
Lumajang, IP. News, Pemerintah Kabupaten Lumajang memperkuat pengendalian hama wereng batang coklat (WBC) melalui Gerakan Pengendalian (GERDAL) yang menitikberatkan pada intervensi teknis berbasis data, respons cepat di lapangan, serta kolaborasi aktif antara petani dan petugas. Langkah ini menjadi strategi kunci untuk menjaga stabilitas produksi pertanian di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Karangsari, Kecamatan Sukodono, Jumat (1/5/2026), merupakan bagian dari pengendalian terpadu yang telah diawali dengan penyemprotan pestisida pada lahan seluas 40 hektare. Intervensi tersebut dilakukan berdasarkan hasil pengamatan lapangan terhadap potensi sebaran WBC, sehingga pengendalian tidak bersifat reaktif, melainkan terarah dan terukur.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Lumajang, Waspodo Budi, menegaskan bahwa efektivitas pengendalian sangat ditentukan oleh kecepatan deteksi dan konsistensi tindakan di lapangan.
“Pengendalian tidak bisa menunggu serangan meluas. Kuncinya ada pada monitoring intensif, identifikasi dini, dan GERDAL yang dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perubahan pola cuaca mempercepat siklus perkembangan hama, sehingga meningkatkan risiko ledakan populasi WBC dalam waktu singkat. Kondisi ini menuntut sistem pengendalian yang adaptif, berbasis data, serta didukung keterlibatan aktif petani sebagai garda terdepan.
Dalam konteks tersebut, pendekatan kolaboratif menjadi faktor penentu. Keterbatasan jumlah petugas POPT yang harus menjangkau wilayah luas direspons dengan penguatan peran kelompok tani dalam pengamatan dan pelaporan dini, sehingga respons pengendalian dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Di sisi lain, kegiatan ini juga melibatkan unsur tokoh agama dan masyarakat melalui doa bersama. Pendekatan ini diposisikan sebagai penguat kebersamaan dan ketahanan mental petani dalam menghadapi risiko gagal panen, tanpa menggantikan peran utama metode teknis dalam pengendalian hama.
Tokoh Agama Kabupaten Lumajang As’ad Malik menyampaikan bahwa keberhasilan pertanian membutuhkan ikhtiar yang utuh, dengan tetap menempatkan langkah teknis sebagai prioritas utama.
“Pengendalian tetap bertumpu pada langkah teknis yang terukur. Sementara kebersamaan dan doa menjadi penguat semangat agar petani tetap optimistis dan solid,” ujarnya.
Ketua Perkumpulan Petani Pangan Nasional (P3NA) Jawa Timur, Iskhak Subagio, menilai model pengendalian ini sebagai praktik baik karena mengintegrasikan pendekatan teknis dengan penguatan kapasitas sosial petani.
“Yang dibutuhkan petani adalah respons cepat, pendampingan nyata, dan sistem yang membuat mereka tidak bekerja sendiri. Kolaborasi ini menjadi kunci,” tegasnya.
Melalui penguatan GERDAL berbasis data dan kolaborasi, Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan komitmennya dalam membangun sistem pengendalian hama yang lebih responsif dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya menekan risiko serangan WBC, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah melalui peningkatan kesiapsiagaan petani di tingkat lapangan.
Dengan strategi yang terintegrasi, Lumajang menempatkan pengendalian hama sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian secara sistemik, sekaligus memastikan sektor pangan tetap tangguh menghadapi dinamika perubahan iklim. (N)
—
Kirim dari Fast Notepad














