Buah Tutur Kata dari Lidah Tanpa Pathos

0
2603
Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum
Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Sejak lahir, hampir setiap orang ingat pitutur orang tua. Ungkapan Bahasa Jawa yang sering disampaikan orang tua dahulu sangat erat dengan filsafat retorikanya Aristoteleds (384-222 SM). Dalam Bahasa Jawa, kita kenal ungkapan “Ajining Manungso Soko Ing lathi”. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia kurang lebih ”Harga Diri Manusia itu Ada Pada Lidahnya.”

Lidah dalam ilmu Bahasa (linguistics) dinamakan organ ucapan (organ of speech) dan sangat produktif sebagai alat artikulasi (articulator). Bayangkan, apa yang terjadi jika kita tidak punya lidah? Dalam komunikasi, kita pasti menemui kesulitan untuk menyampaikan pesan. Lidah memang sangat penting karena fungsinya sebagai articulator dalam komunikasi yang paling aktif.

Lidah dalam kehidupan orang Jawa ditempatkan sebagai organ manusia yang sangat tinggi nilainya. Seperti pepatah di atas, bahwa Lidah itu lebih tajam dari sebuah pisau. Ini menggambarkan, bahwa lidah itu sangat berbahaya jika salah menggunakannya. Ucapan yang keluar dari mulut dan terartikulasikan dengan organ ucap lidah, bisa memberikan dampak berbeda-beda.  Dampak itu bisa positif dan juga bisa negatif.

Lidah yang artikulasinya dikendalikan oleh pathos, maka buah tutur bahasanya akan selalu cantik dan indah. Jika ucapan dihasilkan oleh lidah dikendalikan oleh pathos, ucapan itu bisa jadi santapan rohani yang mulia. Namun, ada kalanya, manusia itu lepas dan hilang pathosnya. Karena merasa gagah dan perkasa serta berkuasa, lidah seseorang bisa lepas kendali dari pathos. Pathos, adalah derajat kepekaan manusia dalam merasakan perasaan orang lain yang diajak bicara.

Jika lidah mengartikulasikan buah tutur kata tanpa dikendalikan oleh pathos, maka buah tutur kata itu bisa berupa pisau yang tajam. Bahkan, buah tutur kata itu diprediksi lebih tajam dari sebuah pisau. Buah tuturnya bisa menusuk-nusuk, mengoyak-ngoyak, bahkan menggemparkan suasana. Itulah jika lidah itu tidak dipelihara. Bahaya juga jika lidah itu tidak diasah dengan pathos. Dahsyat juga dampak buah tutur kata yang dihasilkan oleh lidah tanpa pathos bagi umat sejagat.

Lidah dan kata itu lebih erat dalam Bahasa. Lidah memang sangat aktif dalam artikulasi bahasa manusia. Lidah menghasilkan ucapan-ucapan lebih produktif. Lebih produktif dan aktif karena lidah itu paling fleksibel digerakkan. Dibanding alat ucap yang lain,  lidah memang paling mudah digerakkan ke segala arah. Berbeda dengan gigi yang bersifat pasif. Lidah lebih aktif menyentuh gigi dan langit-langit dalam mulut.

Karena sangat aktif dan produktif, lidah manusia memerlukan pemeliharaan. Ibarat mesin, lidah itu lebih banyak bergerak. Bibir dan rahang pun hanya bergerak ke atas dan ke bawah. Namun, lidah bergerak ke segala arah. Itulah, dalam filsafat Jawa dan ungkapannya, bahwa manusia itu ditentukan oleh lidahnya, bukan giginya maupun bibirnya. Ajining manungso iku soko ing lathi.

Kunci memelihara lidah itu dengan cara mendekatkan lidah dan pathos. Pathos itu, bisa dimiliki jika manusia itu hidupnya senantiasa bisa merasakan perasan orang lain: simpati. Pathos itu bisa dimiliki, jika manusia itu sering menginstropeksi diri. Manusia itu akan lebih tinggi pathosnya jika dia sering menghayati kehidupan dan alam.

Masyarakat itu memiliki nilai-nilai sosial dan psikologis yang sudah mereka jiwai sejak manusia itu ada. Komunitas itu membawa segala bentuk budaya, nilai, tradisi, termasuk nilai-nilai agama. Jika lidah dilapisi dengan pathos, buah tutur kata yang dihasilkan lebih dekat dengan nilai-nilai masyarakat. Ucapan-ucapannya terkendali. Dan, itulah sebabnya, lidah itu masih butuh pathos. Manusia boleh itu boleh nerocos, tetapi ingat, telinga dan hati manusia itu ada batas-batasnya. ****

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here