BPBD Kabupaten Lumajang Menghimbau Kepada Masyarakat Jangan Percaya Dengan Konten Di Medsos

0
52

Lumajang, IP. News, Beredarnya sejumlah konten di media sosial dan platform berbagi video yang menyebut Gunung Semeru mengalami “letusan dahsyat”, memicu kepanikan hingga puluhan kilometer, bahkan dikaitkan dengan banjir lahar dan kerusakan permukiman, mendapat perhatian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang. Masyarakat diminta lebih bijak dalam menyikapi informasi kebencanaan dan selalu merujuk pada sumber resmi.

Berdasarkan hasil penelusuran terhadap laporan aktivitas Gunung Semeru yang diterbitkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), informasi yang beredar tersebut tidak sesuai dengan data resmi hasil pemantauan aktivitas gunung api periode 10–11 Juni 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait kebencanaan yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru sebaiknya mengacu pada sumber resmi yang dikeluarkan PVMBG, Badan Geologi, BPBD, BNPB, maupun pemerintah daerah. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada dan mengikuti rekomendasi yang berlaku,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).

Berdasarkan laporan PVMBG pada periode pengamatan 10 Juni 2026 pukul 06.00–12.00 WIB, Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga. Secara visual, petugas mencatat tujuh kali letusan dengan tinggi kolom abu berkisar antara 500 hingga 1.000 meter di atas puncak.

Sementara itu, pada periode pengamatan 11 Juni 2026 pukul 00.00–06.00 WIB, teramati dua kali letusan dengan tinggi kolom abu sekitar 500 hingga 600 meter di atas puncak gunung.

Dalam laporan resmi tersebut juga tidak terdapat informasi mengenai kejadian luar biasa seperti banjir lahar besar, kerusakan permukiman, maupun peningkatan status aktivitas Gunung Semeru. Pada bagian keterangan lain, PVMBG bahkan mencatat “nihil” atau tidak terdapat informasi tambahan terkait kejadian yang menonjol

Meski demikian, masyarakat tetap diminta mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan PVMBG. Warga tidak diperkenankan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas guguran, aliran lava, serta lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di Gunung Semeru.

Menurut Isnugroho, kemampuan masyarakat dalam memilah informasi menjadi bagian penting dari upaya mitigasi bencana. Informasi yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, kepanikan, dan mengganggu efektivitas penanganan bencana.

“Di era digital saat ini, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya. Informasi yang benar akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat, sedangkan informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan keresahan,” katanya.

BPBD Kabupaten Lumajang mengajak masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Semeru melalui kanal resmi PVMBG, Badan Geologi, BPBD, BNPB, maupun pemerintah daerah.

Sikap tenang, waspada, dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terkonfirmasi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana. Melalui pemahaman yang benar terhadap informasi kebencanaan, masyarakat diharapkan semakin cerdas dalam memilah informasi sehingga upaya mitigasi bencana dapat berjalan lebih efektif, tepat, dan kondusif.(N)


Kirim dari Fast Notepad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here