Kisah Alumni D2 Bahasa Inggris Unesa Saat Halal Bihalal

0
83

Surabaya, IP.News – Pada Sabtu (27/4/2024) di Café Dapur DK, Jalan Lebo 30, Sidoarjo, para alumni Diploma 2 jurusan Bahasa Inggris FKIP Surabaya (sekarang UNESA) angkatan 1981/1983 berhalal bihalal. Ada yang dari Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, dan daerah lain. Ada yang dari Jakarta, Ibu Nina Karlina. Nama panggilan akrabnya, Mbak Nina. Acara dibuka oleh Ibu Endah NL, panggilannya akrabnya, Mbak Endah. Dia ini mengorganisir acara, pesan tempat, tentukan waktu, dan tanggalnya bersama di grup Wassap. Kemudian, satu persatu berkisah pengalaman hidup secara singkat singkat.

Pertama, Mas Djuwari, panggilan akrab sehari harinya, berkisah tentang perjalanan hidupnya. Setelah lulus D2, dia ditempatkan di SMPN Kedung Adem Bojonegoro. Mas Djuwari, masih tetap melanjutkan ke S1, lulus 1987. Lalu, saat menjadi dosen di STIE Perbanas Surabaya, dia studi lagi S2, dan akhirnya juga ke S3. Pertama mengajar di STIE Perbanas Surabaya mulai 1989. Pada 2022, dia pindah ke Jurusan Bahasa Inggris FKIP, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Bersyukurlah kita bisa saling bertemu bersilaturohim saling meminta maaf, ucapnya.

Kedua, Bapak Sunardi. Alumni ini berkisah setelah lulus D2, ditempatkan di pulau Sapudi. Sebuah pulau yang ada diwilayah Madura. Dalam pesannya, dia berharap agar semoga semua alumni selalu diberi barokah, sehat wal afiat. Alumni yang satu ini, tampak selalu bersemangat dan gembira. Dia merasa senang bisa bertemu kembali dengan para alumni D2 ini. Sebagai guru itu lebih banyak mengabdi, mendidik siswa siswi agar mereka berhasil menjadi orang-orang sukses.

Disusul ketiga, bagian dari Ibu Ester Novi. Ibu ini setelah lulus D2, ditempatkan di SMP Negeri I Sidoarjo. Dia mengabdikan diri mengajar di sekolah ini sampai deia pension. Ester, nama panggilannya, juga bercerita, bahwa dia sudah menyelesikan studinya S2. Selamat idul fitri dan mohon maaf lahir dan batin. Ungkapnya kepada para temannya di arean meja hidangan yang sudah siap dimakan.

Berikutnya, Ibu Nina Karlina. Nama panggilan akrabnya Mbak Nina. Dia ini, satu satunya, yang datang dari Jakarta. Dia tinggal di Jakarta dan mengabdikan sebagai guru SMP di wilayah ini. Dialah yang datang langsung dari Jakarta saat itu. Begitu masuk arena pertemuan, dia tampak ditemani teman akarabnya sejak kuliah, Mbak Surti, nama lengkapnya Ibu Surtiningsih.

Mbak Nina ini juga sempat melanujutkan ke S1, namun banyak kegiatan dan terganggu dengan kesibukan suami bekerja di BUMN, dan berpindah-pindah. Ada alasan penting mengapa dia diizinkan suaminya hadir. Pertemuan halal ihalal adalah silaturohim berpahala dan barokah. Ada kisah di saat kuliah dengan Alumni bernama Djuwari. Saat itu, dia panggilnya Dju. Medit amat Dju itu. Waktu ujian dimintai contekan, selalu ditutupi. Kisahnya di saat acara itu. Djuwari langsung tertawa, meski dia sudah lupa peristiwa itu.

Setelah itu, disusul Ibu Surtiningsih, nama panggilannya Mbak Surti. Dia setelah lulus, bekerja di perusahaan kontraktor, sebuah kegiatan pengabdian di luar bidang Pendidikan yang dia tekuni. Yang menarik dari Mbak Surti ini adalah kecekatannya sebagai penerima tamu (receptionist) yang berdedikasi tinggi. Selain menemani datang ke tempat pertemuan bersama Mbak Nina, dia juga menemani Mbak Nina setelah acara pertemuan halal bihalal.

