Pembelajaran Terpadu Lab Bahasa Inggris

0
1707
(Foto: Grup Presentasi dan Dosen Mengamati sambil Mencatat Language Mistakes).

Pemberlajaran kelas bahasa asing—bahasa Inggris—di STIE Perbanas Surabaya dikemas dalam matakuliah Laboratorium Bahasa Inggris (Lab Bahasa Inggris) untuk mahasiswa semester 1. Dalam kegiatan di kelas, proses belajar mengajar (PBM) dipadukan dengan materi Mendengarkan (Listening). Berikut adalah kelas Lab Bahasa Inggris dengan pembelajaran terpadu semester ini.

Language Function dalam PBM ini berupa Debating: Arguing and Rejecting, Disagreeing and Agreeing.

Khusus semester ini, saya memeroleh kelas Lab Bahasa Inggris semester 1. Dalam PBM ini, diperlukan kreativitas memadukan materi Listening dengan Speaking. Contoh yang saya pandu ini adalah Listening dengan Topik “Campany Strategies.”

Pada sesi Listening (90 menit), semua mahasiswa mendengarkan sebuah diskusi yang terjadi dalam sebuah perusahaan di dalam rekaman. Diskusi ini terdiri ari beberapa manajer: Research and Development (R7D), Marketing, Production, HRD, Management and Services, Sales, dan General Administration. Semua manajer dalam diskusi ini saling menyampaikan strategi mereka masing-masing.

Misalnya saja, Production Manager, mengusulkan adanya pemasangan mesin perakitan otomatis (automatic assembly line). Dia beralasan bahwa dengan memasang automatic assembly Line Machine, dia bisa memperbanyak produksi. Pada akhirnya, dia bisa mengurangi biaya per unit.

Kemudian, manajer Research and Development department mengususlkan adanya peluncuran produk dan menguji product prototype. Dengan usulan itu, dia bisa memberikan para pelanggan baru terkait dengan produk barunya. Dengan demikian, perusahaan bisa memeroleh pangsa pasar (market share) baru. Termasuk dengan upgrade produk.

Intinya, semua manajer itu memiliki usulan strategi merek masing-masing. Namun, usulan strategi itu harus disertai alasannya yang logis dan praktis. Pada saat diskusi itu, seorang pemimpin diskusi memberikan keputusan berdasarkan kelebihan dan kelemahan dari setiap strategi yang diusulkan manajer masing-masing.

Misalnya, ada manajer yang mengusulkan outsourcing sebagian produksinya. Namun, usulan itu memiliki kelemahan karena akan terjadi pengurangan tenaga kerja. Dengan begitu, perusahaan harus me-PHK sebagian besar karyawannya. Bahkan ada yang mengusulkan kenaikan profit margin.

Namun, dampak dari kenaikan profit margindiperkirakan akan menurunkan pangsa pasar karena harga produk naik.
Begitulah cerita dalam PBM listening. Agar terpadu, maka pada saat PBM Speaking, kita harus memberikan tugas kelompok untuk didiskusikan mirip dengan topik Listeningtersebut.

Kemudian, untuk kegiatan Speaking (berbicara), mahasiswa diberi tugas kelompok untuk memerankan semua posisi yang ada seperti dalam cerita. Hasilnya dipresentasikan di depan kelas untuk minggu berikutnya. Mengapa satu minggu? Ini agar mereka bisa membuat improvisasi. Jadi, hasilnya tidak mirip persis seperti pada dialog.

Ternyata, ini berjalan dengan lebih menakjubkan. Rata-rata masing-masing grup yang terdiri dari 5 anggota, memiliki ide berbeda-beda. Misalnya, ketika seorang manajer keuangan memiliki ide strategi menurunkan harga, banyak di antara anggota termasuk pemimpin diskusi saling memberikan argumen dan diperdebatkan.

Hasilnya, berupa percakapan dalam bentuk diskusi dengan menerapkan language function of Arguing and Rejecting, agreeing dan disagreeing. Di sini, mahasiswa berkembang dalam kosakata (vocabulary) dan pola kalimat (sentence pattern) tidak hanya if conditional saja seperti dalam materi Listening, mereka bisa describing and explaining.

Perlu diketahui, jumlah anggota grup masing-masing 5 orang. Dan, jika terdapat jumlah kelas yang genap, misalnya 24 dalam kelas, maka ada satu grup yang hanya terdiri dari 4 orang. Namun, posisinya jumlah manajer menyesuaikan jumlah anggota. Itu tidak ada masalah selama mereka menyampaikan pendapat berbeda dan didiskusikan di depan kelas.

Agar setiap grup yang lain— yang belum dan sudah presentasi— itu tetap mendengarkan, maka dosen harus memberi pertanyaan kepada mereka juga tentang apa yang dipresentasikan oleh rgup yang di depan itu.

Perlu diketahui juga, setiap presentasi, dosen tetap mengamati dan mencatat kosakata dan ucapan serta pola kalimat yang keliru. Ini dibahas setelah semua grup selesai presentasi. Tidak boleh dikritik saat itu pula ketika mereka sedang mempresentasikan. Ini untuk menghindari patah semangat (discouraged). Selamat mencoba. Tugas dosen memberikan semangat dan inspirasi bukan mematikan semangat dengan kritikan langsung saat berbicara.

(Artikel ini ditulis oleh Dr. Djuwari, M.Hum, dosen pengajar matakuliah Lab Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya, dan merupakan pengalaman dalam kelasnya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here