaji: Puncak acara ditandai dengan larung sesaji, di mana masyarakat membawa hasil alam, gunungan, hingga hewan kurban (seperti kepala kambing atau kepala kerbau) untuk dihanyutkan atau dilarung ke laut dari atas tebing Gunung Kombang.

Waktu Pelaksanaan: Tradisi turun-temurun yang telah berusia lebih dari satu abad ini biasanya digelar bertepatan dengan bulan Maulud (Grebek Maulid). Pada pelaksanaan terbaru, upacara Labuhan yang ke-117 diselenggarakan pada Kamis, 28 Agustus 2026.

(Dua) Tokoh dalam Foto tersebut mengabadikan para tokoh adat dan sosok penting yang memimpin/Mengawal jalannya ritual sakral dengan mengenakan pakaian adat Jawa yang sangat megah:Nyimas Nawang Sari,
Tampil anggun mengenakan pakaian adat basahan berwarna hijau-emas dengan mahkota/siger tinggi serta ronce melati yang menjuntai panjang khas pengantin atau tokoh spiritual Jawa.
sebagai sosok Aktif Sebagai Pendoa Di setiap Presesi Labuhan Di Gunung Kombang.

Nyai Wali Ida Rofi
Beliau merupakan salah satu sosok penting yang berpartisipasi aktif dalam mendukung kelancaran upacara (termasuk menyumbangkan hewan kurban Dua Kerbau untuk prosesi adat)
Labuhan/ Pelarungan .

Ki Suryo Alam (Kanan): Tampil berwibawa mengenakan seragam hitam dengan udeng (ikat kepala) khas Jawa, menggenggam tongkat kayu alami, memimpin jalannya barisan atau prosesi pengawalan ritual agar berlangsung khidmat. (pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here