Pak Mendikbud: Vokasional atau Akademis?

0
2153
Dr. Djuwari, M.Hum.
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Pertama-tama, saya ucapan selamat kepada Mendikbud baru, Bapak Nadiem Makarim. Pendiri dan CEO Go-Jek, berusia 35 tahun, sebagai orang nomor satu di jajaran pendidikan nasional dan kebudayaan. Usianya tergolong muda. Masa mudanya lebih banyak di Singapore, kelahirannya juga.

Sangat kental kecerdasanya menggambarkan kehidupan di sana. Kecerdasannya sudah teruji dari inovasinya. Pak Presiden cermat: pilih anak muda di jajaran pendidikan. Sebuah terobosan luar biasa. Namun, pikiran saya tergelitik antara vokasional dan akademis.

Baru saja saya posting di akun facebook saya sehari sebelumnya. Postingan saya terkait dengan out of the box thinking. Pemikiran yang luar biasa. Memang lain daripada yang biasa. Itu sekarang terjadi pada jajaran kabinet II Presiden Joko Widodo. Akan sangat unik dan mengagumkan jika ada cerita proses pengerucutan mulai dari proses awal sampai lahirnya menteri muda ini.

Yang jelas, pasti melalui proses yang sangat pelik. Mengingat, dia bukan orang partai. Dia juga tidak banyak berkecimpung dalam politik; tidak banyak bergaung dalam percaturan dunia politik. Intinya, dia terkenal sebagai CEO baik level nasional maupun global. Dia sangat dikenal dunia bisnis akhir-akhir ini:Futurist termuda Indonesia. Bukan dunia pendidikan. Terpilihnya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan sungguh hebat: Out of the box.

Tidak semua publik menduga. Itulah, mungkin yang bisa dikatakan sebagai out of the box. Saya salut, dengan menteri muda ini karena dia masih memuja dua menteri sebelumnya. Dia mengakui ada banyak terobosan yang dilakukan oleh Mendikbud Prof. Muhadjir Effendi dan Menristekdikti Prof.

Mohammad Nasir. Namun, Nadiem Makarim pun mengakui selama 20-30 tahun terakhir. Secara komprehensif, tidak begitu banyak perkembangan dunia pendidikan.
Sebelum bekerja, ada yang perlu saya catat untuk Pak Nadiem Makarim. Ada dua hal yang sangat krusial dalam dunia pendidikan:Vokasional dan Akademis. Ini yang perlu dipikirkan ke depan oleh mendikbud Nadiem Makarim. Ada dilema dalam pengelolaan pendidikan utamanya pendidikan tinggi.

Dalam Asia Summit di Singapore pada 2015, pakar dunia berdebat sekitar pendidikan tinggi. Tampaknya ada dilema. Pertama, dunia pendidikan dikelola untuk menyediakan tenaga kerja. Kedua, dunia pendidikan dikelola untuk mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang pertama itu kajian vokasional sedangkan yang kedua itu kajian akademis ilmiah.

Jika yang pertama, maka semua sistem pendidikan nasional harus merujuk pada apa yang disebut kompetensi. Ini kemudian ditambah dengan karakter, seperti yang disebut oleh menteri muda dalam wawancara di sebuah media. Jika ini yang digarap, maka kita tidak meragukan kapasitas menteri muda cemerlang kualitas dunia ini. Dia sudah menyulap dunia pekerja daring dengan berteknologiria dengan hasil nyata dalam bentuk sebutan uang. Vokasional berpijak pada kompetensi terapan dan pragmatis.

Nadiem Makarin menyadari tentang kondisi pendidikan selama ini. Dalam pengakuannya sendiri, bahwa dia lebih tahu?meskipun itu belum tentu dia tahu. Dia tahu tentang masa depan. Prediksi masa depan. Dia tahu pendidikan ini bergantung dari generasi mudanya. Dia berpikir, bahwa tantangan yang makin berat ini memerlukan terobosan. Sekali lagi, out of the box. Dalam penyiapan tenaga kerja, dia sudah memperkerjakan secara online banyak pekerja. Banyak yang diuntungkan oleh kiat strategi inovasi pemikirannya. Dan terbukti dunia secara global menyaksikannya: Hebat.

Jadi, intinya, dia tidak diragukan jika pendidikan diarahkan untuk penyediaan tenaga kerja. Dengan kata lain, dia akan menyiapkan para pelajar dan mahasiswa untuk siap bekerja. Sistem dalam dunia bisnis sudah dibuktikan. Proses pembelajaran berteknologiria. Mulai dari transportasi daring, pengiriman barang daring, pengiriman makanan daring, dan bahkan tukang pijat, serta berbagai kegiatan bisnis daring lainnya. Seakali lagi, ini vokasional sebuah satu sisi pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, teori banyak. Namun, dalam praktik sedikit. Teori bekerja sudah banyak diajarkan dalam dunia pendidikan. Teori apa saja sudah banyak kurikulumnya. Namun, sampai 20-30 tahun terakhir, dia menyatakan belum ada perkembangan yang signifikan. Mudah-mudahan ini tetap dijalankan agar tidak terjadi banyak pengangguran yang mengerikan. Jadi, inilah yang bisa dijadikan setidaknya alasan agar dia menjadi orang nomor satu di jajaran pendidikan. Maka pendidikan akan terjebak pada pragmatisme.

Di balik itu semua, kita kembali pada materi debat di Asia Summit di Singapore 2015. Dilema pendidikan terjadi. Jika pendidikan melulu pragmatis semua, dunia pendidikan dikhawatirkan akan meningglkan sisi lain. Pendidikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan yang menggunakan disiplin tersendiri juga memerlukan strategi berbeda. Ini bukan strategi pragmatis. Strategi pendalaman dan penggalian keilmuan. Ini memerlukan daya pemikiran yang lebih idealis bukan prakmatis.
Misalnya, dalam ilmu-ilmu sosial. Tidak semuanya ilmu-ilmu sosial itu berdampak akhir berupa kompetensi bekerja seperti produk jadi.

Kemudian, didapat uang secara besar-besaran. Melainkan berupa disiplin ilmu dengan berbagai teori sehingga diperoleh hasil teori yang lebih baru. Dalam dunia filsafat, yang terjadi justru pemikiran-pemikiran cerdas, penggalian disiplin ilmu. Inilah sisi kedua dari dunia pendidikan, yaitu akademis. Bukan vokasional. Penggalian ilmu secara ilmiah murni. Inilah yang dilakukan oleh para peneliti: science and technology development.

Yang penting, seberapa porsi dunia pendidikan diarahkan ke vokasional? Berapa porsi pendidikan diarahkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan (akademis)? Inilah tantangan besar untuk menteri pedidikan dan kebudayaan yang baru kabinet II Republik Indonesia. Mohon dipisahkan Antara vokasional dan akademis.

Kalau vokasional, Bapak Nadiem Makarin sudah teruji kelas dunia. Sebab, dia sudah mencerdaskan sekalaigus memberdayakan para premotor, sopir, tukang pijat, bahkan tukang cuci. Dalam sekala nasional dan global. Mereka melek teknologi terapan dan berhasil dalam bentuk pendapatan: income. Namun, ada sisi lain Pak Nadiem, yaitu pengembangan sisi akademis disiplin ilmu yang mendalam dalam kajian secara teoritis dan filosofis. Sealamat bekerja Pak Nadiem Makarim. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here