Mendongkrak Kinerja Karya Ilmiah PTS dan PTN

0
1320
Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum
Pengamat Pendidikan dan Sosial
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Sekarang semua perguruan tinggi (PT) baik swasta (PTS) maupun negeri (PTN) sedang sibuk-sibuknya meningkatkan kinerjanya. Kinerja ini dikaitkan dengan penulisan karya ilmiah oleh dosen-dosen mereka. Ini berkaitan dengan peraturan pemerintah melalui kemenristekdikti, yaitu peraturan no 20/2017. Peraturan ini mewajibkan semua dosen, utamanya Guru Besar (GB) dan dosen berpangkat Lektor Kepala (KP).

Banyak yang dilakukan oleh PTS dan PTS dalam kaitanya dengan program pemerintah itu. Ini bisa dimulai dari peningkatan penelitian dosen. Usaha itu juga bisa dilakukan dengan cara menerbitkan jurnal sendiri di PTS dan PTN mereka. Namun, tidak sedikit kendala-kendala yang ada di dalam penerbitan jurnal ilmiah itu.

Ada pula kebutuhan tenaga di jrunal ilmiah itu. Misalnya saja, penentuan orang yang bertanggung jawab penerbitan.  Dosen atau staf administrasi kah yang dipekerjakan?  Orang yang bisa memainkan dan cerdik teknologi informasi (IT). Apakah bagian TIK perguruan tinggi atau kah ada divisi sendiri?  Mereka juga membutuhkan orang yang “gila” dengan penulisan dan editing. Intinya, tidak semua dosen memiliki minat mememoloti tulisan dan mengedit sampai menjadi tulisan yang layak terbit. Intinya banyak masalah tak terlihat di dalam geudung kampus itu. Belum lagi beban dosen di PTS dan PTN yang sering dibahas secara umum dalam konteks apapun.

Mengapa demikian? Tidak lain adalah sumber daya manusianya (SDM). Dosen selama ini lebih banyak dibebani dengan jam mengajar dengan kelas banyak. Mereka juga banyak dibebani dengan tugas-tugas lain, misalnya administrasi. Mereka juga dibebani dengan tugas-tugas struktural lainnya. Inilah tetek bengek yang menghambat priogram penignkatan kinerja penulsian karya ilmiah. Jika dipaksakan maka hasilnya pasti tidak maksimal. Jika diberlakukan dan ditersukan, bisa saja karya yang ditulis tidak maksimal pula.

Pertama, penelitian dosen lebih didahulukan sebelum peningkatan penulisan artikel di jurnal ilmiah. Penelitian lebih banyak ditopang dengan peningkatan dana yang cukup bagi dosen. Terus terang saja, dana ini tidak sekadar biaya penelitian tetapi juga sebagai tambahan pendapatan. Dengan demikian, dosen akan bisa mengurangi jam mengajarnya. Apalagi, jika ada dosen yang mengajar di tempat lebih dari satu PTS.

Kedua, jika dosen sudah banyak meneliti dan menulis, setidaknya semua PTS dan PTN juga menerbitkan jurnal ilmiah mereka sendiri. Di sinilah dibutuhkan keahlian. Kalau yang pertama itu tadi keahlian meneliti dan menulis. Di sini, keahlian menerbitkan karya ilmiah. Akhir-akhir ini,  karya ilmiah itu membutuhkan keahlian teknologi informasi (IT). Di sini, artikel dikelola secara teknologis. Bukan sekadar ditempelkan saja. Itulah kebutuhan dasar yang kedua dalam mendongkrak kinerja penulisan karya ilmiah di PTS dan PTN.

Ketiga, PTS dan PTN juga membutuhkan keahlian layout. Keahlian ini terkait dengan keterampilan menata letak sebuah tulisan yang menarik dan enak dibaca. Itu sebabnya, jurnal ilmiah tidak sekadar pandai meneliti dan menulis. Ternyata, masih dibituhkan juga ahli seni tata letak sebuah tulisan. Tidak menyangka di antara para pelaku pendidikan utamanya pengambil kebijakan menimbulkan banyak perubahan. Bahwa sekali mengeluarkan keputusan atau aturan, banyak pula dampak yang harus berubah dan kebutuhannya.

Selanjutnya, masih banyak lagi yang terkait dengan peningkatan kinerja penulisan karya ilmiah. Yang paling urgent adalah ahli Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Keahlian ini untuk menghindari hackers jurnal online. Tidak sedikit pula kejadian pada lenyapnya alamat jurnal online yang di-hack oleh orang yang tak bertanggung jawab. Ahli TIK ini bisa mengatasi masalah-masalah itu.

Jalan yang ditempuh seharusnya lebih matang dan strategis. Artinya, bahwa semua keahlian itu memerlukan persiapan. Semua keahlian itu juga memerlukan anggaran. Semua kebutuhan SDM itu juga berarti terjadi pemekaran organisasi PTS dan PTN. Bukan sekadar divisi ini disisipkan dan ditambal-sulamkan. Langkah-langkahnya perlu strategis sistematis. Sumber dayanya, peralatannya, dimesni tata ruang dalam suasana kerjanya atau divisi baru sehingga PTS dan PTN ini mampu menghasilkan kenerja yang terukur dan mantap.****

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here