Dari beberpa cerita di atas, masih ada lagi bagian dari Ibu Lilik Suhariyati. Dia ini lebih gigih perjuangannya dalam meniti karir. Setelah mengabdi sebagai guru SMP, dia berkesempatan mengikuti tes jabatan Kepala Sekolah, pada 1997, dan sukseslah dia menjadi Ke[ala Sekolah. Ini sebuah terobosan kegigihannya menjalani perjuanagn hidup yang sangat seru.

Tidak hanya itu, dia pun mampu berkinerja mendapatkan ranking 4. Lebih gigih lagi, dia mengikuti seleksi menjadi Pengawas Sekolah. Hingga sekarang, dia masih aktif sebagai Pengawas Sekolah. Dan, pensiunnya diperpanjang sampai 5 tahun lagi setelah selesai sebagai Kepala Sekolah. Banyak liku-liku perjalanan meniti jabatan mulai dari Guru Sekolah, Kepala Sekola, sampai menjadi Pengawas Sekolah.

Ibu Ony Rosidah, bercerita kisah-kisah seperti teman-temannya. Setelah lulus dari D2, dia langsung diangkat di SMPN di wilayah Lamongan. Tepatnya, di SMPN Sukodadi. Setelah 6 tahun mengadi di SMP ini, dia kemudian pindah ke Surabaya, yaitu di SMPN 11 Surabaya. Mbak Ony, nama panggilan akrabnya, juga sudah memeroleh kesempatan untuk melajutkan studi S1. Perjuangannya sebagai guru diabdikan di SMP N ini dan akhirnya, sekarang sudah pensiun.

Ibu Endah NL, Mbak Endah, pangggilan akarbnya, bercerita lebih unik karena sambil menunggu Surat Keputusan (SK) pengangkatan guru, dia mengajar sementara di SMP PGRI 9 Surabaya. Setelah itu, dia mengajar dapat SK pada 1984. SK ini menempatkan dirinya awalnya di SMP Waru 2, Sidoarjo. Namun, ternyata di SMPN Prambon. Akhirnya, dia cari kontrakan di wilayah tersebut. Kemudian, dia juga sempat kuliah di Universitas Muhammadyiah Surabaya jurusan Bahasa Inggris juga.

Ibu Sri Kumayati, ini dari Wonoayu. Pengalaman hidupnya, seluruhnya diabdikan untuk mendidik siswa siswi di SMPN 1 Sutorejo, Mojosari. Menurut, Mbak Sri, panggilan akrabnya, dia beruntung ditempatkan di sekolah ini. Dia menyatakan kalau tempat kerja ini dekat rumahnya. Lumayan tidak mengontrak rumah seperti teman-teman lainnya di sekolah itu.

Ada cerita unik dari Mbak Sri, bahwa dia sering diusili siswanya di sekolah. Namun, begitu dia lulus dan bekerja, siswi tersebut justru lebih dewasa dan menghargai mantan gurunya. Lebih senang lagi, bisa ketemu Ibu Lilik Hariyati, teman satu alumni ini yang menjadi pengawas di wilayah sekolahnya.

Bapak Aam Murtadho, panggilan akarabnya, Mr. Alex. Alumni ini sangat unik cerita hidupnya. Dia sudah bekerja di perhotelan saat mulai kuliah D2 jurusan Bahasa Inggris ini. Pikirannya, saat itu, dia tidak berniat jadi guru. Dia merasa tidak berbakat jadi guru. Menurutnya, dia kuliah karena desakan orang tua. Dia bekerja di hotel dan lulus D2 ditempatkan di SMPN Camplong, Madura. Katanya, waktu itu di hotel Radison Jogja. Dia menceritakan kawan-kawan yang bekerja di perhotelan bukan dari Pendidikan khusus jurusan perhotelan. Mereka dari berbagai jurusan termasuk Pendidikan. Dia juga sempat transfer ke program S1, mulai pada 1987, kemudian lulus pada 1992.

Bapak Rooghib ini begitu lulus dia ditempatkan di SMPN 1 Tarik, Sisdoarjo. Menurut pengakuannya, menjadi guru itu bisa memeroleh banyak teman. Sekarang, semua siswa sudah banyak yang dewasa dan mereka masih mengingat saya. Bila bertemu di mana saja, mereka menyapa. Di sinilah perasaan sebagai guru itu, bisa mendapat banyak kawan. Mereka banyak yang sudah sukses. Berkahirlah acara ini dengan penutupan doa dipimpin langsung oleh Mbah Yai Rooghib.(Bas/ Dju)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here