Luber untuk Jatim Bersatu

0
1724
Dr. Djuwari, M.Hum
Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Pendidikan politik untuk rakyat itu bisa sederhana. Rakyat biasa itu sudah biasa hidup sederhana. Jalan pikirannya juga tidak berbelit-belit. Jika prinsip Luber (Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia) digalakkan, semua jadi simple: tidak rumit.

Kiprah hidup apa pun tidak berbelit-belit. Apalagi bertingkah heboh dengan cemoh-mencemoh. Itu tidak ada dalam kamus rakyat yang hidup sederhana. Pendidikan politik rakyat bisa melalui konsep Luber.

Selama ini, rakyat tidak pusing. Coba, secara jujur kita amati sendiri! Duduklah di warung kopi! Duduklah di warung nasi pecel! Duduklah dengan bakul sayur di pasar krempyeng! Tempat-tempat sederhana itu tidak pernah gaung pekikan politik. Apa yang dibicarakan, murni minum kopi, makan nasi pecel, dan tawar-menawar sayuran. Tidak muluk-muluk.

Lain lagi dengan para “cendekiawan-cendekiawati” media sosial. Mereka gerah. Sebagian mereka mungkin mengidap penyakit dalam. Teriak-teriak. Ejek-mengejek. Nyinyir- menyinyir. Kampret-kampretan. Cebong-cebongan. Entahlah, apa istilahnya? Itu semua merupakan kosa-kata di media sosial. Cukup meriah. Frekuensinya amat tinggi. Perbendaharaan kata itu semebar dan merata di berbagai portingan.

Namun, rakyat jelata, rakyat biasa murni hidup sederhana. Jadi, jika kita jujur dan tulus semua enak dan damai. Jika kita jujur kata, bahwa Luber itu indah, semua indah.

Jika kita tulus hati, bahwa luber itu diberkati, semua damai. Maka, hidup itu sederhana. Hidup itu tidak riuh gemuruh. Hidup itu tidak tercabik-cabik, tetapi hiudp itu sangat cantik: molek dan manis. Hidup itu semanis konsep Luber, jika diimplementasikan dengan nyata.

Selama ini, yang berteriak histeris jelas tampak berlawanan dengan konsep Luber. Karena dalam konsep Luber, itu ada kata rahasia. Dalam kajian tacit knowledge, kita bisa membongkar isi hati manusia. Tanda-tanda menerjemahkan pikiran itu bisa dari kosa-kata.

Jika berteriak hsiteris karena bertahan dan menyangkal. Jika kita memaki dan mencela kubu-kubu lain. Itu jelas gambaran kita bukan Luber. Kita menerobos konsep Luber, utamanya rahasia.

Biarkan konsep itu dirobek. Kalau kita hanya rakyat biasa, mengapa harus koar-koar. Dibayar berapa kita harus gotot? Diberkati apa kita harus ngeyel? Mendapat pahala apa kita harus mengejek?

Mendapat barokah apa, kita harus memaki-maki? Semua itu sia-sia. Semua itu bertentangan dengan konsep Luber. Itulah cara baca dengan rujukan tacit knowledge: mungkin ilmu kanuragan.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here